
Di taman mansion suasana sedang ricuh menyiapkan pesta. Beberapa orang sedang masak, membakar, menyiapkan minum, membereskan meja dan menghiasi taman dengan lampu-lampu cantik.
Para pelayan di ruang bawah tanah di keluarkan semua atas perintah Sky Alexander.
Halaman mansion sampai taman tempat pesta penuh dengan para pelayan yang sibuk membantu atau hanya sibuk selfie dan merecok saja.
"Cepatlah bantu yang lain, kalian ini malah berfoto seperti itu," titah Bibi Gail kepada tiga pelayan perempuan yang cengegesan di depan camera.
"Huhh ... Bibi Gail suka sekali marah-marah padahal pekerjaan sudah hampir beres," sahut salah satu dari mereka.
"Bibi Gail," panggil Sky membuat ketiga pelayan itu menyembunyikan ponsel nya di belakang dan membungkukan badan.
Sky tersenyum ke arah tiga orang pelayan itu lalu kembali berbicara dengan Bibi Gail.
"Iya, Nyonya?"
"Apa pie cherry yang di buat chef bara sudah jadi?"
"Sudah, Nyonya."
"Tolong simpan di meja itu, ya." Sky menunjuk salah satu meja yang sudah ia siapkan untuk dirinya dan Javier.
"Baik, Nyonya." Bibi Gail membungkukan badan sebentar lalu pergi ke taman.
"Hei kalian." Sky menoleh ke arah tiga pelayan perempuan.
"I-iya, Nyonya?"
"Kalian sedang apa?"
Mereka saling menoleh satu sama lain. Kalau bilang sedang selfie takut di marahi.
"A-anu, Nyonya ... k-kami sedang itu eumm ..." Sky menaikkan satu alisnya.
"Selfie?" tebak Sky.
Mereka akhirnya mengangguk pasrah. Sky tersenyum.
"Bagaimana kalau aku fotokan saja, mana ponsel nya?" Sky mengulurkan tangan.
Mereka saling menoleh lagi sampai akhirnya memberikan ponsel nya kepada Sky.
"Berdiri di depan sana, taman nya sedang bagus," titah Sky.
__ADS_1
Mereka pun menggeser tubuh satu sama lain dengan kaku.
"Oke, bergaya ..."
Sky membidikkan ponsel ke arah mereka. Mereka bertiga hanya tersenyum tipis karena canggung.
"Hey ayolah bergaya saja, kenapa hanya senyum."
Mereka pu hanya mengangkat kedua jari mereka seraya tersenyum lagi ke camera.
"Satu ... dua ... tiga ..."
Cekrek.
Mereka bertiga menghampiri Sky. "B-bagaimana hasilnya."
"Bagus." Sky memberikan ponsel nya.
Mereka hanya tersenyum melihat gaya mereka yang kaku di camera padahal tadi mereka begitu centilnya.
"Apa mau di ulang?" tanya Sky.
"Tidak, Nyonya. Ini bagus, kami harus membantu Bibi Gail, permisi." Mereka pun pergi meninggalkan Sky karena tidak enak dengan Nyonya nya itu.
Sky membalik dan melebarkan matanya senang. "Al ..."
Ia pun segera berlari menghampiri Aliandra.
Mereka berpelukan satu sama lain. "Huhh ... kau lama sekali, kenapa baru datang sekarang."
"Aku harus kabur dulu dari Ayah. Tunggu Ayah tidur dulu," sahut Aliandra.
Aliandra mengedarkan pandangan nya ke mansion seraya berdecak kagum.
"Jadi Kakak tinggal di sini?"
Sky mengangguk.
"Wahhh ... ini besar sekali. Pasti banyak ruangan rahasia di dalamnya."
Sky mengacak-ngacak rambut Aliandra gemas. "Cih, kau ini. Tidak ada ruangan rahasia, Kakak sudah banyak berkeliling."
"Pasti ada, Tuan Javier pasti punya setidaknya satu ruang rahasia miliknya."
__ADS_1
"Huh ... so tau! Sudah lah ayo masuk." Sky pun mengajak Aliandra masuk dan bergabung di taman bersama yang lain.
Mereka duduk di salah satu kursi dan berbincang-bincang membahas keinginan Sky agar Aliandra keluar dari rumah Herry.
"Kakak tau Papah pasti marah, tapi Kakak takut kamu sama kaya Kakak, sering di marahi dan salahkan terus-menerus. Apalagi Al kan masih sekolah, harusnya lebih fokus."
"Nanti Al pikirkan dulu Kak." Sky pun mengangguk dan tersenyum.
"SKY ALEXANDER!!" teriak Liana.
Bukan hanya Sky saja yang menoleh, tapi mereka semua yang ada di taman. Liana pun menjadi tatapan mereka.
"M-maaf ..." Liana menutup mulutnya sendiri malu, ia lupa kalau banyak orang di sekitarnya.
Saking kesal nya ia dengan sahabatnya yang satu ini sampai berteriak tidak tahu malu.
"Sebentar ya, Al."
Sky pun menghampiri Liana yang berdiri di halaman mansion.
"Kau ini apa-apaan, Li?"
"Kau yang apa-apaan. Kau meninggalkanku di taman bermain hari itu dan kau tidak menemui ku lagi. Kau bahkan jarang sekali menghubungi ku dan tiba-tiba kau mengundangkan makan di sini. Kau gila, huhh ..." Liana memalingkan wajahnya dari Sky dengan tangan bersidekap dada dan wajah kesalnya.
Sky terkekeh melihat sahabat nya yang satu ini. Dia tahu perbedaan Liana yang marah serius dan bercanda.
"Maafkan aku, Li ... aku sampai lupa menghubungi mu." Sky memeluk sahabatnya yang sedang memberontak.
"Setelah menikah dengan om ganteng itu kau lupa denganku!!"
"Heh jangan bilang dia om tampan!!"
"Kenapa?" tanya Liana sewot. "Kau sudah sangat mencintai si om tampan itu ya sampai cemburu aku mengatakan dia tampan."
"Dia suamiku, hanya aku yang boleh bilang dia tampan, wle."
"Cih! terserah kau saja lah, aku lapar mau makan gratis di sini."
Liana pun pergi dengan kesal meninggalkan Sky. Sky hanya terkekeh melihat sahabat nya itu.
Aliandra sibuk makan, Liana pun sama. Tapi Sky tetap menceritakan kejadian di taman bermain hari itu.
Bersambung
__ADS_1