Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#122


__ADS_3

Hanna di asingkan di ruangan yang kosong, tidak ada ranjang dan peralatan yang lain. Hanya ada satu kursi saja. Cahaya pun tidak terlalu terang karena ruangan pengasingan ini berada di ujung.


Perempuan itu duduk menghadap ke tembok dengan mengayunkan kakinya yang tergantung seraya bersenandung pelan.


Hanna sudah tidak muda lagi, dia sudah berkepala empat sekarang. Empat belas tahun Ataric mengurung Hanna di RSJ miliknya.


Dia sudah ada di ruangan itu selama empat jam setelah mengamuk di ruangan sebelumnya.


Kedatangan Javier dan yang lain membuat nya berteriak tidak jelas. Ia selalu berteriak ingin membunuh dan membunuh. Apalagi mendengar suara ketakutan dari Sky, keinginan membunuhnya semakin tinggi. Ia suka mendengar suara orang ketakutan karena dirinya.


Javier membuka pintu ruangan, suara dari pintu terbuka pun tidak membuat Hanna menoleh. Ia masih asik sendiri mengayunkan kedua kakinya dan bersenandung.


Javier berjalan ke arahnya dengan Sky yang menggenggam kuat tangan nya. Sky jalan perlahan di belakang Javier, ia bersembunyi di belakang tubuh tinggi suaminya.


"By ..." panggil Sky pelan dengan nada suara gemetar.


"Tidak apa, sayang. Dia hanya orang gila, tidak perlu takut," sahut Javier.


Mereka pun berdiri beberapa langkah di belakang Hanna.


"Hanna ..." Javier mencoba memanggil dan panggilan nya di acuhkan.


Hanna terus saja bersenandung sendirian.


"Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Javier.


Hanna masih enggan merespon.


"Kau pasti mengenalku. Aku Javier ... kau mengenal Ayahku, bukan."


Tiba-tiba suara Hanna bersenandung pun terhenti. Kakinya berhenti menggayun, ia perlahan menoleh dan Sky semakin bersembunyi di balik tubuh suaminya dengan gemetar seraya memejamkan mata mengatur jantungnya yang berdebar seketika.


"Javier ..." ucap Hanna lembut tapi terdengar menyeramkan di telinga Sky.


Hanna kini menoleh dan menatap mata Javier.


"Javier ..."


Ketika melihat mata Javier yang Hanna lihat hanyalah mata Ataric di sana. Mata pria yang menyeretnya masuk ke Rumah Sakit Jiwa ini.


Hanna seketika melotot ke arah Javier dengan nafas memburu dan giginya menggertak marah.


"KAU ..."

__ADS_1


"ATARIC KAU KAH ITU!!" teriak Hanna kala melihat Javier.


Yang ada di penglihatan Hanna, mata Javier sangat mirip dengan mata Ataric.


Hanna pun berdiri memandang Javier dengan tatapan permusuhan. Sky mengintip sedikit di balik tubuh suaminya.


Mata melotot dengan lingkar hitam di bawah mata, wajah pucat dan rambut panjang terurai berantakan. Hanna sangat menyeramkan.


"Kau yang membawaku ke sini Ataric," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Kau yang mengurungku!!"


"Aku bukan Ataric," sahut Javier.


"Tidak. Kau Ataric!! Kau Ataric!!" seketika Hanna menyerang Javier tapi pria itu hanya mendorong tubuh Hanna saja perempuan itu sudah terjatuh.


"ATARIC!!" Teriak Hanna dengan amarah memuncak.


Thomas, Philip dan Sekretaris Han yang melihat mereka di balik jendela hanya bisa menggelengkan kepala.


"Apa menurutmu Javier akan berhasil berbicara dengan orang gila," ucap Philip.


"Aku tidak yakin," sahut Thomas.


Sekretaris Han mendengus. "Lebih baik kita menghadapi penjahat dari pada melihat orang gila seperti itu."


Sementara itu di dalam ruangan Hanna sedang berusaha mencakar-cakar wajah Javier. Ia sangat geram dengan pria di depan nya yang sangat mirip dengan Ataric.


Untung saja tubuh Javier tinggi, jadi Hanna kesulitan untuk menggapai wajahnya.


Javier hanya memegangi kepala Hanna saja walaupun kedua tangan perempuan itu terus berusaha meraih wajahnya.


Pria itu menghela nafas. "Diamlah sial*n!!"


"Aku akan membunuhmu Ataric!!"


"Aku akan membunuhmu!!"


"AKU MEMBENCIMU ATARIC!!"


Hanna mendorong dan memukuli tubuh Javier. Tapi kala ia mendengar suara jeritan dari Sky, Hanna pun bergeming seketika.


Ia menggerakan kepalanya mengintip seseorang di balik tubuh Javier. Sky semakin gemetar ketakutan.

__ADS_1


Javier dengan cepat memegang tangan istrinya menenangkan.


Tidak ada cara lain, Javier harus memberitahu kalau seseorang di belakangnya itu Sky kecil yang pernah hampir ia bunuh dengan begitu mungkin akan lebih mudah Hanna mengatakan siapa dalang dari pembunuhan Alexa.


"Dia Sky, kau ingat ..."


Hanna melebarkan mata.


"Sky ..."


"Sky ..."


"Sky kau harus pergi ke neraka bersama Ibumu ..."


Hanna bersenandung persis saat dia hendak membunuh Sky hari itu.


Sky menutup telinga nya, ia ketakutan. Sekarang bukan halusinasi lagi, suara itu benar-benar nyata bersama orang nya di hadapan Sky sekarang.


"Sky kau harus mati seperti Ibumu ..."


"SKY!!" Teriak Hanna yang seketika menyerang Sky. Untunglah gadis itu langsung berlari menjauh.


"KEMARI KAU SKY!!"


"INI SALAHMU!!"


"KAU SEHARUSNYA MATI SEPERTI IBUMU!!"


Sky menutup telinga dengan gemetar mendengar teriakan itu. Tubuh Hanna sedang di tahan oleh Javier.


Mau tak mau Javier pun mendorong kasar tubuh Hanna sampai menabrak dinding dengan mencekik perempuan itu.


Nafas Hanna tersengal, udara tidak masuk sempurna karena cekikan dari Javier. Pria itu marah, sangat marah.


"Berhentilah berteriak!! dan katakan siapa yang menyuruhmu membunuh Alexa dan Sky!!"


Walau begitu Hanna tetap melayangkan tatapan permusuhan kepada Javier.


"KATAKAN SIAL*N!!" teriak Javier.


Hanna memukuli tangan Javier yang mencekik lehernya, wajahnya merah dengan mata menatap tajam.


"SIAPA?!!"

__ADS_1


"E-Elsa."


Bersambung


__ADS_2