Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#180


__ADS_3

Tinnnn ... tinn ... tinn ... ngeengggg ... ngeenggg ... huss ... husssh ...


Dua bocil lelaki itu sedang memainkan mobil-mobilan kecil di tangan nya, seraya berlari mengelilingi mereka yang sedang sarapan.


Sesekali mereka mengibaskan tangan nya kala beberapa orang menghalangi nya.


"Maxime makan," perintah Sky.


"Bental mommy," sahut Maxime yang cadel.


Ngeengggg ...


Kali ini mobil kecilnya melaju di dinding.


"Arsen!" panggil Sekretaris Han.


"Aku Sekletaris Maxime, Daddy. Aku ikut Maxime saja." Sahut Arsen.


Ngeenngg ...


Arsen pun mengikuti Maxime dari belakang, ia juga melajukan mobil mainan nya di dinding seperti Maxime.


Sekretaris Han hanya bisa berdecak, gara-gara Javier mengajarkan apa itu pekerjaan Sekretaris Han kepada Arsen, alhasil Arsen pun ingin seperti Daddy nya. Ia menjadi Sekretaris Seperti Daddy nya, Sekretaris Arsen yang selalu di belakang Maxime.


Tessa hendak turun dari kursi untuk menghampiri mereka tapi Thomas menahan tubuhnya.


"Jangan turun dari kursi," ucap Thomas dingin agar Tessa sarapan saja dari pada bermain seperti Maxime dan Arsen.


Tessa memanyunkan bibirnya kesal dengan melipat kedua tangan nya. "Huhhh ... Daddy engga seru ah. Maxime sama Alsen boleh main, aku gak!"


"Namanya Arsen bukan Alsen," sahut Thomas.


Pasalnya ke empat bocil itu sama-sama cadel, mungkin mereka berempat sudah janjian dari bayi.


"Alsen," ucap Tessa.


"Arsen," tutur Thomas mengajarkan anaknya menyebut huruf R dengan baik.


"Alsen ..."


Thomas menghela nafas. "Arrrr ... rrrrr ... coba." Lidah Thomas bergetar memperagakan huruf R yang benar.


"Allll .. ellll." Tapi ajaran nya tetap tidak merubah ucapan Tessa.


Thomas mendengus. "Terserah kau saja lah." Dia sudah mulai lelah, sementara Liana hanya bisa menggelengkan kepala. Setiap hari Thomas mengajari Tessa seperti itu, setiap hari juga pria itu menyerah.


"Mom sotobely Mom," pinta Miwa kepada Sky.


"Strawberry," ucap Javier.


Dari banyak kata hanya kata strawberry yang sulit di ucapkan oleh Miwa. Bibir kecilnya menolak mengatakan strawberry dengan benar.


Sky pun mengambilkan strawberry untuk putri kecilnya.

__ADS_1


"Sotobely," ucap Miwa seraya menyuapkan strawberry ke mulutnya.


"Ini apa?" Tanya Javier menunjuk salah satu buah-buahan di meja.


"Jeluk."


"Ini?"


"Apel."


"Kalau ini?"


"Eummm ... mangga."


"Dan ini ..."


"Sotobely."


"Strawberry ..."


"Sotobely."


Javier menghela nafas, ia harus sabar.


"Strawww ... berry. Strawberry." Dulu Javier menjadi guru untuk istrinya sekarang ia harus menjadi guru untuk anaknya.


"Sootooww ... belly. Sotowbelly."


Javier menggeleng dengan menghembuskan nafas.


Sementara itu Athes and the geng menahan tawa nya melihat dua pria sedang mengajari putri mereka.


Maxime lari dan mengambil strawberry milik Miwa.


"Heii!!" teriak Miwa. "Itu punya Miwa." Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.


Lalu Maxime pun lari lagi di ikuti Arsen di belakangnya.


"Sudah ... sudah, ini Mommy ambilkan lagi untuk Miwa ya."


Sky mengambil strawberry lagi dan menaruhnya kembali di piring Miwa.


"Aku mau mam." Maxime duduk tapi bukan di dekat orang tuanya melainkan di tengah-tengah Aiden dan Jonathan. Sementara Arsen duduk di pangkuan Sekretaris Han.


Aiden dan Jonathan menghela nafas, apa lagi yang akan di lakukan si bocil ini sekarang.


"Mau jus," ucap Maxime yang kemudian di ambilkan just itu oleh Aiden.


Tapi setelah memberikan jus nya, Maxime malah menumpahkan jus itu di piring Aiden. Semua orang membulatkan mata.


"Maxime," teriak Sky.


Aiden dengan wajah kecewa hanya bisa menghembuskan nafas pasalnya ia baru sarapan sedikit.

__ADS_1


"Huahahaha." Maxime tertawa keras lalu tos dengan Arsen yang duduk di depan nya seraya di pangku Sekretaris Han.


"Ambil saja yang baru," ucap Xander kepada Aiden.


"Kau tidak mengerti, sedang enak-enaknya makan di ganggu," sahut Aiden.


"Aku udah mam." Miwa pun turun dari kursi karena berhasil menyelesaikan makan nya, ia berlari menghampiri kedua kakak laki-lakinya.


Sementara Tessa merengek kepada Thomas agar di bolehkan mainkan.


"Sudah pergi main saja," ucap Liana.


"Sayang dia belum selesai. Nanti kebiasaan," sahut Thomas.


"Nanti kalau dia lapar dia pasti minta makan lagi," sahut Liana.


Dengan senangnya Tessa menghampiri Maxime, Arsen dan Miwa yang sedang memberantakan mainan di ruang tamu.


Jonathan melirik ke arah mereka, ada hal yang membuatnya curiga sampai Jonathan menyipitkan matanya. Maxime terlihat berlari keluar mansion.


Tapi karena pundaknya di tepuk oleh Samuel ia jadi lupa dengan Maxime yang keluar tadi.


"Makanlah, mereka sedang bermain. Ini kesempatan emas untuk kita bisa makan dengan tenang," ucap Samuel pelan tidak mau ucapan nya terdengar oleh orang tua keempat bocil itu.


Dan tak lama kemudian Maxime kembali lari terbirit-birit menghampiri mereka yang sedang sarapan.


"ULAL!" Teriaknya seraya melempar belut kecil ke meja makan.


Sontak semuanya ricuh dan beranjak dari kursi. Kara, Sky dan Liana berteriak menjauh. Javier berusaha memeriksa.


Athes and the geng dan Philip hanya bisa menggelengkan kepala seraya mengelus dada.


"Ini hanya belut," ucapnya. Dan belut itu bergerak-gerak di atas meja.


"Huahahaha." Maxime tertawa keras melihat keterkejutan dari wajah semua orang.


Javier menatap tajam putra kecilnya lalu menggendong Maxime di pundaknya.


Seperti biasa kenakalan Maxime akan di hukum dengan berdiri menghadap tembok selama sepuluh atau lima belas menit.


"Daddy nooooo ..."


"Lepass Daddyyy ...."


"Alsen tolonggg ..." Tangan kecil Maxime terulur meminta bantuan kepada Sekretaris kecilnya.


Arsen segera berlari tapi tubuhnya malah di tangkap oleh Sekretaris Han.


"Kau juga harus di hukum!"


Sekretaris Han pun membawa Arsen ke kamar lain.


Tak habis akal, Miwa dan Tessa hendak menghampiri kedua kakak laki-lakinya tapi segera di halau oleh tiga Ibu sekaligus. Sky, Kara dan Liana melipat tangan mereka di dada, berdiri sejajar menjadi benteng untuk menghalangi kedua putri kecil itu.

__ADS_1


Untuk anak yang sangat aktif seperti Maxime hukuman itu sangatlah berat dan membosankan. Bagaimana bisa ia yang suka lari kesana-kemari harus di suruh diam mematung.


Bersambung.


__ADS_2