Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#61


__ADS_3

Pak Liam dan Bibi Gail hanya duduk di kursi menonton mereka saja karena merasa permainan ini sudah tidak cocok untuk umur mereka.


Permainan pun di mulai. Sekretaris Han memutar bollpoint nya. Semua orang terlihat fokus dengan putaran itu. Dalam hati mereka berdoa semoga bukan mereka yang tertunjuk, karena mereka takut aib masing-masing terbongkar karena permainan ini.


Dan putaran pertama berhenti ke arah Jonathan.


"Hahaha ... mampus kau, Jonathan!" olok Sergio.


Jonathan hanya menghela nafas.


"Baik, siapa yang mau bertanya?" tanya sekretaris Han.


"Aku ... aku."


"Aku ... aku."


"Aku ..."


Athes and geng saling mengangkat tangan nya dengan semangat.


"Kau." Tunjuk sekretaris Han kepada Samuel.


Samuel tersenyum senang dan menatap Jonathan.


"Jawab jujur. Kasur yang basah minggu lalu karena kau pipis di celana, iya kan?"


Yang lain menatap menunggu jawaban.


"Simpan tanganmu di atas alat pendeteksi itu, Jonathan." Sekretaris Han menyuruh Jonathan.


"Tidak, bukan aku."


Mereka kini beralih menatap alat pendeteksi itu dan.


Tidak


"Haaahhhh ... kau bohong Jonathan!" Sergio menunjuk Jonathan.


"Memang benar bukan aku, itu karena air yang tumpah," ucap Jonathan panik.


"Aku yakin alat ini rusak." Jonathan menggoyang-goyangkan alat itu.

__ADS_1


"Alat itu masih baru," ujar Sekretaris Han.


"Kau sudah sebesar itu masih pipis di celana." Philip ikut mengolok.


"Aku akan memberimu pampers kalau begitu." Thomas ikut bersuara yang disambut tawaan keras dari yang lain.


Sementara Jonathan hanya menekuk wajahnya kesal. Sky terlihat ikut tertawa dengan tangan menggandeng lengan Javier.


Athes membawa piring berisi paha ayam.


"Silahkan makan ..."


"Tunggu-tunggu. Aku akan menambahkan saus sambal nya." Nicholas menambahkan saus sambal lebih banyak membuat Jonathan membulatkan mata seketika.


"Hentikan sial*n!!" Jonathan berusaha mengambil botol saus itu.


Mereka tertawa dan berakhir bertepuk tangan menyemangati Jonathan.


"Makan Jojon ... makan ... makan."


"Makan ... makan ..."


Jonathan menghela nafas lalu mengambil paha ayam itu dan memakannya. Sedetik kemudian ia mengambil orange jus dan meneguk nya dengan cepat. Mereka kembali tertawa.


Sementara Athes dan Samuel berhasil lolos. Thomas dan sekretaris Han pun lolos hanya Philip yang gagal.


Dan kini mereka menunggu giliran Javier dan Sky.


Sekretaris Han kembali memutar bollpoint. Ia menatap Javier. Putaran ini harus berakhir mengarah ke wajah Javier.


Dan akhirnya ... tepat sasaran.


Semua orang menoleh ke arah Javier. Begitu juga dengan Sky. Sekretaris Han tersenyum miring.


"Aku yang akan bertanya duluan."


Javier dan sekretaris Han saling memandang serius.


"Aku ingin tahu ... apa kau sudah menutup masa lalu mu itu, Tuan?"


Javier tersenyum miring dengan pertanyaan Sekretaris Han. Dari awal sekretaris pribadinya itu membuat permainan ini, ia tahu kalau sebenarnya permainan ini di tunjukan untuknya.

__ADS_1


Sekretaris Han ingin tahu apa Javier sudah melupakan Zivania atau belum. Ia melihat Sky yang sudah membuka hati untuk Javier apalagi di mall mereka sempat berciuman dan Sky tidak memberontak sama sekali.


Sekretaris Han harus bertanggung jawab karena dialah yang menyuruh Sky untuk mencoba membuka hati untuk Javier. Kalau sampai Tuan nya ini menyakiti Sky maka sekretaris Han lah yang akan merasa bersalah.


Semua orang menatap Javier menunggu jawaban sementara Sky menatap Javier dan Sekretaris Han bingung.


"Bukankah kau tidak seharusnya mencampuri urusanku?"


"Ini hanya permainan, Tuan. Dan kau berhak menjawabnya ketika ikut bergabung di permainan ini."


Mereka masih menatap serius satu sama lain membuat yang lain saling menatap bingung.


"Tidak perlu takut, Han. Aku sudah menutupnya," sahut Javier lalu menyimpan di alat pendeteksi kejujuran itu dan.


Jujur.


Alat itu berkata jujur untuk jawaban Javier. Javier tersenyum miring ke arah sekretaris Han.


Lalu ia mengalihkan pandangan nya ke arah Sky.


"Giliranmu, Sky."


"Aku yang akan mulai bertanya duluan," lanjut Javier lalu melempar alat pendeteksi itu dan untungnya Athes berhasil menangkapnya.


"Apa kau mencintaiku?"


Mereka semua membulatkan mata dengan pertanyaan Javier. Sementara Sky terlihat bingung dan gugup. Kenapa pertanyaan seperti itu harus di tanyakan ketika banyak orang seperti ini.


"Aku tidak membutuhkan alat pendeteksi itu, aku bisa melihat kejujuran dari matamu." Javier menatap bola mata istrinya.


"A-aku ..." Sky menjawab terbata-bata, ia sempat melihat ke arah yang lain. Mereka menatap lekat dirinya menunggu jawaban.


Lalu Sky kembali menatap Javier. "Aku mencintaimu."


Javier membinar dengan senyuman di wajahnya ia menarik ceruk leher istrinya dan menciumnya.


Sontak semua yang ada di taman bersorak senang dan bersiul. Mereka bertepuk tangan dengan jawaban Sky.


Permainan yang dibuat oleh Sekretaris Han membuat Sky akhirnya mengakui perasaan yang sebenarnya untuk Javier.


Kini Sky tidak berusaha berjuang untuk belajar mencintai Javier karena perjuangan itu digantikan oleh perjuangan yang lain.

__ADS_1


Yaitu bagaimana caranya agar mereka sama-sama berjuang untuk kebahagiaan pernikahan yang akan mereka lewati di hari-hari selanjutnya.


Bersambung


__ADS_2