Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#70


__ADS_3

"Apa menurutmu dia masih mencintai, Zivania?"


"Dia adalah orang yang paling Javier cintai."


"Tapi itu dulu ... kalau sekarang dia masih mencintai Zivania bukan kah seharusnya Javier bersikap baik dengan perempuan itu kemarin? Tapi lihatlah kemarin, dia bahkan berani mencium mu di depan Zivania."


Sky mengigit bibir bawahnya merasa bersalah karena pertengkaran nya semalam.


"Dia sangat ingin punya anak." Sky menoleh dengan ucapan Sekretaris Han.


"Dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi Tuan Ataric, Ayahnya. Dia ingin merasakan perasaan menjadi seorang Ayah."


Sky mengingat hari dimana Javier merengek meminta Baby Serangga. Jadi permintaan Javier bukan hanya sekedar main-main saat itu.


"Katakan saja apa yang kau rasakan, Nyonya. Marah, kesal, kecewa katakan saja kepadanya. Dia lebih suka seperti itu dari pada bertengkar tanpa alasan yang jelas."


Sekretaris Han tersenyum sesaat lalu hendak pergi meninggalkan Sky tapi gadis itu kembali memanggilnya.


"Sekretaris Han?"


Sekretaris Han menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Jangan bersikap sopan denganku lagi. Kau bisa menganggap ku adikmu."


Sekretaris Han tak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya berkaca-kaca dengan kalimat itu, sebenarnya Sekretaris Han memang sudah menganggap Sky seperti adiknya yang sudah meninggal.


Sikap Sky sangat lah mirip dengan Alin, adiknya. Itulah alasan kenapa Sekretaris Han meminta Sky membuka hatinya untuk Javier karena Sekretaris Han ingin Sky tetap tinggal di mansion ini. Setidaknya gadis itu bisa mengobati kerinduan nya terhadap mendiang adiknya.


"Terimakasih, Nyonya."


"Sky ... panggil aku Sky."


Sekretaris Han tersenyum. "Baik, Sky."


Kemudian Sekretaris Han pergi dan lagi ucapan Sky membuatnya kembali terhenti.


"Bye kak Han-Han." Sky melambaikan tangan ke arahnya dengan berteriak.


Bye kak Han-Han. Alin sekolah dulu, ya.


Kak Han-Han, Alin lapar.

__ADS_1


Kak Han-Han jangan tinggalin Alin sendiri.


Sekretaris Han menghela nafas, matanya berkaca-kaca. Hanya Alin, hanya Alin yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dan sekarang ia mendengar Sky memanggilnya.


Dada nya terasa sesak mengingat kembali adiknya yang sudah tiada. Ia pikir tidak akan ada orang yang memanggilnya dengan sebutan itu lagi.


Sekretaris Han menghapus air matanya lalu berbalik.


"Bye, Sky."


Mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya Sekretaris Han benar-benar pergi.


Sudah pukul tujuh malam Javier masih saja belum kembali. Ponsel nya juga masih belum aktif, Sky sempat menelpon Sekretaris Han tapi pria itu hanya meminta Sky untuk menunggu.


Sky keluar dari kamar, ia turun ke bawah untuk mengambil minum.


"Mau makan malam, Nyonya?" tanya Pak Liam.


"Tidak, Pak Liam."


"Tapi dari pagi Nyonya belum makan."


"Aku tidak lapar, Pak Liam." Sahut Sky dengan tersenyum.


"Kak Han-Han."


Sekretaris Han menoleh.


"Apa itu Javier?" tanya nya pelan.


Sekretaris Han mengangguk.


"Boleh aku bicara?"


Sekretaris Han sempat ragu untuk memberikan ponsel nya kepada Sky mengingat mereka berdua belum berbaikan. Tapi mau bagaimana lagi menolak Sky di depannya juga tidak mungkin.


"Ambil berkasku di laci kedua dan--"


"Javier ..." panggil Sky.


"Sky ..."

__ADS_1


Sky tersenyum karena mendengar suara suaminya lagi.


"Kenapa tidak pulang?"


"Banyak pekerjaan di sini."


"Kapan pulang?"


"Aku tidak tahu."


Sky mengigit bibir bawahnya. Kenapa Javier jadi sedingin ini sekarang.


"Eumm ... baiklah. Jangan lupa makan."


"Iya. Kau juga."


Sky memberikan ponsel nya kembali ke Sekretaris Han. Pria itu menepuk pundak Sky.


"Sabarlah ... dia pasti pulang."


Sky hanya mengangguk. Walaupun perasaan nya sakit mendengar Javier yang berubah seperti itu.


Tidak ada yang dia lakukan, dia tidak makan dari pagi walaupun Pak Liam dan Sekretaris Han memaksanya. Dia hanya merebahkan dirinya di ranjang menunggu ke pulangan Javier sampai tak sadar Sky pun akhirnya tertidur.


Pagi pun tiba. Seperti biasa ketika membuka mata Javier tidak ada di sampingnya. Sky menghela nafas berat, mau bagaimana lagi ini salahnya.


Hanya karena meragukan perasaan Javier mereka bertengkar dan berakhir seperti sekarang.


Sky tidak beranjak dari ranjangnya karena merasa tubuhnya begitu lemas. Ia tidak makan seharian dari kemarin tapi menyentuh makanan juga tidak mau.


Bibi Gail mengetuk pintu kamar Sky dan memanggilnya. Karena tidak ada jawaban akhirnya Bibi Gail membuka pintu kamar.


"Astagaa Nyonya!!"


Bibi Gail berteriak kala melihat Sky mengigil, ia memegang keningnya. Dan Sky demam tinggi pagi ini.


Bibi Gail menyuruh pelayan untuk membawa kompresan. Sementara dirinya menelpon Javier menggunakan telpon rumah yang terhubung dengan telpon kantor.


Sky masih mengigil, memeluk tubuhnya sendiri dengan mata tertutup


"Tuan ... nyonya sakit."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2