
Keesokan paginya Javier menunggu Sky di meja makan. Pandangan nya terus menatap pintu kamar yang masi saja belum terbuka.
Javier menghela nafas, membereskan beberapa hidangan di meja. Harus terlihat rapi untuk istrinya.
Sampai tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Sky berjalan menuruni anak tangga.
Javier segera beranjak menyambut istrinya di tangga.
"Sayang ... sarapan dulu."
Tak di sangka istrinya malah melengos begitu saja mengacuhkan Javier.
Javier berlari mengejar Sky dan menahan tangan nya.
"Mau kemana sayang?"
Sky menepis kasar tangan Javier. "Bukan urusanmu!!"
"Sayang ... kau tidak boleh keluar dari sini. Di luar sana bahaya," hardik Javier yang mengingat mudork masih mengincar Sky.
"Apa bahayanya?" tanya Sky ketus.
"Kau tidak akan mengerti, tapi tolong menurut lah. Aku tidak bercanda ..." Javier begitu memohon.
"Kalau begitu bilang, apa bahayanya? bukankah hal yang paling berbahaya itu ketika aku berada di dekatmu ..."
Javier bergeming, tak mampu lagi bersuara. Nafasnya terasa tercekat, apa istrinya sekarang takut dengan dirinya sendiri. Apa setelah ini Sky akan menjauh karena berfikir Javier akan menyakitinya.
"S-sayang ..."
__ADS_1
"Tidak usah memanggilku sayang lagi ... aku di sini karena menggantikan hukuman Ayahku," ujar Sky dengan ketus lalu melengos meninggalkan Javier.
Javier sempat beberapa kali memanggil istrinya tapi Sky mengacuhkan nya.
Dan lagi, Sky berpapasan dengan Zivania yang sudah pagi-pagi datang ke mansion.
Zivania sempat memandang bingung Sky yang cuek dengan kehadiran dirinya. Bahkan gadis kecil itu tidak menatap nya sama sekali.
Zivania menghampiri Javier. "Ada apa dengan dia? apa dia sudah menyerah dan memberikan mu kepadaku lagi?" tanya Zivania dengan tersenyum.
Javier tidak bersuara, tidak juga menanggapi perkataan Zivania. Ia hanya memandang sendu kepergian istrinya.
Sebelumnya Javier sudah meminta Aiden dan Jonathan untuk mengikuti Sky jika gadis itu berani keluar dari mansion.
Javier menaiki tangga dan memilih menenangkan diri di balkon. Dan Zivania pun mengikuti langkah Javier.
Pria itu duduk di sofa menengadah ke atap balkon dengan menutup mata berusaha menenangkan dirinya. Pak Liam dan Athes belum mendapatkan data para pelayan wanita yang di pecat dari mansion ini, mereka kesulitan karena data itu data lama yang sudah puluhan tahun yang lalu.
"Jav ... kalau kau sedang ada masalah bagaimana kita pergi ke taman green untuk menenangkan dirimu, kau suka sekali taman itu, bukan. Itu tempat favoritmu kau ingat?"
Zivania menguncang-guncangkan lengan Javier.
"Jav ... ayolah," rengek Zivania.
Javier menepis kasar tangan perempuan itu. Pria itu berdecak kesal. "Pergilah!! aku tidak suka lagi taman itu ... saking tidak sukanya aku tidak pernah membawa istriku ke taman itu!!"
Zivania menghela nafas, beberapa kali Zivania datang ke taman green untuk menunggu apa Javier masih datang ke taman itu atau tidak.
Setidaknya jika ia melihat Javier datang ke taman green ia akan berfikir jika pria itu masih mengingatnya walaupun hanya datang ke tempat favorit mereka dulu.
__ADS_1
Dan Zivaia sudah menyuruh seseorang untuk menunggu Javier di sana, nyatanya pria itu tidak pernah datang.
Javier kembali memejamkan matanya, Zivania di sampingnya hanya diam dengan sesekali menoleh ke arah pria itu.
"Aku tidak menyangka kau akan berubah sebanyak ini ...," lirih Zivania.
"Dan lebih tidak menyangka melihatmu malah bahagia dengan wanita lain ..."
Javier membuka matanya lagi. "Semua orang berubah ketika mendapatkan luka."
"Dan selalu ada orang lain yang menjadi obatnya," pekik Javier.
"Dan aku ingin menjadi obat itu, Jav," jawab Zivania.
"Luka dan obat tidak bisa sama. Aku butuh orang lain yang menjadi obatku. Dan istriku adalah obatnya ... jika kau sekarang terluka karena aku, cari obatmu sendiri. Karena bukan aku yang akan menyembuhkanmu, Zi ..."
Javier berkata dengan santai dan terdengar tulus. Pria itu tidak berbicara dengan nada tinggi lagi, tidak juga membentak Zivania.
Tapi nada bicara Javier malah semakin menyakiti hati Zivania. Perempuan itu memandang wajah mantan kekasihnya dengan sendu, tak percaya kalimat itu akan keluar dari mulut Javier.
"Impianmu sudah tercapai, Zi. Tapi kau tidak bisa mendapatkan aku lagi. Kau dengan impianmu ... dan aku dengan Sky ..."
Zivania menggeleng, sakit rasanya sampai air mata lolos begitu saja. Javier menoleh ke arah Zivania, melihat air matanya lalu kembali memalingkan pandangan ke depan.
Lihat, pria ini bahkan tak sudi menghapus air matanya lagi. Tak lagi memperdulikan berapa banyak air mata yang keluar.
"Jangan menangis, Zi ... air matamu sangat mahal aku tidak suka melihatnya."
Zivania mengingat kalimat Javier yang selalu keluar ketika ia menangis. Pria itu selalu menghapus air matanya dengan kalimat andalan nya yang menenangkan hati Zivania.
__ADS_1
Tapi sekarang, kalimat itu tidak ada beserta perasaan Javier yang sudah hilang terhadapnya.
Bersambung