Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#152


__ADS_3

Sekretaris Han melempar kasar pakaian kepada Javier yang termenung duduk di ranjang.


"Cepat pakai bajumu, kita ada meeting hari ini."


Javier mengerutkan dahi nya. "Lalu? urusan nya denganmu apa? kau bukan lagi Sekretaris."


"Kau mau membiarkan perusahaan mu hancur. Sekarang saja posisi mu ada di bawah perusahaan yang lain!!"


Sekretaris Han hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Javier. Pria ini walaupun perusahaan tetap di kendalikan oleh dirinya sendiri tapi tidak semaju saat ia bersama Sky. Semangat nya sepertinya ikut hilang.


Sampai Javier pernah berkata ia tidak perduli jika harus bangkrut sekalipun.


Javier mendengus. "Kita akan kalah memenangkan tender kali ini."


"Aku yang presentasi, bukan kau!!" sahut Sekretaris Han.


"Siapa lawan kita?" tanya Javier.


"Cepat saja pakai bajumu, tidak perlu tau siapa lawan nya!!"


Sekretaris Han pun keluar dari kamar berharap pria itu cepat pergi ke kamar mandi.


Ia sudah mengundurkan diri menjadi Sekretaris pribadi Javier. Tapi melihat perusahaan yang tiba-tiba menurun, ia tidak mungkin diam saja.


Setengah jam kemudian Javier keluar dari kamar. Dasi nya di biarkan menggantung di leher tanpa mau merapihkan, rambut nya juga di sisir asal-asalan. Ia melengos meninggalkan Sekretaris Han yang sedari tadi duduk di depan kamarnya seraya merokok.


Sekretaris Han berdecak. "Kau yang salah, kau yang menggila!!"


Pria itu pun akhirnya ikut menyusul Javier. Mereka pergi ke bandara lalu menaiki pesawat pribadi De Willson.


"Kemana?" tanya Javier.


"Negara X," sahut Sekretaris Han yang duduk di depan nya.


Javier yang semula sibuk menatap keluar jendela melebarkan mata seketika. Negara X adalah tempat tinggal istrinya.


"Kita pergi ke sana?"

__ADS_1


Sekretaris Han mengangguk. "Untuk meeting, bukan bertemu istrimu."


"Setidaknya aku punya kesempatan untuk menemui istriku," gumam Javier yang seakan mendapat semangat secara tiba-tiba, walaupun semangat nya hanya sedikit.


...💥💥💥...


Sementara itu di sebuah mansion tempat tinggal Sky. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe menempel di tubuhnya dan handuk menggulung di kepalanya.


Ia melihat tubuhnya di cermin dengan tersenyum lalu mengelus-ngelus perutnya. Semakin hari semakin besar, twins semakin aktif, Sky senang akan hal itu.


Tak pernah terpikirkan olehnya, tubuh kecilnya mampu menampung si kembar dengan baik.


Ia duduk di meja rias, mengoleskan lipstick dan juga mengambil beberapa peralatan make up nya.


Sky sibuk merias diri dan mencatok rambutnya. Selepas semuanya selesai ia hendak sarapan bersama Xander dan Keenan tapi tiba-tiba matanya tertuju pada kalung bulan sabit yang tersimpan rapih di meja.


Entah berapa lama ia membuka kalung itu dan tidak memakai nya lagi.


Dan lagi, kalung itu merekam kenangan nya beberapa bulan lalu di taman.


Ia menghembuskan nafas, mengambil kalung itu. "Teddy ..." lirihnya.


Dan Sky memutuskan memakai lagi kalung bulan sabit itu. Ia tersenyum tipis lalu keluar untuk sarapan.


"Pagi Grandpa ..."


Xander dan Keenan menoleh ke arah Sky.


"Grandpa?" tanya Keenan menaikan satu alisnya.


Sky duduk seraya menunjuk Xander dengan dagu nya. "Itu ... Daddy kan sebentar lagi jadi Grandpa, iya kan Dad?


Xander mendengus. "Iya memang, tapi kau jangan memanggil ku Grandpa juga," sahut Xander tidak suka.


"Lagi pula kau memang sudah tua," balas Keenan.


Hampir saja Keenan mendapati pukulan dari sendok Xander.

__ADS_1


Sky pun tersenyum seraya sibuk sarapan.


"Oh iya, kau belum beli peralatan bayi," ucap Xander.


"Aku akan membelinya minggu depan saja," sahut Sky.


"Seharusnya dari sebelum perutmu membesar kau sudah menyiapkan semuanya. Tapi gara-gara dia ..." Xander menoleh ke arah Keenan dengan tatapan tidak suka.


"Dia melarangmu dengan alasan membeli peralatan bayi di bawah usia kandungan tujuh bulan karena berisiko keguguran membuat putriku ketakutan sial*n!! Padahal itu hanya mitos!!"


"Hei, itu bukan mitos!!" sahut Keenan. "Di kampungku memang seperti itu!!"


"Dan ini bukan kampungmu jadi berhentilah membawa mitos tidak jelas itu!!" balas Xander.


Sky hanya bisa menggelengkan kepala melihat mereka yang sering sekali bertengkar.


...💥💥💥...


Javier dan Sekretaris Han sampai di sebuah perusahaan. Mereka duduk dengan rapih menunggu lawan mereka yang akan memperebutkan tender untuk kerjasama kali ini.


"Kau sudah menyiapkan semua materi, bukan?" tanya Javier.


"Untuk apa kau bertanya di saat kau menebak kita akan kalah. Mental mu menurun ketika menjadi duda," sahut Sekretaris Han.


"Aku bukan duda!! aku masih punya istri!!"


"Maaf menunggu kalian terlalu lama," ucap Sekretaris perusahaan X yang tiba-tiba masuk ke ruangan.


"Tapi kita masih harus menunggu perusahaan lain," lanjutnya.


"Perusahaan mana?" tanya Javier.


"Valaric group."


*


*

__ADS_1


Bersambung


Niat awal mau misahin Javier dan anak-anaknya empat/lima tahun kemudian..Tapi setelah ku pikir2 kasian juga babang Javier ini. Udah paling ngebet punya anak dari awal eh di tinggal sama istri & anak-anaknya. Trs mau bikin anaknya benci sama Javier. Tapi gajadi ah 😂


__ADS_2