
Sementara itu di sebuah tempat perbelanjaan. Empat orang pria tinggi dengan tubuh kekar mereka sedang memilah-milah pembal*t.
Mereka berempat memegang satu pembal*t di tangan masing-masing dengan merek yang berbeda.
"Ini yang mana Javier?" tanya Philip yang kebingungan.
"Yang ada sayapnya," sahut Javier.
Mereka yang bingung hanya menoleh satu sama lain.
"Bentuk sayapnya seperti apa?" tanya Thomas.
"Seperti kupu-kupu? atau sayap burung?" hardik Philip.
"Memang ada pembal*t wanita dengan sayap burung?" tanya Sekretaris Han.
Javier menghela nafas berat. Sulit sekali misi yang satu ini.
"Sepertinya tidak, kalau burung nya sudah pasti ada." Philip melirik celana Javier seraya menahan tawa.
PLAK
Javier memukul pundak Philip. "Jangan menatapku seperti itu sial*n!! kau juga punya!!"
Thomas menghela nafas, ingin sekali kabur dari tempat ini dan tidak ikut memilih merek pembal*t. Tapi Javier selalu menahan nya.
"Bagaimana ini? aku tidak tahu apa yang di butuhkan istriku."
"Kau bisa menelpon nya," sahut Thomas.
"Tidak di angkat."
Sky sedang sibuk bercerita kepada Liana sampai tidak sadar suaminya terus menelpon hanya untuk bertanya merek pembal*t.
Philip, Thomas dan Sekretaris Han hanya bisa menghembuskan nafas.
"Javier sudahlah yang ini saja. Lihat, ini bagus ..." Philip memberikan nya kepada Javier.
"Anti bocor katanya," lanjut Philip.
Thomas yang tidak mengerti pun bertanya. "Memang bisa bocor juga?"
__ADS_1
Mereka kompak menaikkan bahu nya tidak tahu.
"Kalau banjir bisa juga?" tanya Philip kini.
Tidak ada yang menjawab, mereka hanya bisa menggelengkan kepala karena mereka juga tidak mengerti.
"Javier sudahlah pilih yang ini saja. Ini daun sirih." Sekretaris Han menyodorkan pilihan nya.
"Yang aku cari sayapnya bukan itu!!" kesal Javier.
"Bentuk sayap nya saja kita tidak tahu," sahut Thomas.
Dan tiba-tiba tiga orang anak sekolah perempuan datang masuk dan berjalan ke arah mereka.
Mereka yang malu pun saling mendempet menyembunyikan pembal*t yang mereka pegang di belakang tubuhnya.
Ah tubuh tinggi dan berotot mereka menciut kalau sampai ketahuan memegang pembal*t.
Tiga perempuan itu pun mengambil pembal*t yang sering mereka gunakan.
"Lihat, yang itu mengambil merek yang sama denganmu, Han," bisik Thomas.
"Tapi yang satunya mengambil merek yang sama dengan Javier," sahut Philip.
"Jav, tidak ada cara lain. Kau tanyakan kepada mereka."
"Aku? Javier menunjuk dirinya sendiri. "Aku tidak mau!!"
"Sky istri siapa sial*n!!" sahut Sekretaris Han yang sudah muak berlama-lama di tempat perbelanjaan hanya untuk memilih merek pembal*t bersayap.
Javier menghela nafas, berusaha menahan malu. Tapi mau bagaimana lagi, kebutuhan perempuan memang lebih baik di tanyakan langsung kepada perempuan juga.
Javier berdehem sesaat. "Nona .."
Mereka bertiga membalik. Menatap keempat pria di depan nya yang lebih mirip sugar daddy kaya raya.
Mereka bertiga saling menyikut dan berbisik. "Hei, lihatlah otot-otot nya ... wah kekar sekali mereka."
"Aku suka dengan yang itu." Melihat ke arah Javier.
"Tapi yang itu juga tampan." melihat ke arah Thomas.
__ADS_1
"Mereka berdua juga tidak kalah tampan." melihat bergantian Sekretaris Han dan Philip.
Javier menghela nafas lagi kala tiga perempuan di depan nya malah sibuk berbisik dan menatap mereka berempat.
"Nona ... maaf sebelumnya, tapi bisakah beri tahu kami yang mana pembal*t yang ada sayapnya?"
Mereka berempat pun kompak mengeluarkan merek pembal*t yang mereka sembunyikan tadi. Walaupun malu tapi mereka berusaha cepat keluar dari tempat ini.
"Sayap?"
"Pembal*t?"
Mereka mengangguk.
Mereka bertiga pun melihat pembal*t yang Javier dan yang lain pegang.
"Semua nya memang ada sayapnya," ujar salah satu dari mereka.
Philip menoleh ke arah Javier. "Dia bilang semuanya ada sayapnya. Tapi kita tidak melihat sayap itu, apa sayapnya transparan?"
"Bisa kau tunjukan mana yang di maksud sayap pembal*t?" ujar Javier.
Mereka pun menunjuk maksud dari sayap pembal*t.
Kompak mereka berempat menghembuskan nafas seraya menggelengkan kepala.
"Gila ... benar-benar gila. Memang bentuk sayap seperti itu? Yang ada di pikiran kita bentuk sayap seperti sayap burung, bukan?" tanya Thomas.
Javier, Philip dan Sekretaris Han mengangguk seraya pandangan masih tertuju ke sayap pembal*t yang di maksud perempuan di depan nya.
Mereka masih heran, kenapa bisa-bisa nya di sebut sayap padahal tidak mirip dengan sayap.
Sementara itu perempuan di depan nya saling menyikut menatap bingung ke empat pria yang menatap pembal*t itu tanpa berkedip.
"Aku tidak akan membantumu lagi ketika Sky menyuruhmu membeli kebutuhan wanita lagi, Javier," ujar Thomas.
"Ya, aku juga," sahut Philip. "Karena bahasa mereka tidak sesuai dengan kenyataan nya."
Sekretaris Han, Philip dan Thomas memberikan pembal*t yang mereka pegang ke tangan Javier dengan kesal.
"Sudah ada sayapnya, silahkan terbang bersama istrimu," hardik Sekretaris Han yang melengos begitu saja di ikuti Philip dan Thomas.
__ADS_1
Bersambung