Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#57


__ADS_3

"Kepuasan dari uang orang lain, apa enaknya," hardik Nicholas.


"Kau tidak mau Nicholas?" Tanya Athes.


"Jangan so suci, membunuh orang saja seperti membalikkan telapak tangan untuk kita. Apalagi hanya menikmati uang orang lain haha," seru Sergio.


Nicholas menghela nafas. "Ayo berangkat!"


"Tunggu dulu ... Clever masih di dalam."


Jonathan pun membuka kamar hotel, mengintip sebentar memastikan Carla belum keluar dari kamar mandi lalu ia membawa Clever keluar lengkap dengan barang-barang Carla yang lain seperti kunci mobil, ponsel dan tas miliknya.


Mereka berenam masuk ke sebuah mall besar dan mulai menikmati kekayaan dari dompet Carla. Perempuan itu sudah berani menganggu Sky sampai ketakutan di rumah hantu maka mereka membuat Carla ketakutan juga oleh Clever dan parahnya mungkin Carla harus jatuh miskin sebentar lagi.


"Ini cocok untuk ku?" tanya Sergio yang sedang memegang kemeja putih.


"Cari ukuran yang lebih besar, itu kecil di tubuhmu," pekik Athes.


"Hei bagaimana dengan sepatu ini?" Jonathan datang membawa sepatu.


"Kau kan benci warna merah, Jon," pekik Samuel.


Nicholas datang dengan membawa beberapa stelan kemeja dan sepatu.


"Lihatlah manusia yang tadi menolak kepuasan dari uang, Carla. Sekarang dia yang membeli baju paling banyak." Samuel menunjuk Nicholas dengan ekor matanya.


"Aku bukan menolak, aku hanya bertanya apa enaknya menikmati kepuasan dari uang orang lain. Ah ternyata enak sekali ..."


"Hahahaha."


Jawaban dari Nicholas membuat mereka semua tertawa. Jonathan merogoh ponsel di sakunya.


"Bagaimana kalau kita suruh Sky datang kesini?


"Tuan Javier tidak akan mengizinkan Sky keluar," jawab Sergio.


Jonathan menghembuskan nafas. "Iya juga sih."


"Ajak saja Tuan Javier datang juga kesini." Itu ide dari Aiden.


"Cari mati!" hardik Samuel menggelengkan kepala dengan ide Aiden.


"Bagaimana kalau kita bujuk Sky untuk mengajak Tuan Javier. Nanti kita pura-pura tidak sengaja bertemu disini dengan Sky dan Tuan Javier." Ide itu dari Athes.


"Lumayan bagus ide mu."


"Aku setuju."

__ADS_1


"Aku juga."


"Baiklah aku akan menelpon Sky sekarang." Jonathan pun menghubungi Sky sesuai rencana mereka.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Sky datang bersama Javier. Ah, bukan hanya Javier tapi Thomas, Philip dan sekretaris Han juga ikut.


Mereka berenam ternganga kala Sky dan yang lain berjalan ke arah mereka. Sky melambaikan tangan dengan tersenyum sementara yang lain hanya menatap dengan datar.


"Apa-apaan ini? Kenapa ada Thomas dan Philip?" tanya Aiden.


"Sekretaris Han juga kenapa ikut? Seharusnya dia di kantor!" ujar Samuel.


"Kita semua seperti formasi lengkap untuk menyerang sekarang, padahal kita hanya ingin belanja bersama Sky," ucap Jonathan.


Memang benar ada Javier, sekretaris Han, Thomas, Philip dan Athes and the geng di mall bertemu. Mereka semua adalah Formasi lengkap untuk menyerang musuh tapi kenapa Formasi lengkap ini ada di mall sekarang.


Dulu sangat tidak mungkin antara Senior Yakuza seperti Thomas dan Philip bertemu dengan junior Yakuza yaitu Athes and the geng.


Tapi sekarang dengan mudahnya mereka juga bertemu dengan pemimpin Yakuza. Dan semua ini karena Sky Alexander yang menghubungkan mereka satu sama lain.


"Hai kalian." Sapa Sky melambaikan tangan.


"Hai nyonya." Mereka membungkukan badan.


Ah, padahal mereka berfikir akan menghabiskan waktu bersama Sky di mall ini tanpa sikap sopan, layaknya teman dekat.  Tapi karena ada Javier alhasil mereka harus kembali memanggil Nyonya dan membungkukan badan.


"Jonathan ingin membeli kaca mata, Nyonya."


"Kaca mata? Wah ... Bagus. Aku juga mau. Ayo ..."


Mereka pun pergi ke toko kaca mata di mall, Sky berjalan di tengah-tengah Athes and the geng.


Sementara Javier dan yang lain hanya membuntuti mereka dari belakang.


Thomas menghela nafas. "Kita ini tidak seperti mafia, Javier. Kita seperti om-om yang sedang menjaga ketujuh ponakan nya."


Thomas melihat Sky dan Athes and the geng berjalan seraya bercanda di depan sana. Apalagi Sky dan yang lain terlihat seperti anak remaja pada umumnya dan mereka benar-benar terlihat seperti om-om.


"Aku setuju dengan, Thomas," jawab Philip.


"Diamlah. Aku hanya ingin istriku senang, tapi aku juga khawatir ada penyerangan dadakan lagi. Jadi aku bawa kalian semua!" jawab Javier.


"Jangan hanya Sky yang dibuat senang, kami juga ingin," hardik Philip.


"Tuan lebih baik anda traktir mereka shopping juga," saran Sekretaris Han.


Javier mendengus. "Kau juga mau, Han?"

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan," jawab Sekretaris Han cepat.


"Dasar mafia tukang palak kalian ini!!" Javier pun mengeluarkan black card di dompetnya dan seketika wajah Thomas dan Philip membinar senang. Sekretaris Han terlihat datar padahal dalam hatinya ia juga sangat senang.


Javier memberikan nya kepada Thomas. Mereka bertiga pun langsung pergi meninggalkan Javier sendirian.


Javier berdecak. "Kenapa semua anak buah ku seperti ini!!"


Javier memilih berjalan cepat menyusul istrinya.


"Sky ... Sky ... Coba yang ini." Jonathan berteriak seraya membawa kaca mata hitam untuk Sky dan Sky memakai nya.


Mereka semua menggeleng kagum dan memberikan jempol nya untuk Sky.


"Waahhh ... Kau cantik, Sky. Kau seperti mafia perempuan," seru Jonathan yang di sambut anggukan setuju yang lain.


Sky hanya terkekeh dan kembali membuka kaca mata itu.


"Sky ... Eh nyonya ... Apa anda ingin membeli yang ini?" tanya Jonathan kembali sopan karena melihat Javier yang sedang berjalan ke arah mereka.


Sky melihat ke samping, mungkin ia bingung kenapa mereka berenam kembali sopan lagi.


"Sayang ..." Javier merangkul pundak Sky. Dan yang lain menunduk seketika.


Sky melihat bergantian suaminya dan Athes and the geng.


"Bisa tidak kau tunggu kami di luar saja?" pinta Sky yang kurang nyaman dengan kehadiran Javier kali ini karena membuat Athes dan yang lain malah menunduk.


"Kenapa? kau mengusirku?"


Sky menggeleng dan berbisik di telinga Javier. "Ini urusan anak muda!


"Jadi kau bilang aku tua?!!"


Ah hampir saja Athes and the geng tertawa mendengar ucapan Sky dan Javier untung saja mereka bisa menahan nya.


"Jangan menertawakan ku!!" ucap Javier tajam ke arah Athes dan yang lain.


"Ayolah Javier ... Keluar dulu ..."


Javier menghembuskan nafas dan akhirnya memilih duduk di kursi panjang depan toko.


Apa-apaan ini ... Black card ku di ambil Thomas, istriku mengusirku dan sekarang aku sendirian di sini. Bukan kah aku pemimpin nya!!


Batin Javier kesal dengan sikap mereka semua


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2