
Mereka mengadakan pesta di malam hari untuk merayakan kemenangan mereka. Untuk manusia normal, merayakan pesta selepas banyak membunuh seseorang mungkin terlihat konyol. Tapi sekali lagi, keluarga ini jauh dari kata normal.
Di taman mansion pesta begitu meriah, apalagi banyak sekali orang baru yang ikut merayakan. Xander, Keenan, Liana, Kara, Rania dan empat bocil adalah orang baru yang melengkapi kebahagiaan mereka semua.
Mereka tertawa, bernyanyi dan menari. Empat bocil belum terlihat batang hidungnya. Entah kemana para bocil itu.
"Mom tidak menyangka kau tumbuh dengan baik, Jav. Kau sangat tampan sekarang dan sangat mirip dengan Daddy mu," ucap Rania meneliti wajah putra nya.
Javier tersenyum tipis. "Kau masih saja cantik, Mom."
Rania berdecak. "Kau ini, pintar sekali menggoda dari dulu." Rania tersenyum tapi tak lama senyumnya pudar karena ucapan Javier.
"Dad pasti beruntung memilikimu ..."
Rania menghela nafas. "Mom banyak menyakiti Ayahmu ... Mom bukan istri yang baik."
Javier memegang tangan Ibunya. "Kau terbaik, Mom. Karena melindungiku dan juga Dad."
"Permisi ..."
Pak Liam di ikuti Bibi Gail menyimpan minuman di meja Javier dan Rania.
Pak Liam dan Bibi Gail membungkukan badan ke arah Rania.
Rania tersenyum. "Aku merindukan kalian ... Pak Liam ... Bibi Gail ... Terimakasih sudah mejaga putraku dengan baik."
Pak Liam dan Bibi Gail tersenyum. "Kami juga merindukan anda, Nyonya. Kami senang anda pulang kembali ke sini. Dan tidak perlu berterimakasih karena kami sudah menganggao Javier seperti anak kami sendiri," tutur Pak Liam dengan sopan.
"Kalau begitu kami permisi ..." Pak Liam dan Bibi Gail pun pergi.
"Dimana mantu dan cucuku?" tanya Rania seraya celengak-celinguk mencari keberadaan Skg dan dua bocil itu.
"Mungkin sebentar lagi ke sini," sahut Javier lalu memberikan minuman kepada Ibunya.
Rania tersenyum, keduanya meminum minuman itu.
"Oh iya, Han juga berubah sekarang." Rania kembali menyimpan minuman nya.
"Ya, dia jadi gila," sahut Javier dengan pelan mengingat Sekretaris Han yang terlalu banyak bergabung dengan Athes and the geng sekarang.
"Apa?" tanya Rania.
"Tidak Mom tidak," sahut Javier.
"Siapa nama anak dan istrinya?"
"Kara .... dia sahabat kami saat kecil."
"Ah benarkah?"
Javier mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Sementara itu Thomas sedang mengobrol dengan Sekretaris Han dan Liana mengobrol dengan Kara.
"Aku tidak menyangka beliau masih hidup," ucap Thomas yang tidak pernah sekali pun melihat wajah Rania. Karena Thomas bergabung dengan Yakuza selepas Rania menghilang tanpa alasan yang jelas hari itu.
"Aku lebih tidak menyangka," sahut Sekretaris Han.
"Dan lagi kenapa harus Mudork yang menjadi Kakak Nyonya Rania," lanjutnya.
"Kita tidak akan bisa memilih siapa yang akan menjadi bagian dari keluarga kita," tutur Thomas.
"Han ..." Teriak Rania seraya melambaikan tangan.
Han berbalik dan berjalan menghampiri Rania.
"Iya Nyonya?"
"Duduklah, tidak perlu memanggilku Nyonya. Ataric menganggapmu putra keduanya, jadi panggil aku Mom juga oke."
Sekretaris Han mengangguk pelan lalu duduk di samping Rania.
Mereka hanya berbincang tentang awal mula mereka menikah dan berkenalan dengan Sky dan juga Liana.
Jangan tanya seberapa terkejutnya Rania mendengar alasan Javier menikahi Sky hari itu.
Sementara itu Sergio berjalan ke ujung taman, ke tempat yang jauh dari keramaian dan cukup gelap karena kurang pencahayaan di sana. Ia hendak pipis di dekat pohon, malas kalau harus berlari masuk ke mansion.
Ketika hendak membuka sleting nya tiba-tiba ia merasakan ujung bajunya di tarik-tarik oleh seseorang.
Kalau pria dewasa tidak mungkin menarik ujung baju. Perlahan-lahan kepalanya bergerak melihat siapa yang di bawah sana.
"ANJIR TUYUL ..." teriak Sergio begitu keras mengundang perhatian orang-orang di taman.
"Huahahaha ..."
Maxime dan Arsen tertawa keras melihat wajah kaget Sergio.
Bukan tanpa alasan Sergio menjerit, pasalnya Maxime dan Arsen tidak memakai baju di malam dingin seperti ini, mereka hanya memakai celana pendek saja dengan wajah sangat putih karena bedak. Tidak mungkin Sky pelaku yang mendandani dua bocil ini.
Maxime dan Arsen hanya cekikikan melihat Sergio mengusap dada seraya mengatur nafasnya.
"Ada apa?" tanya Javier dan Rania dengan panik menghampiri Sergio.
"Astaga ..." Rania sampai menutup mulut melihat penampilan dua cucu laki-laki nya ini.
"Max ... Arsen ... kenapa tidak pakai baju?" tanya Javier.
"Miw-Miw dan Tessa, Dad." sahut Maxime.
"Ya, Miw-Miw dan Tessa Daddy Aviel" sambung Arsen.
Javier menautkan alisnya bingung. Lalu dua bocil perempuan itu berlari ke arah mereka seraya berteriak memanggil Maxime dan Arsen.
__ADS_1
Dan lagi, dua bocil perempuan itu membawa peralatan make up yang mereka ambil di meja rias Ibunya.
Sontak Maxime dan Arsen berlari kencang seakan ketakutan oleh kenakalan Miwa dan Tesa.
Javier, Rania, Sergio dan semua orang yang ada di taman hanya menatap heran dengan ke empat bocil itu. Apalagi melihat wajah Maxime dan Arsen.
Javier mendengus, sekarang ia mengerti apa yang terjadi. Miwa dan Tessa sedang mendandani Maxime dan Arsen.
Kedua bocil laki-laki itu berlari karena tidak mau jadi bahan main make up - make up pan oleh Miwa dan Tessa.
Sky yang baru saja keluar dari dalam mansion berlari berusaha menangkap ke empat bocil itu dengan raut wajah kesal.
"Astagaaaa ... tidak ada yang mau membantuku?!!"
Apalagi ketika melihat Kara dan Liana malah asik berbincang membuat Sky naik darah saja.
*
Acara selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Sementara itu Sekretaris Han menghampir Javier yang sedang berdiri di balkon sendirian dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.
Sekretaris Han berdiri di samping Javier.
"Aku tidak menyangka akan ada hari dimana semua orang berkumpul di mansionku menghilangkan kesepian yang aku rasakan selama ini," ucap Javier seraya menatap taman yang berantakan sisa pesta tadi.
Sekretaris Han menghela nafas. "Ya, aku juga tidak menyangka aku punya anak sekarang."
Javier tersenyum.
"Ada apa?" tanya Sekretaris Han melihat Javier tiba-tiba senyum sendirian.
"Dulu aku pikir kau tidak jatuh cinta dengan seorang wanita karena kau mencintaiku. Aku pikir kau guy."
"Naj*s!!!" hardik Sekretaris Han.
"Aku hanya menunggu Kara sampai tidak mencari wanita lain," sahut Sekretaris Han kembali.
"Oh iya, Mom Rania benar adik Sandic?" Javier menjawa dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu kita masih satu keluarga besar dengan nya," sahut Sekretaris Han.
Javier menghela nafas. "Untuk manusia seperti kita, tidak ada yang namanya batas keluarga. Siapapun bisa menjadi musuh. Aku hanya berharap, kelak garis keturunan ku tidak ada yang membunuh satu sama lain."
"Sayang ..." panggil dua orang perempuan di belakang mereka.
Javier dan Sekretaris Han membalik. Sky dan Kara berdiri tak jauh dari mereka seraya tersenyum.
Kedua pria itu membalas senyuman dari istrinya masing-masing lalu berjalan menghampiri mereka dan memeluknya.
Bersambung
__ADS_1
(Bab selanjutnya salam perpisahan dari mereka)