Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#185


__ADS_3

Para penjaga halaman depan berkumpul seraya menunduk, di depan nya ada Sekretaris Han yang menatap mereka dengan puncak amarah tertinggi.


"KEMANA SAJA KALIAN SEMUA?!!" teriak Sekretaris Han marah kepada para penjaga yang seharusnya ada di halaman mansion.


"A-anu Tuan ... maaf kami tadi membantu Philip."


Philip yang sedari tadi menunduk dengan kemarahan Sekretaris Han akhirnya membulatkan mata kaget dengan kejujuran para penjaga itu.


Memang benar, Philip lah yang menyuruh semua para penjaga membantu dirinya mencari Momo dan akhirnya halaman mansion itu kosong memudahkan pria tadi berbicara dengan Miwa.


"Philip," ucap Sekretaris Han dingin dan menusuk menatap sahabatnya itu.


Philip perlahan mendongak. "M-maaf ... aku menyuruh mereka mencari Momo tadi. Ternyata Momo di bawa kabur oleh Maxime dan yang lain."


"Kau mengkhawatirkan anak babi di banding anak manusia?!"


Sekretaris Han hanya bisa menggeleng dengan tingkah Philip.


*


Miwa berada di dalam kamar bersama Sky, Sky sedang menenangkan Miwa yang tadi menangis karena kesal permen nya di jatuhkan Maxime.


Sementara Maxime ada di balkon bersama Javier.


"Jangan melihatku sepelti itu, Dad." ucap Maxime dengan dahi mengkerut dan bibir cemberutnya. Ia memainkan kaki nya yang tergantung di atas kursi.


Sementara itu sedari tadi Javier hanya melihat Maxime dengan tatapan kagum, anak itu ternyata mempunyai insting yang baik di usia nya yang baru menginjak empat tahun. Berbeda dengan dirinya, Javier mulai belajar segala hal ketika usia enam belas tahun.


"Kau marah dengan Dad atau dengan Miwa?" tanya Javier.


"Miwa," sahut Maxime.


Javier membenarkan posisi duduknya lebih serius menghadap anak laki-lakinya.


"Lihat, Dad."


Maxime pun duduk bersila di kursi menghadap Javier.


"Kenapa marah dengan Miwa? kau kan yang menjatuhkan permen nya."


"Aku engga suka Miw-Miw bicala dengan olang asing, aku engga suka Miw-Miw makan makanan dali olang lain, Dad." sahutnya dengan melipat kedua tangan di Dada.


Javier menahan tawa mendengar Maxime memanggil adiknya dengan nama baru, Miw-Miw. Anak itu hobby sekali menamai sesuatu sesuka hatinya.

__ADS_1


"Kau sangat posesif ternyata." Javier mengacak-ngacak gemas rambut Maxime.


"Tetaplah seperti itu, jaga Miw-Miw mu dan Tessa, oke."


Maxime menganggukan kepalanya. "Oke, Dad."


"Dad kapan aku punya Gloly?" anak itu masih saja ingat dengan anak singa.


Javier menghembuskan nafas. "Dad akan membelikan nya nanti."


"Kapan?" tanya Maxime dengan tidak sabaran.


"Berikan Dad sesuatu, nanti Dad belikan glory untukmu."


"Eummm ..." Maxime sedang berpikir seraya menautkan kedua alisnya dengan mengetuk-ngetuk jari telunjuk di pipi nya. Harus memberikan apa untuk membujuk Ayahnya ini.


Dan Javier sendiri tidak akan memberikan sesuatu yang mudah untuk anaknya, mereka harus berjuang dan berusaha dulu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Masalah pria di depan gerbang, Thomas sedang melacak cctv.


*


Javier menghampiri Miwa yang sedang duduk di atas kasur memandang keluar jendela. Anak itu benar-benar sedang marah, sampai kedatangan nya ke kamar Miwa tidak menoleh.


Javier jadi gemas sendiri melihat Miwa yang enggan membalikkan badan ketika di panggil, persis ketika Sky yang tidak mau bicara dengan dirinya ketika sedang marah.


Javier pun duduk di samping Miwa, Miwa masih enggan melihat Ayahnya.


"Kau marah dengan Daddy atau Kakak mu hm?" tanya Javier.


Javier memperhatikan wajah putri kecilnya yang diam seraya menekuk wajahnya. Ia menahan tawa nya, gemas sekali.


"Yasudah ... yasudah ... kalau tidak mau berbicara dengan Daddy, Daddy keluar saja."


Baru saja beranjak dari ranjang, Miwa menahan nya.


"Maxime ..." ucap Miwa membuat Javier kembali duduk.


Javier tersenyum. "Kemari." Ia menggendong Miwa untuk duduk di pangkuan nya.


"Kau sayang Bubu?" tanya Javier. Bubu adalah dua kucing peliharaan empat bocil itu.


Miwa mengangguk. "Ya, aku sayang Bubu, Dad."

__ADS_1


"Siapa saja yang boleh kasih makan Bubu?"


"Aku, Maxime, Tessa sama Alsen."


"Dad, boleh tidak?"


Miwa mengangguk lagi. "Boleh."


"Mommy?"


"Boleh."


"Uncle Jonathan?"


Miwa menggeleng. "Nooooo ..." ucapnya dengan lantang.


"Kenapa?"


"Kalna aku takut uncle Jonathan kasih Bubu makanan kotol, nanti Bubu sakit."


"Ohhh ... jadi Miwa engga percaya sama uncle Jonathan?" Miwa menggeleng sebagai jawaban.


"Terus kenapa Miwa percaya sama uncle tadi, yang di depan gerbang. Gimana kalau uncle tadi kasih Miwa permen kotor terus Miwa sakit. Bubu aja engga boleh di kasih makan sama orang lain tuh, kenapa Miwa makan makanan dari orang lain? Miwa engga takut sakit?"


Miwa tampak diam, dia sedang mencerna ucapan Ayahnya. Lalu kemudian ia menatap Ayahnya.


"Max engga salah ya, Dad?"


Javier mengangguk. "Iya, Kakakmu engga salah. Max takut Miwa sakit, jadi Max jatuhin permen nya biar Miwa engga makan permen dari uncle itu. Bilang sama Daddy kalau mau permen, Daddy belikan yang banyak untuk Miwa, oke."


"Benelan Dad?" mata Miwa berbinar seketika.


"Iya, Daddy belikan permen yang banyak tapi jangan bilang Mommy mu, oke?"


Miwa mengangguk dengan semangat. "Iya, Dad. telimakasih Daddy, i love you." Miwa pun memeluk Ayahnya, Javier terkekeh dengan sikap manis putri kecilnya ini.


Ia mengelus rambut Miwa dengan lembut. "Miwa harus nurut sama Max dan Arsen ya. Arsen juga Kakak Miwa."


Miwa melepaskan pelukan nya. "Tapi Mom bilang Alsen adik Miwa, kalna Miwa lahir pertama terus Alsen."


"Arsen kalau udah besar nanti dia lindungi Miwa sama kaya Max. Jadi anggap Arsen kakak Miwa saja hm."


Miwa pun mengangguk lalu kembali memeluk Javier. Wajar Javier mudah memberi pengertian kepada anaknya karena dari awal menikah dengan Sky, Javier lah yang sangat menginginkan seorang anak. Sebelum mereka lahir, Javier banyak belajar menjadi orang tua yang baik. Entah itu dengan membaca buku atau banyak berbincang dengan dokter psikolog anak.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2