Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#111


__ADS_3

Javier sedang sibuk dengan laptop di atas meja. Setelah makan malam Sky kembali ke kamar, hanya untuk bermalas-malasan dan main hp saja.


Sementara Javier sedang mencari data Hanna di laptop milik Ataric dulu. Javier menemukan data Hanna tapi tidak dengan tempat terakhir dia keluar dari mansion. Entah dimana dia tinggal sekarang.


Javier menghela nafas kasar, sulit sekali mencari data pelayan wanita itu.


"By ..." panggil Sky.


Javier menoleh dengan tersenyum. "Kemari sayang ..."


Sky mendekati Javier dan pria itu segera meraih tangan Sky lalu menarik Sky untuk duduk di pangkuan nya.


"Sedang apa?" tanya Sky.


"Mencari kemungkinan pelayan wanita yang hampir membunuhmu," sahut Javier.


Sky mengangguk-ngangguk. "Ohh ..."


"Kau masih berfikir Ayahku yang hampir membunuhmu hm?"


"Aku tidak tahu, By ..."


Javier tersenyum lalu menggendong tubuh Sky.


"Mau kemana?" tanya Sky.


"Diamlah ... aku mau mengajakmu ke tempat favoritku dan Ayahku dulu."


Mereka menuruni anak tangga, Javier berjalan ke salah satu pintu kulkas yang sekalipun Sky tidak pernah melihat pintu kulkas itu terbuka.


"Kenapa membawaku ke depan kulkas?"


Javier tersenyum mencium kening Sky. "Lihat ini ..."


Pria itu menempelkan telapak tangan nya sebagai sidik jari, terdengar suara tanda pintu kulkas bisa di buka.

__ADS_1


Dan ketika pintu kulkas itu di buka oleh Javier, bukan kulkas biasa tempat penyimpanan makanan. Sky melebarkan mata tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Ada sebuah ruangan besar di dalam sana, di desain dengan warna coklat tua dan beberapa rak buku menjulang tinggi dengan banyaknya buku di sana. Entah memang buku untuk pajangan atau memang Ataric suka membaca.


Di dalam sana juga lebih banyak barang-barang antik, berbeda dengan ruangan yang lain, yang terkesan modern.


Javier membawa Sky masuk dalam gendongan nya, ketika mereka sudah masuk pintu kulkas itu otomatis tertutup dan terkunci lagi.


Javier menurunkan Sky yang masih terpesona dengan ruangan ini.


"Jadi pintu tadi bukan pintu kulkas?" tanya Sky.


"Bukan," sahut Javier.


"Sengaja Ayahku dulu membuat pintu itu berbeda dari pintu biasanya agar orang-orang berfikir itu hanya lah kulkas biasa dan tidak penasaran untuk membukanya."


Sky mengangguk-ngangguk. "Ohh ... siapa saja yang tahu soal ruangan ini?"


"Aku, Han dan Ayahku saja," sahut Javier.


Sementara Javier perlahan mundur dan mundur sampai berhenti di saklar lampu. Ia menatap sebentar istrinya yang masih berkeliling memandang hiasan antik di sana.


Javier menghela nafas semoga kali ini Sky tidak pingsan karena trauma nya lagi.


Dan seketika lampu pun mati. Ruangan yang luas itu benar-benar gelap, semuanya hanya terlihat hitam.


"By ..." Javier bisa mendengar Sky memanggilnya dengan gemetar.


"By ..." panggil nya lagi, kali ini terdengar panik.


Sampai akhirnya ratusan bintang menyala di atas langit-langit ruangan itu. Sky menengadah dengan tatapan takjub sekaligus bingung.


Ratusan lampu bintang dan satu bulan sabit di tengah-tengah itu tampak indah menghiasi ruangan favorit Javier dan Ataric.


Tubuh Sky melonjak kaget kala Javier tiba-tiba memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Kau suka hm?" bisik Javier.


Sky dengan cepat mengangguk. "Indah ..."


Javier tersenyum, sekarang hidupnya tidak sehampa dulu. Hanya satu hal yang harus Javier lakukan setiap harinya mulai sekarang, yaitu membuat istrinya bahagia.


Javier memasang ratusan lampu bintang dan satu lampu berbentuk bulan sabit itu satu hari sebelum hari ulang tahun istrinya. Walaupun ketika memasangnya Javier belum tahu akan baikan atau tidak dengan Sky Alexander. Kalaupun di hari ulang tahun nya Sky masih enggan berbicara dengan nya, tak apa. Ia masih punya waktu di lain waktu untuk menunjukan ruangan ini.


Ah, nyatanya tepat di hari ulang tahun Sky mereka malah kembali berc*nta.


Javier tidak minta siapapun untuk membantunya, ia berjuang sendiri menempel ratusan lampu bintang itu untuk istrinya, hanya bermodal tangga untuk naik ke atas lemari lalu berdiri di lemari itu untuk menempel lampu-lampu kecil yang indah.


"Selamat ulang tahun ..." bisik Javier.


Sky menoleh. "Kau ingat?"


Javier tersenyum. Ah, andai saja Sky tahu kalau si badut Teddy itu suaminya sendiri.


"Aku tidak mungkin lupa," sahut Javier seraya mengelus wajah Sky dengan lembut.


Sky tersenyum. "Terimakasih ..."


Javier semakin mempererat pelukan nya. "Maaf ... Aku tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu. Malah kehadiranku membawa kesulitan di hidupmu, sayang ..."


Javier mengingat Sky yang menjadi incaran mudork setelah menjadi istrinya. Seandainya gadis ini tidak menikah dengan nya, mungkin hidupnya akan baik-baik saja.


"Aku tidak merasakan hal itu," hardik Sky.


Javier tersenyum samar. Sky tidak tahu kalau dirinya dalam bahaya sekarang.


Javier menghela nafas. "Aku akan menjagamu ... aku janji. Jangan takut ketika kau ada dalam kesulitan dan tidak ada aku di sana, karena aku pasti akan menemui mu."


Sky tidak tahu harus apa dan harus bagaimana menjawab ucapan Javier karena dirinya sendiri tidak mengerti apa yang di katakan Javier sebenarnya.


Suaminya terlihat cemas tapi Sky tidak tahu kenapa. Ia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Javier.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2