
"Kau bukannya membantu malah menyorakiku dan si nenek tua itu!" Sky mencibikan bibirnya kesal.
"Sshh.. itu sakit!" ia mendesis kala Javier menekan keningnya yang bengkak.
"Jadi kau ingin dibela?" Javier mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak!" Sky membuang muka ke arah lain. "Lagi pula aku tidak selemah itu," lanjutnya.
Javier terkekeh dan kembali mengompres kening Sky yang membiru. Sky tidak mengerti kenapa tiba tiba keningnya membengkak, yang ia tahu tadi ia main jambak jambakan bersama Carla. Ketika bertengkar ia tak merasa kesakitan walaupun mungkin tadi Carla mempunyai peluang memukulnya. Tapi sakitnya baru terasa sekarang.
Javier menghela nafas. "Maaf." terlihat raut sedih di wajahnya.
"Seharusnya aku tidak membiarkan mu bertengkar dengan Carla. Wajahmu jadi jelek seperti ini sekarang-----Arrghhh." Javier menjerit kala Sky mencubit pinggangnya keras.
"Kau meminta maaf tapi menghina ku!"
Tok tok tok
"Masuk."
Sekretaris Han masuk ke kamar Javier, sebelum berbicara ia sempat melihat kening Sky yang bengkak. Oh macan betina yang malang.
"Ada undangan dari perusahaan O'Brien."
"Undangan apa?"
"Hanya merayakan pesta untuk para petinggi perusahaan. Sekaligus dia ingin memperkenalkan seorang CEO baru di perusahaannya."
"Aku tidak tertarik."
"Baiklah." Sekretaris Han hendak pergi tapi langkahnya terhenti oleh suara Sky.
"Aku ingin pergi ke pesta itu."
"Apa maksudmu?!"
"Aku ingin melihat bagaimana pesta orang kaya."
"Maaf nyonya anda tidak bisa pergi."
"Kenapa?" Tanya Sky dengan mengerutkan dahinya.
"Istirahatlah. Aku ingin bicara berdua dengan sekretaris Han."
Javier meninggalkan kamar diikuti Sekretaris Han di belakangnya.
"Bagaimana menurutmu jika aku membawa Sky ke pesta itu?" tanya Javier yang sedang menuruni anak tangga.
"Tidak bisa tuan. Pernikahanmu dan Nyonya Sky hanya diketahui oleh kerabat terdekat dan rekan bisnis yang kau percayai saja. Sementara disana mungkin ada musuhmu juga yang akan datang."
"Seperti O'conner grup?"
"Ya tuan."
Javier duduk di sofa keluarga ia menghela nafas. "Tapi dia ingin pergi."
"Satu satunya istri yang bisa kau bawa hanya nyonya Carla."
Pernikahan Javier dan Carla memang bersifat publik. Pernikahan mereka di siarkan di televisi sebagai pernikahan termewah di negara ini.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain agar aku bisa membawanya? tidak sebagai istriku tapi sebagai orang lain."
"Akan aku pikirkan caranya tuan." Javier mengangguk.
"Dimana si gila itu?"
"Philip?" Javier mengangguk.
"Sedang menidurkan momo."
"Jangan bilang-"
"Ya tuan. Mereka tidur di salah satu kamar di mansion ini."
Rahang Javier mengeras menandakan kekesalan.
"Kurang ajar!"
Javier bangkit dari duduknya hendak menghampiri Philip tapi baru saja beberapa langkah Sekretaris Han kembali berbicara.
"Thomas sudah menunggumu untuk membahas kematian Jacob."
"J-Jacob mati?" Sekretaris Han mengangguk pelan. Terlihat raut kecewa yang begitu besar atas kematian Jacob di wajah Javier. Pria itu segera berlari memasuki lift untuk masuk ke lantai tiga diikuti sekretaris Han.
Hanya Javier dan sekretaris Han yang bisa masuk ke ruangan rahasia itu. Ruangan yang hanya di gunakan untuk membuat sebuah rencana besar bagi mereka.
Thomas sedang duduk santai seraya mengisap rokoknya ketika melihat Javier keluar dari lift bersama sekretaris Han.
"Dimana dia? Dimana kau menemukannya Thomas?" tanya Javier tak sabaran
"Di sebuah desa terpencil yang jauh dari perkotaan. Ada seseorang yang menghubungiku lalu mengatakan Jacob ada di desa itu. Ku pikir orang yang menghubungiku bagian dari Yakuza ternyata bukan. Nyatanya setelah aku sampai disana Jacob sudah tak bernyawa dengan beberapa tusukan di tubuhnya."
"****!!" Javier mengusap kasar wajahnya ia begitu kesal dan marah dengan kematian Jacob. Bertahun tahun ia mencari Jacob tapi sekarang pria itu sudah tak bernyawa. Jacob adalah saksi mata kematian ayahnya dan Jacob teman dekat dari si pembunuh ayahnya itu.
"Apa tidak ada keluarganya di desa itu?" tanya Javier kembali.
"Ada dua kemungkinan, si pembunuh Jacob membunuh seluruh keluarganya atau menyekapnya di suatu tempat."
"Jika benar istri dan anak Jacob di sekap oleh mereka, mereka tidak akan membawanya ke perkotaan. Mereka pasti masih disana," pekik Sekretaris Han.
Javier menghela nafas memijit pelipisnya. Sungguh moment ini yang paling ia tunggu tunggu, bertemu saksi mata pembunuhan ayahnya. Tapi sekarang, saksi mata itu sudah tiada. Bagaimana cara Javier menemukan si pembunuh itu.
"Aku akan menyuruh orang orang ku untuk mencari keluarga Jacob disana," ujar Javier kembali.
...... 🔪🔪🔪🔪 ......
Javier berdiri memandang pusara ayahnya dengan pakaian serba hitam dan tak lupa kaca mata hitam melekat di wajahnya. Di belakangnya ada Sekretaris Han, Thomas dan Juga Philip.
"Maafkan aku, Dad. Aku belum bisa menemukan si tua itu," ujarnya dengan suara lemah.
Sungguh, melihat pusara ayahnya seperti ini membuat dirinya begitu merindukan Ataric De Willson. Sosok ayah yang begitu lembut dan penyayang untuk Javier. Dari kecil Javier lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ayahnya dari pada ibunya yang jarang berada di rumah.
"Aku tidak akan pernah berhenti sampai tangan ku sendiri yang mengambil nyawanya!"
Philip menyikut lengan Thomas. "Thom, sudah sejam kita berdiri disini," bisik Philip. "Kapan kita pulang, aku belum memberi makan Momo," lanjutnya.
"Biarkan saja dia mati," jawab Thomas
"Sshhh... diam kalian berdua!" pekik sekretaris Han pelan.
__ADS_1
Javier berbalik menatap Philip. "Seharusnya kau membawa si babi itu kesini."
"Bolehkah?" tanya Philip.
"Tentu saja. Aku ingin sekali memperkenalkan Babi G*la itu kepada ayahku. Lebih bagus lagi jika dia dikubur disamping ayahku." Philip menelan salivanya kasar sementara Thomas tersenyum tipis, begitu juga dengan sekretaris Han.
Javier dan yang lain akhirnya kembali ke mansion utama. Seharusnya Thomas dan Philip tidak ada di mansion utama ini mengingat mansion ini hanya boleh dimasuki oleh keluarga besar saja. Tapi ada hal penting yang harus mereka bahas.
Biasanya Mansion kedualah tempat mereka berkumpul membahas sesuatu tapi ia tidak yakin Carla tidak akan merecoki dirinya.
Pak Liam dan beberapa pelayan sudah berjajar di teras mansion menyambut kedatangan Javier seperti biasa.
"Dimana Sky?"
"Di ruang bawah tanah tuan."
"Apa?!"
"Jangan bilang kau akan makan ice cream bersama Jonathan," batin Javier.
"Aku akan pergi ke tempat itu," ucap Javier seraya melangkah masuk ke sebuah Lift yang tak jauh dari sana.
"Kau mau pergi kemana bos?" teriak Philip.
Philip, sekretaris Han, Thomas dan Pak Liam saling memandang satu sama lain. Ini kali pertama semenjak Mansion ini dibangun seorang Javier De Willson mendekati Lift yang membawanya turun ke ruang bawah tanah.
Sejak kapan ia tertarik ke ruangan itu. Mereka akhirnya ikut berlari menyusul Javier yang baru saja hendak menutup pintu Lift.
Suasana di ruangan bawah tanah seperti biasa, ricuh dan ramai. Beberapa pelayan sedang memasak, membersihkan perabotan yang ada disana, bernyanyi tidak jelas, bercanda bersama temannya atau merecoki orang orang yang sedang bekerja sampai kesal.
"Hei Lea cepat ambil fotoku." Shella menyodorkan ponselnya kepada Lea.
"Kau bisa tidak jangan narsis terus menerus!"
"Lea kau berfoto ratusan kali dalam sehari," timpal Maria seraya memutar bola matanya malas.
"Lagi pula pekerjaanku sudah selesai dan aku tidak berniat membantu pekerjaan orang lain. So, aku bisa bersantai menikmati kecantikanku ini," jawab Lea dengan centil.
"Apa ada yang kekurangan Cherry?" Teriak Bibi Gail.
"Ada ada."
"Aku mau aku mau."
"Waahhh.. buah kesukaan tuan tampan kita nih." Shella hendak mengambil Cherry dari wadah yang Bibi Gail bawa tapi Bibi Gail segera menepisnya.
"Ini untuk Pie Cherry kesukaan Tuan Javier bukan untukmu!" ketus Bibi Gail.
"Satuuu ajaa.. pelit bangett Bibi Gail ini." Shella mengerucutkan bibirnya sebal. Sementara Lea dan beberapa temannya hanya menggeleng.
Tiba tiba
Ting.
Suara lift dari dekat mereka berbunyi, membuat suasana hening seketika, semua yang awalnya sibuk dengan kegiatannya masing masing kini diam mematung beberapa detik.
Tidak salah dengarkah mereka? Lift itu, Lift yang dibuat bertahun tahun tanpa pernah dipakai satu kalipun kini berbunyi.
Lift itu memang khusus dibuat untuk Javier, tapi tak pernah sekalipun pria itu menggunakan Lift ini karena memang tak pernah sekalipun Javier De Willson berkunjung ke ruang bawah tanah.
__ADS_1
Beberapa pelayan memandang lift dengan hati bergetar, akankah yang keluar dari lift tuan Javier atau bukan.
Jangan lupa like dan coment yaa hehe ❤