Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#183


__ADS_3

Malam hari mereka baru sampai di Negara M. Di bandara ke empat bocil itu bermain-main dengan koper kecilnya, mereka mendorongnya kesana-kemari seraya tertawa.


"Tessa ..." panggil Thomas.


Tessa menoleh dengan mata bulatnya. "Iya, Dad?"


Thomas menggendong Tessa. "Kita tidak pulang ke rumah Max.''


Wajah Tessa tiba-tiba berubah menjadi sendu. "Kenapa, Dad?"


"Kita pulang ke rumah kita sendiri," sahut Thomas.


Maxime pun mendekati Thomas dan menarik-narik ujung bajunya.


"Pulang ke rumahku saja Daddy Thom, Daddy ku bilang, rumahku besar," ucap Maxime yang tidak terima berpisah dengan Tessa.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin pergi dari mansionku?" tanya Javier.


"Aku sudah punya istri dan anak, sebaiknya kami tinggal di rumah kami sendiri," tutur Thomas.


"Kalau kau mau pergi seharusnya dari dulu, bukan ketika empat bocil ini sudah bersahabat," sambung Sekretaris Han.


"Thomas benar, kami tidak bisa terus-menerus merepotkanmu, Javier." Kini Liana ikut berkomentar.


"Kami sudah tinggal terlalu lama di mansion grandpa Xander juga," lanjut Liana.


"Tinggal bersama menyenangkan, bukan?" ucap Sky.


"Kenapa jadi berdebat masalah pulang," bisik Samuel kepada Jonathan.


"Maxime, Miwa dan Arsen pasti sedih kalau Tessa pergi," ucap Xander.

__ADS_1


"Yaa Daddy Thom, kembalikan Tessa, jangan gendong Tessa, jangan bawa dia pergi," ucap Maxime seraya menarik-narik ujung baju Thomas dengan cemberut.


Arsen dan Miwa pun berlari dan ikut menarik-narik ujung baju Thomas dengan tatapan memelas.


Thomas menghela nafas. "Baiklah, kita pulang ke rumah Max, oke."


Ketiga bocil itu melompat-lompat girang dan Thomas menoleh ke arah Liana, meminta pengertian. Liana pun hanya bisa mengangguk dengan keputusan Thomas.


Mereka semua masuk ke mobil masing-masing melakukan perjalanan ke mansion Javier.


Ancaman dari Mudork tidak membuat mereka takut, mereka justru menanti kedatangan si pria tua itu. Karena lambat laun mereka akan kembali menyerang Mudork untuk membunuh si Kakek Tua itu.


Bahkan Javier berencana untuk mengurung ke empat bocil itu di mansion nya untuk sementara waktu. Bahkan Max dan Miwa tidak bisa sekolah dulu sebelum pemimpin mudork mati.


Sesampainya di mansion, keempat bocil itu mengedarkan pandangan nya ke luasnya mansion Javier dengan mulut terbuka, tidak menyangka Ayahnya mempunyai mansion yang besar.


Pak Liam dan Bibi Gail serta beberapa pelayan sudah menyambutnya di depan teras. Mereka saling menyikut dengan kehadiran Maxime, Miwa, Arsen dan Tessa.


"Tuan muda Maxime yang mana?" bisik pelayan di belakang Pak Liam dan Bibi Gail.


"Itu mungkin," menunjuk Arsen dengan dagu nya.


"Ah sepertinya yang itu. Lebih mirip Tuan Javier," sahut perempuan di sebelahnya dengan melihat ke arah Maxime.


Pak Liam, Bibi Gail dan para pelayan membungkukan badan ketika mereka berada di depan nya.


"Apa kabar?" tanya Javier.


"Kami baik, Tuan." sahut Pak Liam.


Ke empat bocil itu tak bisa lagi menahan rasa penasaran nya dengan mansion Javier, mereka lari ke dalam mansion seraya berteriak.

__ADS_1


"Wooouwww ... woouuwww ..."


Mereka meloncat-loncat, berlari kesana-kemari sampai menaiki sofa seraya meloncat-loncat di sana.


Mereka membuka semua ruangan yang ada di sana. Mereka masuk dari kamar satu ke kamar yang lain hanya ingin melihat suasana setiap kamar yang berbeda.


Athes and the geng pergi ke ruang bawah tanah, mereka sudah merindukan para pelayang yang sering mereka goda dulu.


Sementara Keenan duduk di sofa seraya bersiul santai dan matanya terus melihat segala isi penjuru mansion Javier, ini kali pertama ia datang ke mansion Javier.


Dan Philip memilih ke taman mencoba mengecek keadaan Momo yang dia titipkan ke para penjaga di mansion.


Thomas, Liana, Sekretaris Han, Kara dan Sky juga ikut duduk di sofa bersama Keenan. Mereka sedang bersantai menghilangkan rasa penatnya selepas perjalanan panjang.


Xander lebih memilih berbincang dengan pak Liam.


Dan Javier membawa keempat bocil itu ke sebuah kamar yang sudah di persiapkan oleh Pak Liam.


Mereka begitu girangnya ketika di beritahu mempunyai kamar sendiri.


Kamar yang di desain khusus untuk bocil-bocil ini berwarna biru, ada banyak mainan tersusun rapih, ini kamar mereka berempat. Sekarang mereka berempat tidur bersama dan para orang tua bebas dari gangguan anaknya ketika hendak olahraga malam.


"Wooaahh ini kamar kita Daddy?" tanya Maxime.


"Ya, ini kamar kalian," sahut Javier.


"Aku bisa tidur dengan Max sekarang?" ucap Arsen.


"Arsen tidur dengan Max dan Tessa tidur dengan Miwa, oke."


"Yeeayyyyy ..." Mereka bersorak gembira sampai saling memeluk satu sama lain dan tak lupa meloncat-loncat sebagai tanda kegembiraan yang begitu tinggi.

__ADS_1


Maxime tertegun melihat persahabatan empat bocil itu, ia tersenyum lalu menutup pintu membiarkan mereka berempat bermain-main di kamar barunya.


Bersambung


__ADS_2