
Javier menuruni anak tangga mencari-cari keberadaan Maxime, selepas ia mengajak Miwa berbicara Maxime tidak tahu pergi kemana.
Sky pun membuka kamar yang ada di lantai bawah.
"MAXIME ..." teriak Javier.
"MAXIME ..." Sky ikut panik.
"Ada apa?" tanya Sekretaris Han yang baru keluar dari salah satu kamar.
"Kau melihat Maxime?" tanya Javier.
"Tidak," sahut Sekretaris Han.
Javier mengusap wajahnya kasar. Ia terus mondar-mandir mencari putra lelakinya.
"Dol ... Dol ... Dol ..." Maxime datang membawa senapan di tangan nya.
Membuat semua orang terkejut bukan main, dari mana anak umur empat tahun itu menemukan senapan.
Athes and the geng masuk ke dalam mansion selepas di beritahu Maxime hilang. Mata mereka membulat sempurna melihat senapan di tangan anak kecil itu.
"Max ..." suara Javier terdengar rendah.
"Daddy lihat ... aku punya pistol." Maxime mengacungkan pistol itu dengan bangga nya.
Kemudian Javier mengingat-ngingat, bagaimana bisa pistol miliknya berada di tangan Maxime, ah ternyata anak itu mengambil pistol dari dalam kamarnya, Javier menyimpan nya di nakas, ia ingat itu.
"Max ..." Javier perlahan mendekati anaknya dengan mengulurkan tangan meminta pistol itu di berikan kepadanya.
Sky terkejut bukan main, sampai matanya berkaca-kaca. Takut Maxime tidak sengaja menembak seseorang atau lebih parah dirinya sendiri.
"Max ... berikan kepada Daddy, oke." Javier masih berjalan perlahan.
Tapi Maxime mengerutkan dahi nya. "Ini punya Max, Daddy."
Maxime segera menyembunyikan pistol itu di belakang tubuhnya.
"Max pistol itu berbahaya," ucap Sky setengah berteriak.
Javier menoleh ke arah istrinya. "Kenapa kau bilang itu bahaya sayang, dia akan semakin penasaran," ucap Javier.
"Benarkah Mommy?" Maxime malah membidikkan pistol itu ke arah wajahnya sendiri.
"Maxime ..." teriak semua orang.
Maxime segera berlari dengan cepat menepis pistol itu dari tangan anaknya sampai pistol nya terlempar jauh.
"Max ... Max ..." Javier memegangi pipi Maxime dengan wajah merah sangking paniknya, telat satu detik saja ia bisa kehilangan nyawa anaknya.
__ADS_1
"Huahahaha."
Semua orang mengerutkan dahi bingung, kenapa anak ini malah tertawa.
"Max ..." Javier memegang kedua pundak kecil Maxime menatapnya bingung.
"Daddy itu engga ada pelulu nya, huahahah."
Javier semakin bingung dan heran, darimana Maxime tahu soal peluru.
"Darimana kau tau itu tidak ada pelurunya?" tanya Javier.
"Aku sudah melepas pelurunya," ucap Xander yang tiba-tiba datang bersama Keenan di belakangnya.
Semua orang menoleh ke arah Xander.
"Kau ..." Javier menggertak kan giginya marah, karena menurutnya ini bukan saat yang tepat memberikan Maxime senjata berbahaya seperti itu.
"Ayolahh ... cucuku yang satu ini sangat pintar," ucap Xander.
Dan mata Maxime mendapati senjata di samping celana Javier, dengan cepat ia mengambil pistol itu lalu berlari.
"MAXIME ..." Teriak Javier melihat anaknya membawa kabur senjata miliknya. Ah Javier lupa kalau ia membawa pistol yang lain.
Maxime berhenti di depan Athes and the geng lalu menarik pelatuk. Athes dan yang lain terkejut bukan main.
"Apa-apaan ini ..." ucap Jonathan.
"ITU ADA PELURU NYA SIAL*N!!" teriak Javier.
DOR
PRANG
Maxime menembak cermin besar yang tidak jauh dari sana.
"KABBOOORRR ..." Athes and the geng berlari bersembunyi di belakang tubuh Sky yang sedang terkejut sampai menutup mulut dengan tangan nya. Sebagian ada juga mencari perlindungan di belakang tubuh Xander dan Sekretaris Han.
"Max ..." ucap Javier pelan dengan raut wajah tak menyangka melihat anaknya menembak di usia empat tahun.
Maxime lalu membidikkan pistol itu ke arah Javier membuat Sky segera berlari memeluk suaminya.
Dan suara tembakan itu mengundang perhatian Liana, Kara dan Philip. Mereka pun berlari tergesa-gesa dan spontan menutup mulut kala melihat Maxime memegang senapan.
"Daddy aku mau gloly ..." ucapnya memajukan bibirnya dan pistol itu masih mengarah ke arah Javier dan Sky.
"Kau yakin mau menembak Daddy?" tanya Javier berusaha menghilangkan gugupnya, ia harus tenang untuk menghadapi sikap anak nya yang seperti ini.
"Max ... ini Mommy," lirih Sky.
__ADS_1
"Dia iblis kecil," bisik Sergio yang bersembunyi di balik tubuh Xander.
"Hati-hati kalau bicara!" pekik Xander tidak terima.
"Nooo Mommy, aku hanya ingin Gloly," sahut Maxime.
"Dad, sudah bilang. Berikan Daddy sesuatu maka Daddy akan mengabulkan permintaan mu."
"Ya, aku bisa tembak Daddy. Aku belajal tembak agar aku dapat Gloly."
Javier membulatkan mata seketika, jadi tembakan itu di berikan untuknya. Maxime sengaja membawa pistol dan menunjukan kehebatan nya bisa menembak agar mendapatkan apa yang dia inginkan.
Padahal yang Javier harapkan bukan itu, mungkin Maxime bisa menggambar sesuatu dan memberikan hasilnya kepada Javier atau dengan membuat sesuatu bersama Ibunya untuk membujuk Javier membelikan Glory.
Tapi anak itu malah memilih jalan menembak untuk mendapatkan Glory.
"Siapa yang mengajarimu menembak?" tanya Javier.
"Grandpa." Maxime menunjuk Xander.
"D-dia yang minta," sahut Xander ketika mata semua orang tertuju ke arahnya.
"Dad!!"
"Xander!!"
Teriak Javier dan Sky bersamaan.
"Grandpa bilang Daddy suka tembak-tembak. Max mau sepelti Daddy," tutur Maxime dan memainkan pistol itu di tangan nya.
"Sudahlah ... jangan menatapku seperti itu, buah jatuh tidak jauh dari pohon nya. Jangan berharap anakmu bisa menjadi manusia normal seperti yang lain," ucap Xander.
"Lagi pula dia cukup pintar," lanjut Xander membuat Javier semakin geram saja dengan Ayah mertua nya itu.
Maxime berlari kecil dan memberikan pistol itu kepada Javier. Javier mengambil pistol itu dari tangan anaknya.
"Dad aku dapat gloly?
Javier akhirnya mengangguk membuat Maxime meloncat girang.
"Yeaayyy."
Sky berdecak seraya menggelengkan kepala melihat Maxime.
Thomas datang terakhir karena baru saja menemukan pria yang berbicara dengan Miwa di depan gerbang setelah berhasil menyadap cctv jalanan. Tapi ketika hendak memberi kabar kepada semua orang, ia di bingungkan kala melihat Athes and the geng saling berlindung di belakang tubuh Xander dan Sekretaris Han.
.
.
__ADS_1
Bersambung