
Xander membawa payung sedikit berlari menghampiri putrinya.
"Astaga Sky ... ayo masuk. Kau tidak mau anakmu sakit, bukan."
Sky mengambil payung itu dan melemparnya sembarangan.
"Tenang, Dad ... anak ku tidak akan sakit, mereka tidak kehujanan. Perutku melindunginya," sahut Sky yang kemudian kembali menari-nari lagi.
"Ayolah, Dad ... menari bersamaku." Sky menarik tangan Xander ke atas lalu memutar-mutar tubuhnya.
Yang Xander lihat bukan putrinya tapi Alexa. Ia tersenyum lalu ikut menari bersama Sky yang ia anggap kekasihnya.
Kehadiran Sky belum benar-benar menghapus ingatan Xander terhadap Alexa. Justru Xander semakin ingat dengan Alexa apalagi sekarang ia akan menjadi seorang kakek.
Mereka bercanda dan tertawa di bawah rintik nya hujan. Ayah dan anak yang sama-sama kehilangan seseorang yang mereka cintai kini berusaha mengobati luka mereka satu sama lain.
Xander mengelus wajah Sky. "Kau masih punya kesempatan kembali dengan suamimu, Sky ... berbeda dengan Daddy. Selamanya Daddy tidak akan bisa bersama dengan Ibumu."
Terselip nada sedih di ucapan Xander yang membuat Sky menatap tak tega Ayahnya.
"Ibu sangat beruntung karena di cintai olehmu, Dad. Aku ingin sekali merasakan di cintai begitu besarnya oleh lelaki sepertimu, Dad. Tapi sepertinya tidak ada lagi lelaki sepertimu."
"Terkadang seseorang harus di beri rasa kehilangan dulu untuk bisa mencintai dengan benar," sahut Xander.
"Biarkan suamimu merasakan rasanya kehilangan itu. Tapi jangan terlalu lama, Dad tahu bagaimana rasanya berpisah dengan seorang anak puluhan tahun. Jangan membuat Javier merasakan hal itu kalau kau masih mencintainya."
"Dad membencinya tapi untuk urusan anak dia berhak ikut merawat mereka, Sky ..."
Sky menggeleng. "Aku tidak mau kembali lagi. Kelak aku akan mengajak Javier untuk merawat twins sebagai seorang teman bukan suami dan istri lagi."
Xander tersenyum tipis. "Keras kepala mu sama seperti Ibumu."
"Karena aku anaknya," sahut Sky yang membuat keduanya terkekeh.
...💥💥💥...
__ADS_1
Sky sedang minum teh hangat setelah main hujan-hujanan bersama Ayahnya.
Xander duduk di depan Sky, tersenyum menatap putrinya.
"Dad bahagia karena sekarang kau ada selalu bersama, Dad."
"Aku juga bahagia, Dad. Karena baby twins mempunyai kakek sepertimu."
"Kelak, ajarkan cucuku untuk tidak berjuang sendirian ketika mencintai seseorang, karena yang berjuang sendirian ujung-ujungnya akan merasakan kehilangan seperti yang Dad rasakan."
Sky meraih tangan Ayahnya dan menggeleng. "Kau tidak sendirian, Daddy. Kau hanya gagal mengejar cinta Ibu, tapi tidak gagal menjadi cinta untuk putrimu ini."
Keduanya tersenyum. Entah kebaikan apa yang Xander lakukan dulu sampai mempunyai anak yang sikapnya manis seperti Sky.
Mereka menoleh kala mendengar seseorang berjalan ke arahnya dengan bersiul.
"Selamat sore Duda, selamat sore janda," salam Keenan untuk mereka dan langsung duduk bergabung dengan Xander dan Sky.
Xander berdecak kesal. "Haruskah aku memecatmu, Keenan!!"
"Sky janda anak kembar."
Sky hanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala.
"Pergi!! jangan ganggu aku dan putriku!!"
"Hey, ayolah. Ada hal penting yang ingin aku bahas."
"Sepenting apa?" tanya Xander dengan malas.
"Anakmu akan meeting besok," sahut Keenan.
"Kau bilang lusa," pekik Sky.
"Tidak jadi. Di percepat menjadi besok."
__ADS_1
"Sky!!" Xander menatap Sky serius.
"Dad sudah bilang jangan terlalu banyak memikirkan perusahaan. Biarkan Keenan yang mengurusnya kali ini."
"Dad ini bagaimana, dulu Dad memaksaku menjadi seorang pemimpin yang benar sampai menyumpalku dengan banyak materi yang harus aku pelajari. Sekarang Dad juga yang melarangku huh ..."
"Kandunganmu sudah tujuh bulan, kalau Dad menyumpalmu terus menerus, Dad takut si kembar akan keluar. Lebih baik istirahat di rumah."
"Tidak, aku tidak mau!!"
"Lihat, bukan aku yang pemalas tapi anakmu yang terlalu rajin!!" pekik Keenan yang selalu di salahkan kala Sky jarang sekali ada di mansion.
Xander menghembuskan nafas, sulit sekali menaklukan putrinya sekarang ini.
"Baiklah tapi jangan terlalu kelelahan," ucap Xander yang membuat Sky tersenyum.
"Siap, Dad."
Mereka pun akhirnya makan sore bersama setelah pelayan menyimpan beberapa makanan di meja.
Keenan juga ikut bergabung bersama mereka. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di mansion kala menjadi Sekretaris pribadi Sky Alexander.
Setelah selesai Sky kembali ke kamarnya. Ia duduk di kursi menikmati pemandangan sore hari dengan membaca majalah.
Ia mendesis kala si kembar menendang-nendang perutnya.
"Hei kalian kenapa? apa di dalam sana kalian sedang bertengkar?" tanya Sky dengan terkekeh.
Moment ini selalu membuatnya senang, moment dimana si kembar selalu aktif di perutnya. Ia menghembuskan nafas kala mengingat Javier yang tidak bisa merasakan tendangan si kembar di perutnya.
"Daddy kalian pasti senang kalau bisa merasakan tendangan kalian di dalam sana," lirih Sky.
"Maafkan Mommy dan Daddy ya, karena sebelum kalian lahir saja kami belum bisa jadi orang tua yang baik ..."
Bersambung
__ADS_1