
"Ibumu sering keluar dari rumah karena menemuiku ... dia memohon agar aku tidak membunuh Ataric sampai akhirnya aku tau Ataric sakit keras dan pasti akan mati!! kau adalah incaran ku dari awal, seharusnya aku membunuhmu ketika kau masih berusia enam belas tahun. Tapi karena aku terlalu menyayangi adikku ini, aku menuruti keinginan nya untuk membunuhmu di usiamu ketika menginjak tiga puluh tahun. DAN ITU ADALAH PENYESALAN TERBESARKU KARENA MENURUTI KEINGINAN DIA!!" Teriak Sandic menoleh geram ke arah Rania.
"M-mom ..." lirih Javier melirik Rania dengan tertegun, ia pikir Ibunya tidak mencintai Ayahnya karena sering keluar rumah dan berdalih shopping dan shopping. Nyatanya Ibunya melindungi dirinya di usia enam belas tahun, dimana saat itu Javier belum bisa bela diri.
"Kau atau Ibumu yang akan mati!!" Sandic membidikkan pistol nya ke kepala Rania membuat Javier dan Xander melebarkan matanya.
"M-mom ..."
Rania menggeleng dengan air mata membasahi pipinya.
"Maafkan Mom ... hiduplah dengan baik, Jav. Biarkan Mom menebus kesalahan Mom karena tidak mengurusi mu dengan baik ..."
Javier menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Tidak ... tidak Mom."
Javier menoleh ke arah Sandic. "Biarkan aku menggantikan Ibuku ..."
Xander dan Rania sontak membulatkan mata. "Jangan gila! aku tidak mau cucuku kehilangan Ayahnya!!"
Javier menoleh ke arah Xander. "Kau bisa menjaga nya ..."
Javier melempar senjata nya membuat Xander semakin terbelalak.
Xander menahan tangan Javier tapi Javier melepasnya dengan kasar. Ia berjalan perlahan mendekati Sandic, mengulurkan tangan nya untuk menggantikan Ibunya.
Tapi dengan cepat ia menendang aset berharga milik Sandic, sama seperti yang Sky lakukan dulu terhadapnya. Aset berhaga di tendang membuatnya tak bisa bergerak dan dengan cepat Javier menembak kepala Sandic. Pistol yang Javier gunakan hanya pistol cadangan yang ia simpan di belakang baju nya.
Rania menjerit dan berlari ke belakang tubuh Javier, Sandic sempat mengangkat tangan nya yang memegang pistol tapi hanya sesaat, tangan itu kembali jatuh pertanda Sandic sudah mati.
Xander menghembuskan nafas lega, Javier melempar pisau cadangan nya.
Tiga mobil melaju ke Markas mudork. Athes and the geng, Sekretaris Han dan Thomas selamat dan berhasil membunuh anak buah mudork dengan bantuan Antraxs.
Semua saling terhubung dan saling memberitahu keadaan masing-masing sampai akhirnya
Mobil pertama ada Philip, Sky, Maxime dan Miwa. Sisanya di mobil kedua dan ketiga.
"Mom kita mau kemana?" tanya Maxime.
"Kebun binatang," sahut Miwa asal.
Sky terkekeh pelan."Bukan kebun binatang ... kita akan bertemu, Dad," sahut Sky.
__ADS_1
"Aaahhh Mommy ... mau kebun binatang," rengek Miwa.
"Mau lihat apa?" tanya Sky.
"Liat eumm ... monkey," sahut Miwa.
"Nih ada huahahaha," sambung Maxime menunjuk Philip dengan tertawa.
Philip hanya berdecak melihat Maxime dari spion depan dan Sky hanya bisa menggelengkan kepala dengan menahan tawa nya.
Mereka sampai di markas Mudork, semua mayat yang berserakan tadi sudah di bereskan oleh Antraxs agar tidak di lihat oleh keempat bocil itu.
Javier, Rania dan Xander keluar dari Markas dengan tersenyum ke arah Sky. Sekarang istrinya aman dari incaran mudork.
Sky menatap bingung perempuan yang bersama Javier itu.
"Daddyyyy ..." teriak Maxime dan Miwa berlari ke arahnya.
Javier melentangkan tangan menyambut mereka.
"Kalian baik-baik saja twins?" tanya Javier.
Keduanya mengangguk. "Ya Daddy."
Athes and the geng dan yang lain keluar dari mobil. Sekretaris Han menggendong Arsen dan Thomas menggendong Tessa.
"Siapa mereka?" tanya Rania.
Sky menghampiri Xander dan memeluknya. "Kau baik-baik saja, Dad?"
"Tentu saja," balas Xander mengacak-ngacak kepala putrinya dengan gemas.
"Dad?" Rania menaikkan satu alisnya. Rania tahu Xander adalah sahabat dekat Ataric dan setahu dirinya Xander tidak menikah. Apa dia menikah ketika dirinya di sekap Sandic.
"Dia anakku," ucap Xander.
Sky menoleh bergantian ke arah Rania dan Ayahnya.
"Dia mertua mu," bisik Xander di telinga Sky.
Sky melebarkan matanya. "M-mertua?"
__ADS_1
"Iya sayang," sahut Javier. "Dia Ibuku ..."
"Tapi ---"
"Aku akan menjelaskan nya nanti." Javier menghampiri Sky dan memeluk istrinya lalu mencium pipi Sky dengan gemas.
"Sopanlah sedikit di depan mertuamu ini," ucap Xander kepada Javier dengan tatapan kesalnya.
"Beginilah enaknya punya istri," sahut Javier seraya menaikkan satu alisnya dan tersenyum remeh kepada Xander. Tentu saja meremehkan Ayah mertua nya yang tidak punya istri ini.
Sementara Rania masih menatap semuanya dengan bingung. Apalagi dua bocil ini terus menatap nya tanpa berkedip dengan mata bulatnya itu.
"Kenapa yang cowo itu mirip dengan Javier saat kecil," batin Rania.
"Dia Nyonya besar?" tanya Samuel kepada yang lain.
"Iya sepertinya," sahut Sergio.
"Tapi kenapa ada di markas ini?" tanya Aiden heran.
"Iya juga, kenapa ada di sini," sahut Athes.
"Oma siapa?" tanya Maxime.
Javier menoleh ke arah Maxime lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan dua anak itu.
"Itu grandpa ..." Javier menunjuk Xander.
"Dan itu grandma." Kini Javier menunjuk Rania.
"A-apa?" Rania semakin bingung.
"Dia cucumu ..." sambung Xander.
"Cucu? dia anakmu, Jav?"
Javier mengangguk lalu Rania mengalihkan pandangan nya ke arah Sky.
"Kau ..."
"Istriku," sahut Javier.
__ADS_1
Bersambung