Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#38


__ADS_3

Athes berlari sebisa mungkin untuk menghalangi pria itu menusuk Javier.


Tapi yang terjadi malah.


Jleb..


Javier lah yang menusuk pria itu dengan sekali membalikkan badan.


Tentu saja anak dari Ataric De Willson ini mempunyai insting yang hebat seperti ayahnya. Javier sudah tahu ia di amati oleh dua pria asing itu. Untuk pria seperti Javier, kabur dari musuh sangat memalukan. Lebih baik diam dan menikam di saat yang tepat.


Athes berhenti seketika melihat kejadian itu, suara jeritan dari setiap tamu memenuhi aula. Mereka menjauhi Javier yang menusuk dengan amarah pria di depannya, tepat di jantung pria itu.


Sky tak kalah terkejut, tubuhnya benar benar lemas seketika melihat suaminya sendiri menusuk pria asing.


Pria yang satunya lagi hendak Melayangkan pukulan di wajah Javier tapi dengan cepat Javier menepisnya.


Ia mencabut pisau yang menancap di jantung pria itu dengan kasar membuat pria itu terjatuh dengan nyawa yang sudah hilang dan Javier mendekati pria satunya lagi dengan penuh amarah.


Di saat bersamaan suara tembakan dari luar terdengar jelas membuat para tamu menjerit kembali.


Bugh


Bugh


Bugh


tiga pukulan beruntun mengenai mata, hidung dan perut pria itu.


Athes berlari ke luar karena merasa Javier bisa mengatasi kekacauan di aula, terlebih ada sekretaris Han di dalam sana.


"Jonathan, bawa istriku pergi!!" Teriak Javier dengan masih menatap tajam pria di depannya yang meringis kesakitan.


Jonathan menarik tangan Sky tapi Sky menahan tangannya. "Nyonya ikut aku."


"Aku tidak mau, bagaimana dengan Javier?"


"Nyonya percayalah padaku, tuan bisa menyelesaikan ini semua!!" Jonathan begitu panik pasalnya ada beberapa orang yang masuk ke aula, ia yakin itu pasukan dari dua pria asing itu.


Semua tamu yang masih ada di aula pun berhamburan keluar melihat tempat pesta di kepung seketika oleh puluhan orang.


Sekretaris Han dan Javier berjibaku dengan beberapa orang tersebut.


Bugh


Pria itu berhasil menendang perut Javier sampai tersungkur ke belakang disaat bersamaan Sky menjerit keras.


"JAVIER!!"


Javier menoleh ke belakang dengan satu tangan memegang perutnya.

__ADS_1


"SKY KENAPA KAU MASIH DISINI?! PERGI BERSAMA JONATHAN!!"


"A-aku.."


"PERGI!!" teriakan Javier semakin keras dengan sorot tajam memandang Sky.


Jonathan menarik narik lengan Sky secara paksa sampai akhirnya Sky pun menjauhi aula dengan perasaan cemas.


Sebelum benar benar meninggalkan aula hal terakhir yang ia lihat sudut bibir Javier di pukul keras oleh pria itu.


Mata Sky berkaca kaca, Jonathan terus menariknya menjauh. Di lorong hotel Jonathan memasang earphone di telinganya agar terhubung dengan Thomas dan Philip.


"Aku harus pergi kemana sekarang?"


"Tetap disana. Jangan keluar dari hotel, Athes dan Aiden sedang menghabisi mereka di luar sana!" Ucap Thomas.


"Pergi ke lantai empat sekarang," lanjut Thomas.


Jonathan membawa Sky ke lift tapi lift tidak bisa terbuka.


"Si*l!!* Jonathan mengumpat geram akhirnya memilih tangga darurat untuk ke lantai empat karena lantai dua dan tiga tidak aman.


Sementara di aula Javier mengeluarkan dua pistol yang ia simpan di jas hitamnya.


Begitu pula dengan sekretaris Han. Sekarang masing masing dari mereka memegang dua pistol.


"Siapa mereka?" tanya Javier kepada Thomas di earphone yang terpasang di telinganya.


Dengan tangan yang sibuk menembaki pria asing itu.


"Aku masih belum tau," jawab Thomas.


"Apa O'Conner grup?" kini Sekretaris Han yang bertanya.


"Bukan. Bahkan dari tadi aku tidak melihat mereka datang ke pesta itu!"


Sementara di lantai dua Nicholas sedang mengendap ngendap di balik dinding hotel. Sorot matanya menyipit kala ia berusaha mengintip ada berapa banyak musuh yang akan ia hadapi.


Dan ternyata ada tiga orang pria yang sedang mondar mandir menjaga lorong hotel lantai dua. Perlahan Nicholas mengambil pistol yang ada di jas hitamnya. Ia membidikkan senjata itu ke arah mereka dan.


Dor


Dor


Dor


tiga tembakan beruntun bersarang tepat di kepala mereka.


Nicholas menghela nafas kasar, situasi seperti ini memang menguji adrenalinnya tapi anehnya ia suka.

__ADS_1


Nicholas hendak berjalan ke lorong tempat dimana tiga orang pria itu mati tapi Thomas menghentikannya.


"Jangan mendekat kesana!!" Nicholas akhirnya kembali bersembunyi di balik dinding.


"Menjauh dari sana, Cholas. Empat orang sedang berjalan ke arahmu!!" Nicholas pun pergi dengan sedikit berlari tapi berusaha agar tidak mengeluarkan suara dari hentakan kakinya.


"Pergi ke arah selatan dan berdiri di depan lift itu."


Thomas benar benar mengatur pergerakan mereka yang berada di hotel. Ia memainkan peran dengan baik.


"Berapa orang yang berada di lift?" tanya Nicholas.


"Tiga orang. Bidikkan pistol mu ke arah lift dan tembak mereka tepat ketika pintu lift terbuka!!" perintah Thomas.


"Baik."


Nicholas sudah berdiri di pintu lift dengan menghela nafas kasar ia membidikkan pistol ke arah pintu lift itu. Jantungnya berdebar tak karuan, di situasi seperti ini hanya ada dua kemungkinan. Tertembak atau menembak.


Ting


DOR


DOR


DOR


Nicholas menyunggingkan senyumannya, ia berhasil menembak mereka.


Tapi suara tembakan itu mengundang empat orang yang lain yang masih berada di lorong hotel lantai dua.


Nicholas mendengar suara langkah kaki berlari ke arahnya, ia pun segera menjauh dari lift itu.


Thomas masih memperhatikan cctv, Javier dan sekretaris Han terlihat masih berjibaku dengan mereka. Javier menginjak perut salah satu pria itu dan sekretaris Han memelintir tangan pria yang lain ke belakang dengan menyayat leher pria itu.


Di halaman terlihat Athes dan Samuel sedang sibuk beradu fisik juga.


Aiden sibuk membidikkan pistol di parkiran yang penuh dengan mobil. Ia masih mencari cari pria asing yang mencurigakan disana. Aiden yakin mereka bersembunyi di salah satu mobil yang terpakir disana.


Sementara Jonathan masih menggenggam tangan Sky di tangga darurat. Thomas melihat istri temannya itu berjongkok dengan menutup kedua telinga dengan tangannya, Sky pasti ketakutan dengan suara tembakan yang saling bertautan tapi terlihat Jonathan berusaha menenangkan Sky.


"Kirim helikopter dan anak buah Javier ke negara M." Philip berbicara dengan pak Liam di telpon.


"Baik."


Pak Liam menghela nafas di seberang sana, ia khawatir dengan keadaan Javier dan yang lain. Hal buruk sedang terjadi kepada anggota Yakuza dan juga pemimpinnya.


***Bersambung....


Coment coment 😁***

__ADS_1


__ADS_2