Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#94


__ADS_3

"Ada apa dengan, Sky?" tanya Sekretaris Han yang melihat Javier masih memandang ponsel nya tanpa berkedip.


Hening.


Karena Javier tidak menjawab akhirnya Sekretaris Han mengambil paksa ponsel Javier.


Setelah membaca isi pesan tersebut, ia pun menggelengkan kepala.


"Ini misi berat, aku tidak ikut campur."


Thomas dan Philip saling melirik satu sama lain. Ada apa dengan kedua teman nya, jarang sekali Sekretaris Han bilang ada misi yang berat.


Thomas pun mengambil ponsel itu. Ia menghela nafas.


"Kalau misi yang ini, aku menyerah."


Philip menaikkan satu alisnya bingung. Karena penasaran ia pun mengambil ponsel Javier dari Thomas.


Baby Gembul : By dimana? apa masih lama?


Baby Gembul : By aku titip pembal*t yaa ...


Bang Gembul : Yang ada sayapnya ya, By.


"Pembal*t bersayap? sejak kapan ada pembal*t bersayap? dan untuk apa? apa perempuan akan terbang ketika memakai nya?" Philip melempar pertanyaan bertubi-tubi kepada tiga teman nya.


"Jangan tanya aku, bentuknya saja aku tidak tahu," sahut Javier.


"Kau kan suaminya," pekik Philip.


"Dulu Zivania tidak pernah meminta di belikan pembal*t juga?" tanya Thomas.


"Tidak," sahut Javier.


"Wah ... wah .. berarti hanya Sky yang berani menyuruhmu membeli ini," ujar Philip.


Javier berdecak dengan tangan memijat-mijat keningnya. Bagaimana ini, ia hanya tahu kalau barang itu di pakai untuk perempuan menstruasi, tapi bentuknya Javier tidak tahu. Dan lagi bersayap? sayapnya seperti apa?.


"Philip kau saja yang membeli barang itu."


"Kenapa aku? dia kan istrimu!"


Sekretaris Han menepuk-nepuk pundak Javier. "Misi kali ini hanya untukmu saja."


Javier mendengus sementara ketiga teman nya itu sedang menahan tawa.


"Huhhh ... habis berperang membeli pembal*t, siapa lagi kalau bukan Javier De Willson," sindir Philip.

__ADS_1


"Dan di suruh yang ada sayapnya pula." Thomas ikut mengolok-ngolok.


"Sky sepertinya ingin mengajakmu terbang." Sekretaris Han ikut bicara.


"Diam kalian!!" kesal Javier.


"Tuan, apa kita pulang sekarang?" tanya Athes yang tiba-tiba menghampiri mereka.


Javier mengangguk hendak melangkah pulang tapi Philip menahan nya.


"Tunggu ..."


"Apalagi?" tanya Javier.


"Apa kau yakin kita masih lengkap? maksudku apa formasi kita tetap lima puluh orang? kau meledakan bangunan tua itu bagaimana jika ada salah satu anak buahmu terkurung di sana tadi sial*n!!"


Philip tiba-tiba mengkhawatirkan anak buah yang lain.


Javier mengedarkan pandangan nya ke mereka semua. "Sepertinya masih lengkap."


"Aku tidak yakin, biar kita hitung saja."


Philip pun berjalan menghampiri mereka. "Kalian semua kumpul dan berbaris!!" teriaknya.


Mereka pun menurut, membuat barisan seperti sedang upacara hari senin.


Javier menghela nafas seraya menggelengkan kepala. Sekretaris Han dan Thomas pun melakukan hal yang sama, Philip kembali menggila.


"Hitung dari satu," teriak Philip kembali.


"MULAI!!"


Hening.


Masih hening.


Mereka saling menoleh satu sama lain karena tidak ada yang menghitung nomor satu.


Philip berdecak menoleh ke arah Javier. "Javier kau nomor satu sial*n!!"


Javier menghela nafas berat, kenapa dia harus jadi pemimpin.


"Satu." Javier menghitung dengan malas.


"Dua." Sekretaris Han.


"Tiga." Thomas.

__ADS_1


"Empat." Philip.


"Lima." Athes.


"Enam." Jonathan.


"Tujuh." Sergio.


"Delapan." Samuel.


"Sembilan." Aiden.


"Sepuluh." Nicholas.


Terus seperti itu sampai anak buah terakhir.


"Lima puluh."


Philip pun bertepuk tangan dengan formasi mereka yang masih lengkap. Yang lain pun ikut bertepuk dengan dan bersorak ria bahkan sampai bersiul.


Hanya Javier, Thomas dan Sekretaris Han yang diam menatap mereka datar. Hanya mereka bertiga yang sepertinya masih waras.


"Ini tidak seperti anak buah mafia," ujar Thomas. "Ini seperti sekumpulan anak TK yang hendak pergi tamasya," lanjutnya.


Sekretaris Han mengangguk setuju apalagi ketika melihat Sergio yang membawa tas gendong.


"Siapa kita?!" teriak Philip.


"YAKUZA!!" teriak mereka semua dengan tegas seraya mengepalkan tangan di udara dengan semangat.


"Siapa kita?!"


"YAKUZA!!"


"Hebat ...," ujar Philip seraya kembali bertepuk tangan. Mereka pun ikut bertepuk tangan lagi.


Javier menoleh ke arah Sekretaris Han dengan ekspresi datar. "Aku menyerah ... kau saja lah yang jadi pemimpin."


"Mana mau aku memimpin anak buah seperti mereka," sahut Sekretaris Han.


"Kalau Ayahmu masih hidup dia pasti tertawa melihatmu salah memilih anak buah Javier," lanjut Sekretaris Han.


"Itulah kenapa ketika mereka masuk kau seharusnya mengetes kejiwaan mereka dulu," pekik Thomas.


Javier hanya mendengus dan merebut kunci motor di tangan Thomas.


"Aku pinjam motormu, motorku meledak." Lalu ia melengos begitu saja ke motor Thomas. Sudah lelah dengan drama anak buah nya.

__ADS_1


Motor Javier ikut meledak karena pria itu masuk lewat jendela bersama motornya tadi.


Bersambung


__ADS_2