
Malam hari Javier duduk di sofa yang berada di balkon mansion nya, ia menyesap sebatang rokok di tangannya dengan pandangan menengadah menatap langit malam.
Di depannya sebuah meja bulat di penuhi bekas kulit kacang, beberapa botol minuman keras.
Tak lama kemudian sekretaris Han datang dan berdiri di samping Javier.
Ia melihat penampilan tuannya yang begitu kusut, rambutnya berantakan, bau alkohol begitu menyengat.
Kau kenapa tuan.
"Bagaimana?" tanya Javier.
Sekretaris Han berdehem sesaat memudarkan lamunan nya terhadap penampilan tuannya ini.
"Nyonya Sky terlihat bahagia hari ini karena adik laki lakinya bersikap baik kepadanya bahkan membela nyonya Sky ketika ibu tirinya hendak menamparnya."
Javier melotot ke arah Sekretaris Han. "Apa?! Jadi perempuan tua itu hendak menampar istriku?!!"
Javier mematikan rokoknya dengan kasar. "Kurang ajar!!"
"Itu tidak penting sekarang, tuan. Karena Aliandra adik laki lakinya berhasil menepis tangan ibunya. Sekarang apa tugasku sudah selesai? jujur saja aku ngantuk, tuan.... Hoaaamm!" Sekretaris Han menguap di depan Javier. Dan tentu saja itu hanya pura pura, melihat kekacauan tuannya sekarang membuat Sekretaris Han ingin menjauh saja.
"Cih, jam segini kau sudah mengantuk saja. Lebih baik temani aku minum." Javier mengangkat botol minumannya lalu meneguknya kasar.
"Maaf, tuan. Ini pukul 02.00 pagi dan anda masih saja duduk disini dengan rokok dan alkohol ini. Tidak kah anda takut ada orang lain yang memeluk nyonya Sky tengah malam." Sekretaris Han berusaha menyadarkan tuan nya agar kembali ke kamar dan berhenti meneguk alkohol yang sudah terlalu banyak.
Javier menghela nafas dengan berat, sekretaris Han menatap tuannya dengan dahi mengkerut.
"Apa ada masalah tuan?" tanya Sekretaris Han.
Semoga saja tidak ada.
"Apa kau tidak menemukan tanda-tanda dimana ibuku sekarang, Han?"
"Semenjak kematian, Dad. Mom pergi entah kemana. Aku masih ingat Pak Liam bilang Mom pergi karena depresi kehilangan, Dad. Tapi... tidakkah ibuku berpikir aku juga bisa depresi karena kehilangan mereka? Dad meninggal, mom entah dimana. Dan lagi... si tua bangka itu juga belum tertangkap sampai sekarang." Ia berkata dengan suara lemah seakan tak punya semangat hidup.
Javier kembali menghela nafas dengan dada yang terasa sesak. Ia menopang kepala dengan kedua tangannya, sesekali memijit kepalanya yang tiba tiba terasa sakit.
Sekretaris Han merasa iba setiap kali melihat tuannya dalam kondisi lemah karena mengingat kedua orang tuanya. Tapi disisi lain sekretaris yang selalu menemani Javier ini tidak bisa melakukan apapun. Bahkan memeluk Javier untuk membantu menenangkan nya saja tidak bisa. Jelas saja, kalau sampai dia berani satu peluru sudah pasti bersarang di kepalanya.
Bagaimana ceritanya pisang memeluk pisang.
"Tuan... aku tidak pernah mencari seseorang sesulit aku mencari nyonya besar. Maaf... sampai detik ini tidak ada tanda tanda dimana keberadaan nyonya besar."
Javier menatap Sekretaris Han dengan sendu dan wajah yang merah karena terlalu banyak minum alkohol. "Menurutmu, apa mom ku masih hidup?"
"T-tentu saja tuan. Aku yakin... nyonya besar masih hidup dan akan kembali setelah sembuh dari depresi nya." Sekretaris Han berbohong untuk tidak membuat suasana hati Javier semakin kacau.
Mana tahu sekretaris Han nyonya besarnya itu masih hidup atau tidak.
__ADS_1
Javier terkekeh pelan lalu kembali meneguk minumannya dan.
PRANG!!
Ia melempar botol itu dengan kasar, Javier berdiri menghampiri Sekretaris Han dengan berjalan sempoyongan. Ia sudah sangat mabuk sekarang.
Tentu saja, beberapa botol minuman itu berisi alkohol dengan kadar 65℅.
Ia menarik kerah baju Sekretaris Han, bau alkohol begitu menyengat dari nafas Javier. Sekretaris Han masih terlihat santai, ini bukan kali pertama ia di jadikan pelampiasan tuan nya.
Mata Javier menatap tajam Sekretaris Han. Emosi mendominasi seluruh tubuhnya, rasa kecewa, marah, sedih dan juga rindu membentuk sebuah amarah di dalam diri Javier De Willson sekarang.
"Kenapa?!"
"Kenapa, Han?!" Javier setengah membentak sekretarisnya itu.
Emosi nya mulai memuncak ia berteriak kepada sekretarisnya dengan penuh amarah seraya terus mencengkram kerah baju sekretaris Han.
"KENAPA KAU SELALU MENGATAKAN HAL YANG SAMA DENGAN PAK LIAM. KENAPA KAU BERKATA OMONG KOSONG SEPERTI DIA..
KENAPA?!!"
"BERAPA RATUS KALI AKU MENDENGAR KALIMAT ITU DARI KECIL!! MOM AKAN KEMBALI SETELAH SEMBUH DARI DEPRESINYA!! NYATANYA APA... SEKALIPUN AKU TIDAK PERNAH BERTEMU DENGANNYA LAGI!!"
"KENAPA KAU TIDAK BILANG SAJA KALAU MOM SUDAH MENINGGAL SEPERTI DAD, HAN!!"
"APA KALIAN TIDAK SADAR KALIMAT ITU MEMBUAT HARAPANKU TERHADAP MOM JAUH LEBIH BESAR!! AKU BERHARAP IA MASIH HIDUP DAN KEMBALI KESINI!!"
"Dimana dia... ibuku...hiks..."
Tubuhnya perlahan merosot ke bawah sampai akhirnya ia bersimpuh di hadapan sekretaris nya sendiri.
Han tak mampu bersuara, ia menghela nafas berat dan memejamkan mata sesaat melihat kekacauan tuannya untuk kesekian kalinya. Ia berusaha untuk tidak menangis walaupun matanya berkaca kaca.
Sekretaris Han adalah teman main Javier sedari kecil, mereka tumbuh bersama, bermain bersama. Tak pernah terpisahkan layaknya saudara kembar. Sebelum akhirnya ia di angkat menjadi sekretaris pribadi oleh Javier.
Sekretaris Han orang yang paling tahu seberapa menderita nya Javier, identitasnya sebagai anak dari seorang mafia Ataric De Willson membuat semua orang berfikir Javier adalah manusia yang kuat dan kejam.
Nyatanya, kekejaman itu hanya menutupi luka nya yang belum sembuh.
"Aakkh..." Javier memegang dada nya. Entahlah, ia tidak tahu rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Apa karena terlalu banyak minum alkohol atau karena luka batin yang tertahan.
"Dad... Huuuuu...!!! Ia memanggil Ataric dengan tangisan yang masih belum berhenti.
"Tuan."
"A-aku... aku harus membunuh si tua itu, Han!! Haruss!! Dia yang membuat kekacauan ini!! Dia Han!! Dia harus mati, di tanganku!!"
"Aakhh!!" Javier kembali meringis memegang dada nya.
__ADS_1
"Berikan aku alkohol, Han!!"
Sekretaris Han menghela nafas. "Cukup, tuan!! Berhenti menyakiti dirimu sendiri!!"
"Berikan, Han!!"
"..."
"BERIKAN!!"
"CUKUP TUAN!! ALKOHOL TIDAK BISA MENGEMBALIKAN NYONYA BESAR!!" sekretaris Han tak kalah berteriak.
Ia mengacak ngacak rambutnya frustasi melihat tuannya, ia pun bingung bagaimana membuat Javier kembali sadar.
Tapi pandangannya tiba tiba mendapati Sky Alexander yang sedang mengintip di balik jendela tak jauh dari sana.
Terlihat Sky begitu kaget dengan pertengkaran antara tuan dan sekretaris nya ini sampai-sampai gadis itu menutup mulut dengan tangannya. Ekspresinya terlihat kaget dan bingung.
Sky yang sadar kehadirannya di tangkap oleh mata sekretaris Han, bergegas kabur dari sana tapi Han mengejar Sky lalu menarik lengannya.
"Jangan pergi, nyonya!"
Begitu Sky membalik Han langsung melepaskan genggaman tangannya.
"M-maaf... A-aku... aku tidak berniat menguping. Sumpah." Sky mengangkat dua jarinya.
"Tidak apa, nyonya... Anda berhak tau. Dan lagi, sepertinya tidak ada yang bisa menenangkan tuan Javier selain anda."
"A-aku?" Sky menunjuk dirinya sendiri dengan terkejut.
Mana bisa aku menenangkan macan yang sedang mengamuk seperti itu. Bisa-bisa aku diterkam!
"Maaf sekretaris-"
"Saya mohon nyonya..."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***Bersambung...
Coment juga jangan lupa guys! hehe ❤***