
Javier masih duduk sendirian dengan sesekali menyesap minuman nya. Sky masih menemani Liana. Aliandra masih di kerumuni Athes and the geng.
"Jadi cita-citamu dokter ya?" tanya Jonathan.
Aliandra mengangguk.
"Kenapa mau jadi dokter?" tanya Aiden.
"Karena itu pekerjaan yang paling berguna menurutku," sahut Aliandra.
"Pekerjaan kami juga berguna," ujar Sergio.
"Memang kalian kerja apa?"
Mereka saling menoleh satu sama lain, bingung harus jawab apa. Tidak mungkin mereka bilang pekerjaan mereka membunuh manusia.
"Ah lupakan saja," sahut Jonathan.
Aliandra hanya menatap bingung Athes and the geng.
"Aku mau bawa minum dulu," ujar Samuel.
Samuel pun pergi meninggalkan mereka semua menuju meja.
Aliandra memperhatikan langkah Samuel, ia menyipitkan mata kala melihat sesuatu di belakang celana lelaki itu.
Itu ... seperti pistol
Tak lama kemudian Samuel pun bergabung bersama mereka, walaupun mereka saling mengobrol tapi diam-diam Aliandra memperhatikan gerak-gerik mereka semua dari atas sampai bawah.
Dan Aliandra melebarkan matanya kala melihat Athes and the geng menyimpan pistol di belakang celana lelaki itu. Itu benar-benar pistol, Aliandra yakin tidak salah lihat.
"A-apa itu pistol?" tanya Aliandra.
Mereka semua pun melebarkan matanya dan saling menyikut.
Athes berdehem. "Ini pistol mainan," sahutnya seraya mengeluarkan pistol dan mengarahkan nya ke atas.
"Lihat, ini pistol mainan saja hehehe." Mereka terkekeh kaku. Tapi.
DOR
Semua orang menjerit, Aliandra mundur beberapa langkah, Liana bahkan ikut berteriak.
__ADS_1
"M-maaf ... tanganku tremor," ujar Athes yang tidak sengaja menembak. Untung saja pistol nya di bidikkan ke atas.
Sky langsung berlari menghampiri adiknya. "Al, tidak apa-apa kan?"
"Kak, mereka bawa pistol," tunjuk Aliandra dengan panik ke arah Athes and the geng.
Sky menoleh ke arah mereka sesaat lalu menarik tangan Aliandra keluar dari taman.
Javier yang melihat itu lebih memilih menyusul istrinya masuk ke mansion sementara Athes and the geng masih diam saking paniknya.
"Bagaimana ini?" tanya Aiden.
"Kau ceroboh, Ath," pekik Nicholas.
"Dia pasti kaget, manusia normal melihat pistol pasti ketakutan. Berbeda dengan manusia abnormal seperti kita," hardik Jonathan.
"Diamlah sial*n!! aku bingung harus apa sekarang," jawab Athes.
"Kau juga salah, Ath," ujar Sergio.
"Aku sudah bilang tanganku tiba-tiba tremor!!"
Sky dan Aliandra duduk di sofa, lelaki itu terlihat sangat panik. Sky bukan hanya harus menjelaskan kepada Aliandra saja, tapi kepada Liana juga. Ah, Athes membuatnya susah.
"Kak, mereka membawa pistol. Mereka siapa?"
"Aku juga punya pistol." Javier masuk seraya mengacungkan pistol di tangan nya.
Sky membalik ke arah suaminya seraya melotot. Javier menghela nafas dan duduk di samping Sky, Aliandra begitu panik dan bingung kakak ipar nya ini menyimpan pistol di meja.
"Itu pistol asli bukan mainan."
Sky menyikut meminta Javier untuk diam. "Sudahlah, sayang. Dia harus tau siapa aku dan yang lain. Mau bagaimana lagi, Athes yang memulai bukan aku."
Aliandra menatap bingung mereka satu sama lain. Sky akhirnya menghembuskan nafas pasrah saja.
"Apa kau pernah dengar kelompok mafia bernama Yakuza?" tanya Javier.
Aliandra mengangguk.
"Kau tahu siapa pemimpi nya?"
Aliandra menggeleng.
__ADS_1
"Menurutmu mereka ada dimana sekarang?"
"A-aku tidak tahu ..."
"Di depanmu," jawab Javier yang membuat Aliandra melebarkan mata seketika.
"M-maksudnya?"
"Ya, aku pemimpin nya dan Kakakmu itu istriku, enam lelaki yang mengajakmu berbicara itu anak buah bod*h ku!!"
Aliandra masih bergeming menoleh ke arah Sky meminta penjelasan. Sky hanya bisa mengangguk pelan membuat adiknya menghela nafas tidak percaya.
"Jangan takut, aku tidak jahat dengan Kakakmu, buktinya dia masih hidup sampai sekarang." Javier merangkul Sky di depan Aliandra.
"Kak ..." Nafas Aliandra terasa tercekat, ia tidak percaya Kakaknya bisa menikah dengan pemimpin Yakuza.
Ini bukan salah Kakaknya, ini salah Ayahnya yang menjodohkan Sky dengan Javier. Hanya itu yang ada di pikiran Aliandra.
"Bisa aku bicara berdua dengan Kakak ku?"
"Tidak!!" jawab Javier cepat.
Sky menyikut Javier dengan tatapan tajam agar Javier menjauh dulu dari dirinya dan Aliandra.
Javier hanya menghela nafas dan akhirnya mengalah saja. Ia beranjak kembali ke luar.
Aliandra yang melihat Javier sudah hilang dari pandangan nya beranjak duduk di samping Kakaknya.
"Kak ... aku tidak tahu harus bilang apa, aku tahu ini kesalahan Ayah bukan kemauan Kakak. Bagaimana kalau kita keluar saja dari tempat ini. Aku takut dia nanti akan membunuhmu," ucap Aliandra dengan nada paniknya.
Sky menghela nafas mengusap pundak adiknya. "Dia tidak akan membunuh Kakak, Al. Kalau dia berniat membunuh Kakak, sudah dari dulu dia lakukan."
"Aku tidak percaya. Sekarang saja aku Merasa kakak pura-pura bahagia di sini."
"MANA ADA!! KAKAKMU SANGAT BAHAGIA BERSAMAKU!!" teriak Javier di ambang pintu seraya bersidekap dada. Pria itu tidak kembali ke taman. Dia malah menguping, apalagi Aliandra berbicara cukup keras.
Keduanya menoleh ke arah pintu.
"Kau ... bisakah keluar kenapa malah diam di situ," teriak Sky.
"Sayang aku tidak mau ... adikmu berusaha mengajakmu kabur."
"AKU TIDAK AKAN KABUR. PERGILAH DULU, BY!!" teriak Sky.
__ADS_1
Javier mendengus, menatap horror Aliandra. "Beruntunglah karena kau adik istriku!!" gumam Javier sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.
Bersambung