Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#149


__ADS_3

Hari demi hari terlewati, musim silih berganti tetapi luka yang gadis ini rasakan belum sembuh sempurna.


Terkadang ia menangis merindukan seseorang yang dulu sangat dekat dengan nya, terkadang ia marah mengingat luka yang pria itu berikan kepadanya.


Ia bukan lagi Sky Alexander yang polos dan mudah memaafkan. Sekarang gadis ini berubah menjadi wanita berkelas yang sulit di dekati.


Ia keluar dari ruangan nya dengan memakai dress hitam dengan belahan dada mengintip sedikit di balik dress nya. Ia memegang tas di tangan nya.


Perutnya tidak hanya buncit, tetapi besar karena usia kandungan nya sudah menginjak tujuh bulan.


Sky melewati masa-masa kehamilan selama tujuh bulan ini bersama Xander, sang Ayah. Dari mulai ia yang sering mual, lemas dan banyak mengidam makanan Xander lah yang mengurusi Sky.


Si kembar di dalam sana tumbuh dengan baik. Mereka aktif dan sehat. Dan jenis kelamin nya satu laki-laki dan satu perempuan.


Javier bukan tidak mencari, ia beberapa kali datang ke Negara X dan masih sulit menemukan Sky. Ia beberapa kali juga mencoba datang ke Valaric group tapi anak buah Xander selalu menghadangnya.


Beberapa anak buah Xander sampai ada yang mati karena bertarung dengan anak buah Javier.


Sampai pada akhirnya Xander mengancam akan membawa Sky pergi jauh jika Javier masih menganggu nya. Karena terlalu takut istrinya menghilang ia lebih baik tidak menganggu Sky untuk sementara waktu.


Ia berjalan dengan elegan untuk pulang ke mansion. Setiap pegawai yang melihatnya membungkukan badan. Dan Sky melewati mereka begitu saja.


Dia tidak ikut membungkukan badan seperti dulu, ia pemimpin Valaric group yang di segani para pegawai karena ketegasan dan kepintaran nya.


Walaupun Sky hampir stress karena harus belajar tentang materi perusahaan tapi semuanya terlewati dengan baik dan membuahkan hasil yang baik juga.


Valaric group berjaya kala di kendalikan oleh Sky Alexander.


Seorang pria membukakan pintu mobil untuknya. Di dalam sana sudah ada Keenan, Sekretaris pribadinya.

__ADS_1


Sky mengeluarkan cermin bulat dari dalam tasnya. Ia melihat polesan Make up nya, masih bagus atau tidak.


"Kita kemana?" tanya Keenan.


"Pulang," sahut Sky.


Keenan pun melajukan mobilnya dengan santai seraya bersiul.


"Oh iya, lusa kita ada meeting kerjasama dengan perusahaan X."


"Lalu?" tanya Sky.


"Kita belum sah kerjasama. Ada lawan yang berat untuk memenangkan tender kali ini."


Sky menatap Keenan di spion lalu tersenyum sinis. "Tidak ada kata berat dalam hidupku sekarang!!"


"Tapi kau sedang hamil besar. Biar aku sajalah yang meeting nanti. Aku takut dua anakmu itu keluar sebelum waktunya."


Keenan menghela nafas, sama seperti Xander perempuan ini keras kepala. Padahal dulu pertama kali ia bertemu dengan Sky, gadis itu membungkukan badan untuknya. Lihat sekarang, bicaranya selalu sinis saja.


Mereka pun sampai di mansion Xander, ketika Sky masuk ke mansion tak lama kemudian hujan turun.


Ia kembali ke kamarnya. Melepas jam tangan dan anting yang menggantung di telinganya.


Sky bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia memakai dress putih seraya mengeringkan rambut dengan handuk.


Sky menatap taman dari dalam kamarnya, hujan masih belum berhenti.


Hujan turun seakan membawa kenangan berjatuhan. Sky menghela nafas, tiba-tiba ia ingat masa dimana ia berdiri di bawah derasnya air hujan untuk menatap Javier di atas balkon yang tidak turun menghampirinya.

__ADS_1


Sky mengelus perutnya. "Kalian harus kuat, oke. Ada mommy di sini," ucapnya dengan tersenyum getir.


Di samping kamar Sky, hal sama terjadi kepada Xander. Setiap turun hujan, yang pria paruh baya itu ingat hanya wajah Alexa yang menari-nari di bawah air hujan.


Xander menghela nafas dengan mata berkaca-kaca. "Alexa ... kau sangat cantik."


Xander seakan melihat Alexa sedang menari-nari di taman.


Sky berjalan ke kamar Xander yang pintunya tidak di tutup sama sekali. Ia mengintip Ayahnya dan melihat Xander sedang minum obat.


Sky tahu, Ayahnya selalu minum obat penenang kala hujan turun. Karena Xander sering sekali mengamuk kala hujan turun, pria itu masih belum ikhlas dengan kepergian Alexa.


Sky menghela nafas, kasian sekali Ayahnya. Yang hanya bisa mencintai sendirian, bahkan sepeninggal Alexa, Xander menolak untuk dekat dengan perempuan manapun dan tidak berniat untuk menikah.


Rasa cintanya kepada Ibunya membuat Sky iri.


"Ibu ... seandainya Ibu tahu secinta apa Dad disini, Ibu pasti akan merasa sangat beruntung," gumam Sky.


Xander masih memperhatikan rintikan hujan turun dengan pandangan tak henti menatap taman yang kosong.


Sampai tak lama kemudian ia melihat seorang gadis menari-nari di bawah sana. Gadis yang memakai dress putih.


"Alexa ..." lirih Xander melebarkan matanya tak percaya.


Tapi ada yang aneh perempuan yang sedang menari-nari itu terlihat sedikit gemuk dengan perut yang besar. Xander menyipitkan matanya.


Lalu menghela nafas. "Sky ... astaga bagaimana kalau cucuku sakit."


Xander mengkhawatirkan dua cucu di perut anaknya. Dan Sky hanya mencoba untuk menghibur Ayahnya yang bertahun-tahun terluka karena kepergian Ibunya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2