
"Jonathan aku takut." Tubuh Sky bergetar hebat seraya berjongkok dengan menutupi kedua telinganya mendengar suara tembakan yang saling bertautan entah dimana.
"Nyonya... Percayalah. Kita semua akan baik baik saja."
Mereka masih berada di tangga darurat lantai tiga.
"Ayo nyonya... satu lantai lagi..." Jonathan berusaha membantu Sky berdiri tapi ada suara tembakan yang lebih keras terdengar tiba tiba.
"Aaaaaaaa...." Sky menjerit, Jonathan segera menutup mulut Sky agar tidak terdengar oleh pria yang menyerang mereka.
"Nyonya... lihat aku... lihat..." Sky berusaha mendongak menatap Jonathan dengan keringat dingin memenuhi wajahnya dan tubuh yang masih gemetar.
"Nyonya kau percaya dengan tuan Javier bukan? Kau percaya tuan Javier akan menyelamatkan mu?"
"Ta-tapi.."
Jonathan menghela nafas berusaha keras untuk meyakinkan Sky kalau semua akan baik baik saja. Wajar saja Sky seperti ini, mendengar suara tembakan saja sekalipun dalam hidupnya ia tidak pernah.
"Nyonya kau harus percaya kekejaman suamimu... saking kejamnya ia hampir saja membunuh ayahmu nyonya... kau tahu itu bukan? Hal seperti ini sudah biasa baginya... ancaman tuan Javier tidak pernah main main."
Sky ingat, Liana sahabatnya pernah berkata kalau surat hukuman mati untuk ayahnya dari Javier bisa saja hanya ancaman omong kosong atau Javier hanya main main, karena Sky sendiri tidak pernah melihat langsung isi perjanjian ayah dan suaminya itu.
Tapi sekarang... ia percaya dengan Jonathan. Jonathan benar, Javier kejam. Hal seperti ini sudah biasa untuk Javier. Terlihat dari awal Sky melihat Javier begitu mudah menusuk pria asing di aula.
Sky akan meminta penjelasan kepada suaminya nanti setelah kondisi aman.
"Ayo nyonya..." Sky mengangguk perlahan berdiri dibantu Jonathan, karena tubuhnya sangat lemas.
Ia kembali menaiki anak tangga untuk ke lantai empat. Tapi setelah di depan pintu darurat.
"Si*l!!" Jonathan begitu marah, karena pintu darurat tidak bisa terbuka.
"Tidak ada cara lain Jonathan!" Thomas berbicara lewat earphone.
"Kau harus kembali ke lantai tiga untuk masuk ke lift!"
Jonathan menghembuskan nafas, hanya untuk naik ke lantai empat saja ia harus kembali ke lantai tiga tempat dimana para pria asing itu berada.
"Bagaimana bisa? bukankah lantai tiga tidak aman?"
"Sergio sedang membereskannya. Tunggu disitu, jangan bersuara!!" titah Thomas.
"Ada apa?!" Suara itu berasal dari Javier yang sedang terengah engah karena baru saja selesai menghabisi puluhan orang di aula.
Earphone mereka saling terhubung satu sama lain. Pembicaraan Thomas dan Jonathan tadi juga bisa di dengar oleh Javier dan yang lainnya.
"Tuan... nyonya Sky..."
"Ada apa dengan istriku, Jon?"
Jonathan segera melepaskan earphone nya dan memasangnya ke telinga Sky.
"Ja---Javier..." Sky berbicara terbata karena tubuhnya gemetar hebat dan juga ia hampir menangis.
"Sky... jangan menangis... Aku kesitu sekarang. Ikuti apa kata Jonathan oke?"
"Ta--tapi..."
__ADS_1
"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu..." Kalimat itu seperti energi baru untuk Sky. Entahlah, Sky belum benar benar mencintai Javier tapi kalimat itu begitu kuat menenangkan hatinya yang ketakutan.
Javier melirik ke arah sekretaris Han. "Aku ke lantai empat. Kau bantu yang lain, Han."
"Baik."
Javier berlari menjauhi aula dan tentu saja tidak mudah untuk datang menghampiri istrinya.
Karena baru saja memasuki lorong pertama sudah ada beberapa orang menghadang.
Di halaman hotel Athes dan Samuel berjibaku dengan beberapa orang.
Suara pukulan, tendangan bahkan tembakan saling bertautan satu sama lain.
Mereka hampir saja kewalahan karena mengurusi hampir tujuh orang pria asing.
Tapi sekarang hanya dua orang yang tersisa, karena yang lain sudah mati.
"Ath.. di belakangmu!!"
BUGH
Athes berbalik dengan sekali hentakan menendang pria asing itu tepat di lehernya.
Mereka saling menodongkan pistol satu sama lain. Athes bersama Samuel melawan dua pria asing yang masih bertahan walaupun Athes sempat menendang leher salah satu dari mereka.
"Aku yakin kalian masih ingin hidup, bukan?" ujar Athes.
"Kalian menembak kami. Kami juga punya waktu walaupun satu detik untuk menarik pelatuk ini. Jadi kita akan sama sama mati!!" lanjut Athes.
"Asalkan kami mendapatkan kepala Javier!!"
Samuel terkekeh mendengar nya. "Membunuh kami saja kalian belum tentu berhasil. Apalagi mengambil kepala tuan Javier!!"
Athes diam diam mendekati Samuel dengan masih menodongkan pistol ke arah mereka.
"Sam?" panggil Athes berbisik.
"Hm?"
"Kau tahu, sebenarnya pistol ku kehabisan peluru!!"
Samuel yang menatap tajam ke arah lawannya berusaha tidak terkejut.
"Kau bod*h!! Aku juga ingin mengatakan hal itu sial*n!! Peluruku juga habis!!" Samuel tak kalah berbisik.
Athes menghela nafas, ia berusaha tenang. Di situasi seperti ini terlihat panik membuat musuh mempunyai kesempatan membunuh.
...Teng... teng... tengg......
"Bubur ayam... bubur ayam..."
Semua orang menoleh ke arah suara dan
BUGH
BUGH
__ADS_1
DOR
DOR
Kedua musuh tersungkur ke tanah dengan nyawa yang sudah hilang.
Perlu diketahui, Aiden memanipulasi keadaan. Ia yang ditugaskan mencari seseorang di parkiran oleh sekretaris Han malah datang ke halaman hotel dengan mendorong gerobak bubur ayam dan juga penampilannya sangat berubah.
Tidak lagi memakai jas rapih, ia memakai topi, kaos abu dan celana gombrang. Di bahu nya ada handuk kecil untuk mengelap keringat.
Ketika ia berteriak bubur ayam, musuh menoleh ke belakang memberikan kesempatan Athes dan Samuel menendang punggung mereka sampai dua pistol lepas dari tangan mereka.
Dan itu juga memberikan kesempatan untuk Samuel dan Athes mengambil pistol lalu menembaki mereka brutal.
Mungkin dua pria asing itu heran bagaimana bisa keadaan sedang kacau balau ada penjual bubur ayam yang lewat, akhirnya mereka penasaran dan menoleh ke belakang tapi yang terjadi mereka malah mati.
Samuel dan Athes menghampiri Aiden.
"Untung saja kau datang tepat waktu," ucap Samuel.
"Dari mana kau mendapatkan gerobak ini?" kini Athes yang bertanya.
"Aku tidak mengerti, sekretaris Han menyuruhku menjaga parkiran. Tapi tidak ada siapapun disana, aku malah bertemu pria paruh baya penjual bubur ayam ini. Jadi aku meminjam baju dan gerobaknya saja."
Diseberang sana Thomas dan Philip saling berpandangan satu sama lain melihat di cctv Aiden yang berubah menjadi penjual bubur.
Mereka heran dan bingung. Ingin sekali Thomas bertanya kepada Javier, mengapa ia mempekerjakan manusia seperti Aiden.
"Hey kalian!!" Bentak Thomas di earphone nya.
"Cepat bantu yang lain sial*n!! Kenapa malah makan bubur!!"
Emosi Thomas memuncak kala di cctv melihat Athes, Samuel dan Aiden sedang menyendok bubur ke mangkuk.
Mereka bertiga pun berbalik dan menengadah ke atas mencari cari cctv. Dan setelah menemukan cctv yang tak jauh dari sana mereka melambaikan tangan.
"Hallo Thomas, Philip." Mereka dengan polos melambaikan tangan seraya memperlihatkan senyuman bodohnya.
"Jangan khawatir, yang lain pasti bisa mengatasinya sendiri hehehe," jawab Aiden cengengesan.
"Kami butuh tenaga karena energi kami sudah habis." Kini Samuel yang berkomentar dengan masih tersenyum dan melambaikan tangan ke cctv.
"Siapa yang makan bubur?!!" tanya Javier di sela sela memborbardir musuh dengan pukulannya.
"Anak buah gilamu," jawab Philip.
"Sial*n!! cepat masuk ke hotel, bantu yang lain!! aku harus menemui istriku!!"
BUGH
Terdengar pukulan dari earphone Athes dan yang lain. Sepertinya itu pukulan terakhir tuannya untuk musuh.
Nafas Javier terengah engah, antara lelah, kesal, marah bercampur menjadi satu. Keringat memenuhi pelipisnya. Dan di saat kelelahan seperti itu tiga anak buahnya malah sibuk makan bubur. Gila.
*Bersambung......
(maaf gabisa nulis serius kalau ada Athes and the geng.. karena aku harus selalu memperlihatkan karakter mereka yang suka main main dan sedikit aneh) 😌*
__ADS_1