Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#105


__ADS_3

Sky masih enggan keluar kamar, gadis itu hanya meringkuk di kasur. Bahkan ia juga mengunci kamar agar tidak ada yang bisa masuk.


Suara ketukan terus terdengar, pasalnya ini tengah malam dan Sky masih enggan makan.


Suara ketukan pintu itu terus bergantian dari yang awalnya Javier mencoba membujuk Sky lalu beralih Sekretaris Han, beralih lagi kepada Thomas, Philip dan juga Athes and the geng.


"Bagaimana ini ... istriku tidak mau makan," ucap Javier seraya memercak pinggang frustasi.


Pria itu terus saja bolak-balik dengan wajah gelisah karena Sky seharian tidak mau makan.


"Aku punya ide." Jonathan turun ke bawah mengambil ice cream di mangkuk yang besar dan beberapa sendok.


Lalu ia kembali lagi ke atas.


"Kemari ..." pintanya kepada teman-teman nya.


Athes and the geng berkumpul di depan pintu kamar Sky. Sementara yang lain hanya menatap apa yang akan di lakukan ke enam lelaki ini.


"Eummm ice cream vanila rasanya enak sekali ... Kau mau Sergio?" Jonathan menyikut Sergio, agar masuk ke dalam drama nya.


Dan lagi mereka saling berteriak memancing Sky dengan ice cream agar keluar kamar.


"M-mau ... iya enak sekali ini .... lezat ..."


Mereka memainkan sendok di mangkuk itu memancing Sky keluar.


"Wahhh ... apa itu Jon?" tanya Aiden.


"Ini strawberry. Ice cream Vanilla dan strawberry perpaduan yang cocok bukan?"


"Ah kau benar Jon ... baru kali ini aku makan ice cream seenak ini."

__ADS_1


"Tapi kita berenam tidak mungkin bisa menghabiskan ice cream selezat ini ... kita kan tidak terlalu suka ice cream," ujar Athes.


"Ah yasudahlah kita buang saja," sahut Nicholas.


"Kita akan membuang ice cream." Jonathan meninggikan suaranya.


Yang lain menghela nafas karena tidak ada tanda-tanda Sky keluar kamar.


"Ice cream nya akan kami buang saja," teriak Jonathan lagi.


Semuanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala karena lagi-lagi usaha mereka gagal.


Javier menggeleng, karena cara apapun tidak membut Sky mau makan.


Sampai beberapa jam kemudian pintu kamar pun masih tertutup. Yang lain sudah kembali ke kamar masing-masing meninggalkan Javier yang duduk di depan pintu kamar.


Ia menekuk lututnya seraya menyenderkan tubuhnya di depan pintu. Javier begitu lemah, tidak semangat, sesekali ia melihat pintu yang tertutup itu dengan tatapan nanar. Ia sangat merindukan istrinya.


Bahkan Javier tidak mendengar suara Sky sedikitpun. Sampai akhirnya Sekretaris Han kembali menghampiri Javier.


"Kau bisa tidur di kamar lain," pekik Sekretaris Han yang melihat Javier memejamkan mata di depan pintu.


Javier hanya menggelengkan kepalanya. Sekretaris Han menghela nafas lalu ikut duduk di samping Javier.


"Pergilah sial*n. Jangan menemaniku seperti ini," ucap Javier.


"Aku hanya ingin bertanya, apa yang kau lakukan dengan masalah ini," pekik Sekretaris Han.


"Aku sudah menyuruh Pak Liam dan Thomas mencari data siapa saja pelayan wanita yang berkhianat dan di keluarkan oleh Ayahku dari mansion ini," sahut Javier.


"Bisa jadi wanita yang hampir membunuh istriku itu salah satu pelayan yang di pecat dari mansion ku ini dan belum menghapus tatto nya ketika hampir membunuh Sky."

__ADS_1


"Ternyata kau pintar juga," pekik Sekretaris Han.


"Cih, aku lebih tau Ayahku seperti apa."


"Kalau kau sudah merencanakan sesuatu untuk menyelasaikan masalah ini seharusnya jangan terlalu cemas dan uring-uringan tidak jelas," sahut Sekretaris Han.


"Menikah lah agar kau tahu bagaimana rasanya merindukan seorang istri," ucap Javier membuat Sekretaris Han menghela nafas.


"Terserah kau sajalah!!" Sekretaris Han beranjak meninggalkan Javier.


Sekarang giliran Javier yang menghela nafas dengan berat, ia mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan pelan.


"Sayang ... aku merindukanmu ..."


"Kau harus percaya kalau trauma yang kau milikki tidak ada hubungan nya dengan Yakuza," gumam Javier.


"Ayolah sayang ... buka pintunya."


Sementara itu di dalam kamar Sky meringkuk memeluk tubuhnya di atas kasur. Sky hanya diam dengan tatapan kosong, di tangan nya ia memegang sebuah foto dirinya yang masih kecil bersama Alexa.


Bersama Javier adalah hal baru yang membuatnya bahagia tapi kenapa masalah ini harus datang dan merusak semuanya.


"Ibu ..." lirih Sky.


"Aku tidak mau berhubungan dengan orang yang sudah membunuh Ibu tanpa alasan yang jelas," gumam Sky.


Ia menghela nafas berat lalu memandang foto itu dengan senyuman tipis. Jari-jemari nya mengelus lembut foto itu.


Sampai akhirnya keduanya tertidur. Sky tidur seraya memegang sebuah foto dan Javier tidur di depan pintu dengan sesekali menepuk bagian tubuhnya yang di gigit nyamuk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2