
Maxime sedang memakai dasi di kamarnya, usianya sudah enam belas tahun sebentar lagi ia akan menyelesaikan sekolahnya.
Empat bocil itu tumbuh bersama dari kecil, mereka sudah remaja sekarang dan sekolah di sekolah yang sama.
"Maxime ..." rengek Tessa dengan manja membuka pintu kamar Maxime.
"Hmm ..." Sahut Maxime di depan cermin.
"Tugasku mana?" Tessa tersenyum setelah mengatakan itu, anak ini malas sekali mengerjakan tugas sekolah dan selalu mengandalkan otak cerdas Maxime.
Maxime menoleh seraya berdecak. "Tidak bisakah kau mengerjakan tugasmu sendiri hm!"
Tessa menekuk wajahnya masuk ke kamar Maxime dan duduk di ranjang seraya menyilangkan kakinya.
Ia memperhatikan Maxime yang sedang memasukan buku ke dalam tas.
"Maxime aku akan di jemur di lapangan kalau tidak mengerjakan tugas," ucap Tessa seraya menatap sendu Maxime.
Maxime menghela nafas lalu melempar buku tugas Tessa.
"Yesss!!" Tessa mengepalkan tangan nya di udara dengan senang.
Tessa adik kelas Maxime di sekolah. Sementara Arsen yang seharusnya satu angkatan dengan Tessa malah satu angkatan dengan Maxime karena Arsen cukup pintar seperti Maxime.
Dan Miwa, anak itu sedikit telmi walaupun berada di kelas yang sama seperti Maxime dan Arsen.
Maxime menuruni anak tangga. "Pagi ..." sapa nya kepada orang-orang di meja makan.
"Pagi ..." sahut mereka semua.
Keenan, Athes and the geng masih ada di mansion. Mereka sudah menikah tapi anak-anak mereka tidak tinggal di mansion Javier. Mereka masih ada di mansion Javier karena menggantungkan hidupnya kepada pria itu.
Walaupun sudah jarang sekali Yakuza menyerang musuh tapi setidaknya mereka bisa bantu-bantu di mansion Javier.
Dan Athes and the geng sudah tidak muda lagi, mereka sudah ada yang berkepala empat sekarang. Walau begitu sikap mereka tidak berubah sama sekali.
Maxime duduk di depan Miwa dengan menatap tajam sang adik.
Javier yang melihat itu pun bertanya.
"Ada apa? kenapa kau melihat adikmu seperti itu?"
"Dia tidak mengerjakan tugas lagi, Dad," sahut Maxime membuat Sky berdecak.
"Miwa ..." panggil Sky dengan tegas.
"Mom ..." rengek Miwa. "Aku tidak bisa, sulit sekali soalnya."
"Kau tidak memperhatikan gurumu dengan baik," sahut Maxime.
"Aku memperhatikan, tapi otakku saja yang menolak mengerti pelajaran itu!" sahut Miwa seraya memutar bola mata nya malas.
__ADS_1
Javier berdecak. "Miwa kau ingin sesuatu?"
Tiba-tiba mata Miwa berbinar. "Boleh Dad?"
Javier mengangguk. "Kau boleh minta apa saja asal dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Miwa.
"Paling sedikit masuk lima besar," ucap Javier membuat Miwa menghembuskan nafas lalu menusuk-nusuk makanan nya dengan garpuh seraya menekuk wajahnya.
Maxime yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Lima besar terlalu mudah untuk Maxime yang selalu mendapat peringkat pertama.
"Bisa tidak?" tanya Sky. "Daddy mu selalu menepati janji, kau boleh minta apapun."
"Minta pesawat saja," usul Kara.
"Ya, biar kau bisa kabur," sambung Liana dengan terkekeh pelan.
"Kalian ini mengajari anakku yang tidak baik!" sahut Sky dengan kesal.
"Dulu aku peringkat 0 di sekolah, tidak ada yang menawariku apapun agar masuk lima besar," ucap Jonathan.
"Ya, aku juga." Sahut Samuel.
Uhukk ... uhukk ...
Xander yang hendak ikut menimbrung pembicaraan mereka malah tersedak. Sergio yang di sampingnya menepuk-nepuk punggung Xander.
Xander menepis kasar tangan Sergio. "Jangan sentuh aku!!"
"Pagi ..." teriak Tessa yang menuruni anak tangga.
"Pagi ..." sahut mereka semua.
Tessa tersenyum dan duduk di depan Arsen yang asik sarapan di saat yang lain mempermasalahkan Miwa yang tidak mengerjakan tugas.
"Kenapa bibirmu merah sekali!!" ucap Thomas dengan nada tinggi melihat bibir anaknya yang masih sekolah tapi riasan sudah seperti perempuan dewasa yang hendak masuk ke dalam club saja.
"Dadddyy ... ini lipstik mahal," sahut Tessa dengan memanyunkan bibirnya.
Liana menggeleng dengan sikap anaknya yang obsesi sekali dengan yang namanya make up.
"Dia lebih mirip pelac*r!!" sindir Keenan yang mendapat toyoran dari Thomas.
"Hati-hati kalau bicara Kakak ipar," sambung Sekretaris Han.
Tessa mendengus seraya menekuh wajahnya kesal dengan ucapan uncle nya yang satu ini.
"Kau cantik, tapi lebih cantik lagi jika bibirmu tidak terlalu merah seperti itu. Remaja sepertimu lebih cocok dengan make up natural saja," ucap Javier membuat Tessa kembali tersenyum.
"Benarkah Daddy Avier?" tanya Tessa.
__ADS_1
Javier mengangguk dengan tersenyum tipis.
"Memang cuman Tuan Javier yang bisa menasehati mereka berempat tanpa menyakiti hatinya," ucap Aiden.
"Oh iya, Philip masih sibuk?" tanya Sekretaris Han.
"Ya, dia sibuk dengan bisnis barunya," sahut Thomas.
"Huhh ... dia tidak mau menikah tapi sukses menjadi pengusaha," ucap Athes.
"Daddy ..." teriak Miwa seraya menggeplak meja.
Semua orang menoleh ke arahnya.
"Sekarang aku tau aku mau apa ..."
"Apa?" tanya Javier.
"Aku mau pacaran."
PLAK
Maxime menggeplak meja dengan kerasnya membuat semua orang terkejut bukan main.
"Apa kau gila?!!" teriak Maxime.
"Ke-kenapa?" tanya Miwa terbata, tubuhnya seakan menciut dengan kemarahan Kakaknya ini.
"Maxime ..." panggil Javier meminta Maxime untuk tenang.
"Dad, dia tidak boleh pacaran. Miwa masih kecil."
"Aku seumuran denganmu."
"Ya, dan itu belum waktunya pacaran!" sahut Maxime.
Maxime sangat posesif terhadap Miwa dan Tessa, tidak boleh ada lelaki yang mendekati adiknya ini di sekolah. Entah bagaimana jodoh Miwa dan Tessa menghadapi Maxime nanti.
Dan lagi, Maxime berubah menjadi pria yang dingin kala keluarga De Willson banyak di terror seseorang tidak di kenal hanya untuk menghancurkan perusahaan nya.
Dan di umur enam belas tahun ini Maxime dan Arsen sudah di latih mengembangkan perusahaan.
Bahkan Maxime juga sudah mengatakan kepada Javier lulus sekolah nanti ia akan menutupi identitas nya sebagai penerus De Willson group dengan alasan kebaikan. Karena hidup Maxime akan banyak terror dari orang-orang pastinya.
Bersambung
De Willson series 2 judulnya The Devil's Touch.
Mampir ke De Willson series 3 yang ini juga ya. Judulnya Pria Musim Dingin
__ADS_1