Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#71


__ADS_3

Javier pulang membawa Dokter Richard setelah menerima kabar dari Bibi Gail. Ia masuk ke kamarnya, Bibi Gail masih duduk menjaga Sky.


Gadis itu masih mengigil dengan mata tertutup. Bibi Gail beranjak dan membiarkan Dokter Richard dan juga Javier di kamar.


Javier terlihat sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


Dokter Richard segera memasang stetoskop dan memeriksa gadis itu.


Ia menghela nafas. "Istrimu telat makan dan sepertinya dia sedang stress juga."


"Aku menyimpan obatnya di sini." Dokter Richard menyimpan obat di nakas.


"Apa ada hal lain?" tanya Dokter Richard.


"Tidak. Pulang lah."


"Huh ... tadi memaksaku cepat datang seperti ada orang sekarat saja di mansion ini sekarang malah mengusirku," gumam Dokter Richard.


"Walaupun hanya memeriksa lima menit aku tetap memberimu gaji!"


Dokter Richard mendengus, untung saja Tuan nya ini kaya dan memberi gaji lebih besar dari gaji Dokter pada umumnya.


Javier hendak pergi keluar berniat mengambil makanan untuk Sky tapi gadis itu memanggil namanya.


"Javier ..."


Javier melangkah mendekati Sky. "Sky ..." Ia menggenggam tangan istrinya lalu mengelus kening Sky yang basah karena keringat dingin.


Tapi tak lama kemudian Sky kembali tertidur, ia tidak tahu dengan kehadiran suaminya sekarang.


Javier menghembuskan nafas, ia tersenyum tipis mengusap pipi Sky dan pergi membersihkan diri di kamar mandi.


Selepas mandi Javier merebahkan dirinya di samping Sky yang masih tertidur. Tak ada yang ia lakukan, ia hanya memandangi wajah istrinya.


Sampai akhirnya Sky membuka mata perlahan, ia meringis memegang kepalanya yang terasa berdenyut kemudian menoleh ke sampingnya dan.


"J-Javier ..."


Javier tersenyum.


Mereka saling berhadapan sekarang, Javier masih diam memandang istrinya.


"Javier ... maaf," lirih Sky.

__ADS_1


Javier tersenyum lagi mengelus wajah istrinya. "Kau tidak salah sayang. Aku yang meminta maaf karena membentakmu kemarin."


"Lalu kenapa kau pergi dan tidak pulang lagi?"


"Banyak pekerjaan di kantor."


"Bohong." Sky menekuk wajahnya. "Kau pasti ingin menjauhiku."


Javier menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Sky dan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana bisa aku menjauhimu, hm."


"Seharusnya aku tidak marah-marah seperti kemarin."


"Kau punya alasan kenapa marah hanya saja kau tidak mau bilang, sayang."


Sky mengangguk dengan maksud dia memang punya alasan atas kemarahan nya kemarin.


"Jadi kau kenapa?" tanya Javier.


Sky mengigit bibir bawahnya.


"Kenapa hm?" tanya Javier lagi.


"Zivania?"


Sky mengangguk.


"Aku ragu kau bilang sudah melupakan nya. Kau bersamaku belum sampai satu tahun, bagaimana bisa kau melupakan orang yang sudah bersamamu selama lima tahun."


"Kau menghitung cara seseorang melupakan mantan nya dengan berapa lama mereka berhubungan?"


Sky tidak menjawab. Javier bergerak berada di atas Sky sekarang. Ia memandang istrinya seraya tangan yang membelai wajah Sky.


"Aku berhubungan dengan nya lima tahun, apa harus lima tahun juga aku melupakan nya?"


Sky masih diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Perihal melupakan seseorang ia tidak tahu berapa lama karena Sky belum pernah pacaran sebelumnya.


"Sayang ... tidak harus selama itu melupakan seseorang yang tidak lagi ada dalam bagian hidup kita."


"Apa kau cemburu karena Zivania kembali kesini?" tanya Javier.


"A-aku."

__ADS_1


"Iya atau tidak?"


Akhirnya Sky pun mengangguk. Javier tersenyum.


"Jadi kemarahan mu kemarin karena cemburu? Kita bertengkar padahal inti dari masalah kemarin hanya cemburu?"


"Kenapa kau malah tersenyum." Sky mengerucutkan bibirnya.


Javier terkekeh lalu mencium kening Sky lebih lama.


"Aku sampai harus menjauhimu dan membakar surat perjanjian itu kemarin. Kalau aku tahu kau cemburu mungkin kemarin aku akan diam dan menidurimu saja."


"Huhhh ... kau ini." Javier memukul kening Sky dengan jari telunjuknya.


Sky masih mengerucutkan bibirnya. "Kau sampai dingin berbicara denganku di telpon kemarin."


Javier memeluk Sky. "Ah, maafkan aku sayang."


Pria itu kembali mendongak. "Bagaimana dengan perasaanmu? apa kalimatmu di taman itu benar-benar hanya omong kosong?"


"Aku mencintaimu ... dan itu bukan omong kosong."


Javier tersenyum senang. "Mulai sekarang belajarlah jujur dengan perasaanmu. Marah, kecewa, sedih, kau harus bilang. Jangan diam dan tiba-tiba marah. Seandainya ada yang menganggu pikiranmu tanyakan itu kepadaku. Mengerti?"


Sky mengangguk. Keduanya tersenyum.


"Sepertinya aku harus menjebak mu lagi untuk membuat surat perjanjian yang baru."


"Tidak perlu! Kita tidak membutuhkan itu lagi, Javier."


"Benarkah?"


Sky mengangguk.


"Tapi aku masih ingin morning kiss setiap hari," ujar Javier menekuk wajahnya.


Cup.


Sky mencium bibir Javier. Javier kaget dan senang di waktu bersamaan.


Ia membalas Sky dengan menghujani wajahnya ciuman bertubi-tubi.


Mereka tertawa dan berbaikan sekarang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2