
"Javier... Javier..." Sky mengguncang guncang bahu suaminya itu di pagi hari.
"Javier bangun..."
"Hmmm." Javier berdeham dengan suara seraknya di pagi hari.
"Javieeerrrr..."
"Apa?" tanya Javier dengan suara beratnya di pagi hari, ia masih enggan membuka mata.
"Lihat ini... lihat." Sky berbicara dengan panik seraya menunjuk lehernya.
Javier membuka matanya perlahan, ia mendapati leher Sky yang penuh dengan bercak merah. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan serangga buas itu.
Javier menyunggingkan senyumnya lalu menyembunyikan wajahnya di bantal. Ah, Sky Alexander tidak boleh melihat senyumannya.
"Sergio bilang, mungkin akan bertambah dua gigitan. Tapi kenapa jadi banyak seperti ini," ucap Sky dengan menekuk wajahnya.
Diam-diam Javier melihat ekspresi istrinya itu, ah menggemaskan.
Javier tidak menjawab apapun, ia menarik lengan Sky sampai jatuh ke pelukannya.
"Tidurlah, ini masih pagi. Kau membangunkan ku karena ulah serangga buas itu," ucap Javier tanpa membuka matanya dan mengelus ngelus punggung istrinya dengan lembut.
"Kamar ini banyak serangga nya, bagaimana kalau kita bersihkan saja. Kita bisa ganti selimbut, seprai nya, bantal nya." Kata Sky yang membuat Javier tersenyum dengan mata tertutup, ah ia sangat ngantuk karena semalam harus bergadang membuat maha karya di leher istrinya.
"Tidak perlu, Sky. Serangga nya tidak banyak. Hanya satu. Tapi terlalu buas saja."
Javier merapatkan tubuh gadis itu, memeluknya erat.
Cup.
Ia mencium puncak kepala Sky. "Tidurlah, ini hari libur. Aku ingin bangun siang bersamamu."
Sky mengangguk perlahan, lalu menutup matanya kembali.
Sampai akhirnya pukul sembilan pagi mereka baru keluar dari kamar. Javier menuntun istrinya untuk sarapan ke bawah. Sky sempat menolak karena malu lehernya di penuhi bercak merah.
Bahkan mereka sempat berdebat, Sky ingin turun memakai syal tapi Javier melarangnya dengan alasan bercak merah itu bukan aib yang harus ditutupi. Oh tentu saja, pagi ini Javier ingin pamer ke semua orang dengan hasil maha karya nya yang luar biasa. Ia sampe harus bergadang membuatnya karena sesekali Sky mengerang hampir bangun.
"Selamat pagi, Pak Liam." Sapa Javier menuntun istrinya ke meja makan.
"P-pagi tuan." Pak Liam menyapa dengan heran. Sejak kapan Javier menjadi ramah seperti ini. Bahkan sampai menyapa nya.
Dan lagi, wajah Javier terlihat begitu riang pagi ini.
"Pagi, Pak Liam," ucap Sky.
"Pagi Nyo---" ucapan Pak Liam terhenti melihat leher Sky.
Pak Liam beralih melihat Javier, pria itu menyunggingkan senyumnya dengan bangga di meja makan. Seolah olah berkata itu perbuatanku.
"Pagi nyonya." Pak Liam mengulang sapaan nya dengan tersenyum.
Banyak sekali bercak merahnya, anda terlalu buas tuan.
Pak Liam berbicara dalam hatinya seraya menggelengkan kepala. Javier yang melihat Pak Liam seperti itu justru malah semakin tersenyum.
"Kau mau makan apa?" tanya Sky.
__ADS_1
"Hmmm... apa saja."
Sky mengambil sandwich dan menyimpannya di piring Javier.
Sementara dirinya mengambil omlet.
"Makan sayur, Sky."
"Aku tidak mau."
"Kau harus makan sayur."
"Aku tidak suka sayur."
Javier mengambil salad di meja.
"Aaaa... Buka mulutmu."
Sky menutup mulut dengan tangannya.
"Sky sedikit saja!"
Sky menggeleng.
Javier menghela nafas pasrah dan kembali menyimpan sendok isi salad sayur itu.
"Javier, aku ingin main ke bawah." Sky meminta ke ruang bawah tanah.
"Hm. Setelah kau makan sayur tapi."
Sky mendengus, kenapa seperti ini. Javier melirik Sky yang sibuk menusuk nusuk omletnya dengan muka cemberut. Pria itu menarik sudut bibirnya tersenyum. Sky selalu menggemaskan ketika cemberut seperti itu.
"Oke... oke... kita ke bawah setelah sarapan." Javier mengalah.
Javier mengangguk dengan senyuman. Mereka akhirnya sibuk dengan sarapannya masing masing.
Setelah sarapan sesuai janjinya, Javier membawa Sky ke ruang bawah tanah. Kali ini mereka ke bawah menggunakan lift.
Seperti biasa di ruang bawah tanah yang ricuh dan berisik itu seketika hening kala mendengar suara lift khusus tuannya itu berbunyi.
"Selamat pagi tuan... nyonya..." Mereka membungkukan badan tanda hormat.
Javier keluar dari lift menggandeng tangan istrinya. Sengaja Javier menuruti keinginan Sky karena ia juga punya tujuan sendiri.
Yaitu memperlihatkan hasil maha karya di leher istrinya kepada ratusan pelayan di ruang bawah tanah.
Sky tersenyum ke arah mereka. Mereka sendiri ada yang melongo melihat leher Sky, ada yang tersenyum kaku, ada juga yang saling berbisik.
"Javier, sepertinya mereka melihat leherku," bisik Sky.
"Tidak apa. Mereka tau itu gigitan serangga," jawab Javier seraya ikut berbisik.
Sementara yang para pelayan bisikan.
"Kau lihat leher nyonya, Sky. Banyak sekali."
"Itu namanya tanda cinta."
"Gila ya, tuan Javier hebat bisa membuat tanda cinta sebanyak itu."
__ADS_1
"Seandai nya aku punya suami seperti tuan Javier, aku yakin setiap pagi tubuhku remuk."
"Sikap tuan Javier cocok dengan tubuhnya yang kekar. Uhhh... nyonya Sky pasti kewalahan!"
"Sssttt... jangan berbicara sembarangan. Kau mau mereka mendengar ucapanmu!"
Sementara itu Javier dan Sky berjalan ke pantry menghampiri salah satu chef yang membuat pancake cherry kesukaan Javier.
"Pa-pagi tuan..." sapa Chef Bara.
Javier menganggukan kepala menerima sapaan chef itu.
"Aku ingin pancake."
"Baik." Chef Bara segera mengambil pancake yang sudah matang.
"Ini tuan." Javier mengambil sendok.
"Aaaa..." Javier menyuapi Sky di dapur. Di tengah - tengah kerumunan para pelayan. Membuat mereka gemas sendiri melihat pasangan ini.
Mereka tidak pernah melihat keromantisan Javier bersama perempuan lain selain Sky. Saat bersama Zivania, Javier tidak pernah menginjakkan kakinya di ruang bawah tanah. Zivania selalu berkeliling sendirian di mansion ini.
Dan Carla? Ah mana mungkin Javier mengajak Carla ke ruang bawah tanah. Mengenggam tangan perempuan mata duitan itu saja tidak mau.
Selepas makan pancake mereka masuk ke markas Yakuza tempat Athes dan yang lain sering berkumpul.
Tapi hari ini entahlah mereka kemana, mereka menghilang begitu saja.
Membuat Javier leluasa berduaan dengan istrinya. Mereka duduk di sofa dengan Sky yang menyenderkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.
Suasana ruangan yang hanya di hiasi lampu remang remang dan juga beberapa lukisan klasik membuat mereka begitu nyaman berduaan.
"Javier..."
"Ya." Javier mengelus rambut istrinya.
"Apa itu Yakuza?" tanya Sky yang melihat tulisan di dinding.
"Semacam kelompok mafia."
"Kau pasti pemimpinnya."
"Tentu saja."
"Orang seperti apa yang kalian bunuh?"
"Yang menganggu kami. Mereka tidak akan bergerak tanpa suruhanku Sky." Jawabnya tanpa berhenti mengelus rambut istrinya.
"Kau tidak pernah merasa bersalah?"
Javier menghela nafas dengan pertanyaan yang satu ini. Jika di tanya, ia ingin sekali hidup normal seperti orang lain. Hidup tanpa musuh dan tembakan. Tapi mau bagaimana lagi, ini hidup yang harus ia jalani.
"Itulah sebabnya aku bilang, aku dan yang lain hanya membunuh mereka yang menganggu kami. Jika tidak mau mati tidak usah mendekat."
"Maaf," lirih Javier membuat Sky mendongak.
"Aku membawamu ke hidupku yang seperti ini. Kau mungkin akan lebih sering mendengar suara tembakan sekarang."
Sky masih hening, ia masih memandang Javier yang menatapnya dengan rasa bersalah.
__ADS_1
Sedetik kemudian ia tersenyum lalu memeluk Javier. "Aku yakin bersamamu semua akan baik baik saja..."
Bersambung....