Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#90


__ADS_3

Mereka kembali melajukan motor, lima belas menit kemudian mereka kembali berhenti ketika sudah berada di dekat-dekat markas Mudork.


Philip melihat bangunan tua yang menjadi markas mudork dengan teropong nya.


"Ada sekitar sepuluh orang yang berjaga," ucap Philip.


Javier menghela nafas. "Pancing mereka datang ke sini dengan tembakan. Dan dua puluh empat orang ikut denganku. Jangan lupa untuk saling terhubung dengan earphone satu sama lain!!"


"Baik, Tuan," ucap mereka serempak.


Javier pun pergi melewati jalur lain untuk masuk ke markas mudork.


DOR


DOR


DOR


Thomas menembakan pistol ke atas memancing mereka datang. Ia mengintip lewat teropong yang di berikan Philip.


Mereka yang berjaga di luar sedang berlari ke arah mereka.


Jonathan merapatkan tangan nya seraya komat-kamit tidak jelas.


"Kau sedang apa?" tanya Thomas.


"Berdoa, semoga kita di beri kelancaran," jawab Jonathan.


Thomas dan yang lain saling berpandangan bingung.


"Tuhan mana yang akan mengabulkan doa manusia yang hendak membunuh?" ucap Aiden.


"Tuhan pun terheran-heran dengan sikapmu, Jojon." Nicholas mengomentari aksi Jonathan yang berdoa.


"Kita bukan pembunuh," jawab Jonathan. "Tapi membantu malaikat maut menjalani tugasnya. Iblis jahat seperti mereka harus cepat mati, iya kan?"


Thomas mendengus seraya menggelengkan kepala. Ia kembali mengintip di teropong.


"Mereka sudah dekat!"


"Yang depan siap-siap."


Dan yang paling depan pun mengeluarkan pistol yaitu Thomas, Athes, Nicholas dan Jonathan mereka membidikkan nya kedepan.


Sementara yang di belakang mereka tampak diam memperhatikan.

__ADS_1


Mata Thomas masih di teropong, ia mengulurkan tangan memberi kode tahan dulu jangan menembak sekarang.


"Sebentar lagi ...," ucap Thomas pelan.


"Tarik pelatuk."


Mereka pun menarik pelatuk perlahan.


"Aduh ... aku deg-degan," ucap Jonathan.


"Diam sial*n!!" sahut Athes.


"Sekarang!!"


DOR


DOR


DOR


Musuh tidak mampu melawan karena tembakan mereka lebih dulu dari pada musuh.


"Yeaaay ... berhasil." Jonathan menurunkan pistol nya.


Athes dan Nicholas menghela nafas melihat musuh nya tergeletak tak bernyawa.


PRANG


PRANG


PRANG


Suara kaca pecah berhamburan di lantai, semua penjaga bergegas lari menghampiri Javier tapi.


Jleb.


Sekretaris Han yang lebih dulu masuk mengendap-ngendap ke dalam berhasil menarik anak panah tepat ke leher salah satu dari mereka.


Javier berlari ke lantai atas untuk mencari si pemimpin mudork. Biar lah lantai bawah di kuasai sekretaris Han, Philip dan yang lain.


Suasana semakin ricuh, anak buah Yakuza saling berjibaku dengan anak buah mudork.


Sekretaris Han masih bersembunyi di belakang lemari hias.


Jleb

__ADS_1


Jleb


Jleb


Sekretaris Han terus menarik anak panah ke arah lawan dan selalu tepat sasaran. Entah itu kepala, leher atau punggung.


Musuh hendak memukul Philip tapi dengan cepat Philip menangkis dan merebut tongkat bisbol dari musuh dan beralih menjadi dia yang memukuli anak buah Mudork.


Philip memilih kepala sasaran utama untuk memukul agar musuh cepat mati.


Nafasnya memburu, keringat membasahi tubuhnya. Ia menoleh ke belakang ke tempat persembunyian Sekretaris Han.


"Maju sial*n!! jangan terus bersembunyi, kau tidak takut anak panah itu salah sasaran!!" teriak Philip.


Akhirnya Sekretaris Han pun muncul seraya berdecak.


"Aku pintar mengendalikan anak panah kepar*t!!"


BUGH


Philip kembali memukul musuh yang hendak menyerangnya, walaupun kepalanya menoleh ke belakang, insting nya tahu ada orang yang mendekati nya dari depan.


Thomas dan yang lain diam-diam mendengarkan percakapan Philip dan Sekretaris Han dari earphone yang terhubung satu sama lain.


"Sekretaris Han membawa anak panah?" tanya Sergio.


"Dia suka memanah dari pada menembak," jawab Thomas.


Sementara Javier berjalan mengendap-ngendap mencari ruangan yang kemungkinan besar tempat pemimpin mudork.


BRAKH.


Ia menendang salah satu ruangan dengan membidikkan pistol ke ruangan itu. Tapi tidak ada siapapun.


Javier mendengus lalu mengendap-ngendap lagi dengan pistol siap siaga di tangan nya.


Ruangan kedua pun sama, tidak ada siapapun.


Sampai akhirnya ia mendobrak ruangan ketiga dan ia membulatkan mata kala melihat foto Sky Alexander terpampang nyata di dinding dengan coretan merah di setiap foto.


Javier perlahan masuk, mengelus foto-foto istrinya. Sky menjadi incaran kala masuk ke dalam hidupnya. Gadis dua puluh tahun itu tidak bisa hidup normal lagi setelah mengenal dirinya, Javier merasa bersalah akan hal itu tapi ia juga mencintai istrinya, sangat.


Javier menatap nanar foto-foto istrinya seraya bergumam.


"Maafkan aku sayang ..."

__ADS_1


Javier tidak tahu di belakangnya ada pria yang sedang membidikkan pistol ke arahnya. Pria itu tersenyum miring kala melihat pemimpin Yakuza itu lengah karena melihat foto istrinya sendiri.


Bersambung


__ADS_2