
Yang Javier tahu seseorang yang membunuh Ayahnya adalah Baba Yaga. Sahabat dekat Ayahnya yang dulu sering sekali datang ke mansion ini.
Tak di sangka nama asli Baba Yaga adalah Xander, Ayah dari istrinya sendiri.
Ia begitu frustasi sekarang. Apa yang harus ia lakukan.
Javier keluar dari ruang kerja berjalan ke kamarnya. Ia membuka pintu perlahan dan mendapati Sky sedang tertidur pulas.
Pria itu berjalan perlahan menghampiri istrinya dan duduk di samping Sky.
Javier menatap istrinya dalam-dalam. Perasaan cinta, sayang dan kecewa menyatu dalam dirinya.
Ia tersenyum getir mengelus kepala Sky.
"Kenapa harus kau sayang ..." lirihnya.
Sakit, sekarang itu yang Javier rasakan ketika menatap istrinya. Ia menghela nafas berat hendak beranjak untuk pergi dari kamar tapi Sky menahan nya.
"By ..." panggilnya.
"Mau kemana?"
"Keluar," sahut Javier.
"Kenapa keluar?" tanya Sky. "Disini saja, ini sudah malam."
Javier mengangguk, ia mengitari ranjang masuk ke dalam selimut dan tidak seperti biasanya, kali ini ia tidur membelakangi Sky.
Sky merasa heran, biasanya Javier selalu lengket dan memeluknya ketika tidur.
Sky hanya berfikir mungkin Javier ingin dirinya yang memeluk.
Gadis itu bergerak mendekati suaminya dan memeluk Javier. Javier yang sudah menutupkan mata membuka mata nya kembali kala tangan Sky memeluknya.
"By ... bagaimana? apa seseorang yang sudah membunuh Mama Elsa sudah ketemu?"
Pertanyaan Sky membuat Javier menghela nafas. Pertanyaan itu membuat Javier ingat dengan Xander.
"By ..." Sky sedikit mendongak melihat suaminya.
Javier seketika pura-pura tidur
"Kau sudah tidur rupanya. Cepat sekali, mungkin kau kelelahan ya, By," ucap Sky.
Gadis itu tersenyum dan kembali tidur seraya memeluk suaminya.
__ADS_1
Pagi pun datang, Sky mengerjapkan matanya. Ia menggeliat meregangkan otot-ototnya. Ia menoleh ke samping dan Javier sudah tidak ada di sampingnya.
"By ..." panggil Sky.
Gadis itu beranjak dari ranjang membuka pintu kamar mandi dan Javier juga tidak ada di sana.
"Tumben sudah keluar pagi-pagi," gumam Sky.
Pasalnya Javier selalu menggenggam tangan Sky keluar dari kamar bersama menuruni anak tangga untuk sarapan bersama yang lain setiap pagi.
"Aku mandi saja dulu, mungkin sudah di bawah."
Sky masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Karena ia pikir Javier sudah menunggu nya di bawah.
Setelah selesai ia segera turun ke bawah. Mempercepat menuruni anak tangga dan melihat yang lain sudah siap di meja makan. Hanya Javier yang tidak ada di sana.
Sky mematung di tangga lalu menghela nafas mengedarkan pandangan nya ke sekeliling mansion. Hanya suaminya yang dia cari kali ini.
Sky berjalan kembali dan duduk di kursi biasanya.
"Dimana Javier?" tanya Sky kepada Sekretaris Han.
"Di kantor."
"Kenapa masuk kantor? biasanya selalu ada di rumah."
"Ada hal mendesak," sahut Sekretaris Han.
"Makanlah dulu, Sky. Nanti dia juga kembali," lanjut Sekretaris Han.
Sky mengangguk. "Iya Kak Han-Han."
Ada apa lagi ini, batin sekretaris Han.
Sekretaris Han pun merasa ada yang tidak beres, Javier kembali ke kantor pasti sedang bertengkar lagi dengan Sky.
Dulu juga pria itu melakukan hal yang sama, ketika bertengkar ia akan kabur ke kantor untuk menjauhi Sky dan menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Sky makan begitu rakusnya, ia makan roti sangat banyak, minum susu lalu makan roti lagi. Yang lain menatapnya ternganga.
"Sky apa kau sangat kelaparan?" tanya Samuel.
Sky menoleh ke arah mereka semua dengan pipi mengembang isi roti.
"Ma-maaf ..."
__ADS_1
"Telan dulu," ucap Sekretaris Han menepuk pundak Sky.
Sky pun mengunyah dan menghabiskan dulu roti di mulutnya lalu kembali berbicara.
"Akhir-akhir ini aku sering sekali kelaparan. Apalagi malam hari, aku tidak tahu kenapa jadi maaf kalau cara makan ku menjijikan," ucap Sky tidak enak hati kepada mereka.
"Tidak apa-apa, makanlah," sahut Sekretaris Han yang di beri anggukan kepala dari yang lain.
Sky pun kembali makan tapi kali ini dengan pelan karena malu dengan yang lain.
Selesai makan Sekretaris Han pergi ke kantor dan yang lain melakukan aktivitas seperti biasanya.
Pintu lift terbuka, Sekretaris Han berjalan ke ruang kerja dan ketika membuka pintu ia begitu terbelalak melihat Javier minum alkohol di pagi hari. Begitu banyak botol berserakan di sana.
"Kau kenapa sialan?!!" teriak Sekretaris Han.
Ia menghampiri Javier di sofa, pria itu setengah sadar tapi masih bisa meneguk alkohol dengan kasar sampai tumpah ke baju.
Sekretaris Han merebut botol itu tapi Javier menahan nya.
"Lepaskan!!" teriak Javier.
Sekretaris Han mendengus menatap ruangan yang begitu berantakan, banyak serpihan barang-barang yang sudah hancur.
Berkas yang berantakan, kertas penting pun berhamburan di lantai begitu saja padahal itu materi penting untuk meeting nanti.
"Jangan menambah pekerjaanku, Javier. Kalau kau bertengkar dengan istrimu jangan menghancurkan barang-barang seperti ini."
Javier mengacuhkan Sekretaris Han dan ia sibuk minum sendiri.
"Ada apa denganmu?" tanya Sekretaris Han.
Javier tidak menjawab.
"Ada apa?" tanya nya lagi.
"Ada apa sialan?!!" Sekretaris Han mulai geram ia sampai menarik kerah baju Javier.
Javier menepis kasar. "Enyahlah!!" teriaknya.
"Istriku anak dari si pembunuh itu!!" teriak Javier yang membuat Sekretaris Han terhentak kaget.
"A-apa maksudmu?"
"Baba Yaga itu Xander!!"
__ADS_1
Javier terlalu frustasi sampai lupa seharusnya ia memeriksa istrinya benar hamil atau tidak.
Bersambung