
"Satu... dua... tiga.."
Cekrek.
"Lagi... lagi..."
"Tuan senyum dong," ucap Aiden kepada Javier yang memeluk Sky dari belakang.
Sky mendongak. "Senyum." gadis itu menarik kedua sudut bibir suaminya agar tersenyum.
"Ayo sekali lagi."
"Satu... dua... tiga..."
Cekrek
Mereka berfoto di rooftop sebelum pulang untuk merayakan keberhasilan mereka menyerang pria asing di hotel. Lengkap dengan pakaian aneh Athes and the geng.
Javier dan sekretaris Han pun terpaksa menuruti keinginan anak buahnya itu karena paksaan Sky.
"Sudah belum?" tanya Javier dengan malas.
"Ini sedikit buram. Ulang sekali lagi ya," ucap Jonathan setelah mengecek hasil fotonya.
Javier menghela nafas, begitu pula dengan sekretaris Han.
"Bisakah aku membunuh mereka saja tuan," bisik sekretaris Han geram.
"Minta izin terlebih dulu kepada istriku," jawab Javier membuat Sekretaris Han kembali menghela nafas.
Bagaimana bisa, Sky dan mereka sudah sangat dekat bahkan bersahabat.
"Tuan... angkat jarimu seperti ini." Jonathan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membuat tanda piece.
"Jangan gila kau!!"
"Ayolahh..." Sky berbicara dengan nada manja membuat Javier meluluh seketika.
Pak Liam menahan senyumnya melihat Javier berubah seperti itu. Bagaimana bisa anak buah Yakuza menyuruh tuannya sendiri. Kalau tidak ada Sky, peluru pasti sudah bersarang di kepala mereka.
Mereka pun berfoto yang terakhir dengan mengangkat kedua jari mereka seraya tersenyum.
Cekrek.
"HEIII!!!"
Teriak seseorang dari belakang, mereka menoleh dan itu... Carla.
Carla berlari seraya memegang dada nya dengan peluh di wajahnya. Nafasnya tidak teratur karena harus berlari dari Aula untuk sampai ke rooftop hotel.
Ketika penyerangan terjadi, Carla bersembunyi di bawah meja di pojokan. Sampai suasana aman ia berlari menyusul Javier dan yang lain.
"Kalian g*la!! Meninggalkanku sendirian!! Bahkan tidak ada yang menolong ku di aula tadi!!" ucapnya sedikit membentak.
"Kami saja lupa, kalau kau ikut ke pesta ini, Carla," jawab Athes.
__ADS_1
"Iya. Beruntung lah kau datang tepat waktu kesini, kalau tidak, kami sudah meninggalkanmu!" pekik Nicholas.
"Kurang aj*r!!" umpat Carla.
"Sudah ayo kita pulang." Javier menggandeng pinggang istrinya untuk naik helikopter diikuti yang lain.
...💥💥💥...
PRANG
Seorang pria paruh baya melempar asbak di meja dan hampir saja mengenai dua pria di depannya, untung mereka cepat menghindar.
Pria paruh baya itu di kuasai amarah yang hebat, rahangnya mengeras, wajahnya merah padam, giginya menggertak geram dan tangannya mengepal sampai membuat urat uratnya terlihat.
Ia bicara penuh penekanan kepada dua pria itu.
"Melakukan hal semudah ini saja kalian tidak becus!!"
"KALIAN PIKIR AKU MEMBAYAR KALIAN UNTUK APA?!! AKU BILANG BAWA KEPALA JAVIER KE HADAPANKU!! BEGITU SAJA TIDAK BISA HAH!!"
Dua pria itu hanya menunduk, sesekali tubuh mereka bergetar kala tuan nya memaki dengan amarah.
"Berikan aku alasan kenapa anak buahku banyak yang mati melawan Javier!!"
"Maaf tuan... kami pikir Javier datang dengan istrinya saja. Tapi ternyata, dia membawa sekretaris dan juga anak buahnya," ucapnya dengan masih menunduk.
"Berapa anak buah yang dia bawa?"
"E-enam orang t-tuan. Sebelum akhirnya ada kiriman anak buah yang lain."
Mereka mengangguk pasrah. Nyawa mereka sudah di ujung tanduk sekarang. Mereka adalah salah satu pria asing di hotel yang berhasil melarikan diri dari Javier dan yang lain.
"LALU BERAPA JUMLAH ANAK BUAH YANG AKU KIRIMKAN HAH!!"
"Ti-tiga puluh tuan."
"HAHAHAHA." Pria paruh baya itu tertawa keras. Tapi bukan nada lucu yang keluar, tertawa nya seperti amarah besar sampai membuat para pelayan dan dua pria asing itu merinding seketika.
"Tiga puluh kalah dengan enam orang.... HAHAHA... huuffft..." Ia mengusap matanya karena ia tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Maafkan aku... ini terlalu lucu untukku!"
DOR
DOR
Pria tua itu menembak dua anak buahnya tepat di kaki mereka sampai membuat keduanya terjatuh ke lantai dengan meringis kesakitan.
"BOD*H!!"
Ting.
Suara ponsel dari meja sedikit membuyarkan kekesalannya. Dan itu adalah pemberitahuan dari seseorang yang baru saja memposting foto di instagram.
Dan yang memposting foto itu... Jonathan.
__ADS_1
Ya, diantara yang lain Jonathan yang lebih sering main sosial media. Dan selalu memposting hal hal yang menurutnya menyenangkan.
Pria itu membukanya dan orang pertama yang ia lihat adalah Javier yang berfoto dengan beberapa orang di rooftop.
Bukankah ini hotel tempat mereka berpesta.
Pria itu memperbesar layar, memicingkan matanya kala melihat Satpam, wanita hamil, koki, tukang bubur, OB dan pria kecil memakai bathrobe ikut berfoto bersama Javier.
Sejak kapan Javier menjadi narsis seperti ini? Sejak kapan Javier mau berfoto dengan kasta rendahan seperti mereka? Itulah yang di pikiran pria tua sekarang.
Ia menggeser foto ke arah seorang perempuan yang di peluk Javier dari belakang. Perempuan itu tersenyum manis melihat ke arah camera.
Ini bukan istrinya. Siapa dia?
Pria tua itu melempar ponsel ke hadapan anak buah yang masih meringis kesakitan.
"Jelaskan, siapa mereka!"
"Me-mereka... mereka enam orang... a-anak bua h J-Javier tuan," ucapnya terbata karena darah terus keluar dari kakinya.
Pria tua itu membulat seraya memercak pinggang.
"KALIAN G*LA!!"
"MEREKA TIDAK SEPERTI ANAK BUAH MAFIA!! MEREKA SEPERTI PASIEN RUMAH SAKIT JIWA!! BISA-BISANYA KALIAN KALAH DENGAN MEREKA!!" ungkapnya berapi rapi dengan kemarahan.
Pria tua itu menghela nafas beberapa kali, berusaha tenang dengan kebodoh*n anak buahnya sendiri.
"Lalu siapa perempuan yang di peluk Javier?"
"K-kami tidak tau tuan... tapi Javier sangat melindungi gadis itu di banding istrinya."
"Cari tau identitas gadis itu sekarang!!"
"Ba-baik tuan."
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan dengan kaki mereka yang pincang.
Pria tua meraih sesuatu di laci dan itu foto pria yang sedang menggenggam tangan anak laki lakinya yang masih kecil.
"Bertahun tahun aku menunggu... dan ini lah waktunya... waktu yang tepat untuk membunuh anakmu. Ataric De Willson!!"
"Tidakkah kau mau bangkit dari kuburmu untuk melihat kepala anakmu yang akan menjadi milikku!! Tidakkah kau mau bangkit dari kuburmu untuk membantu anakmu itu hah!!"
"Tak akan pernah aku biarkan keturunan De Willson hidup bahagia!! De Willson akan berakhir di anakmu, Ataric!! Aku tidak akan membiarkan ada keturunan baru dari Javier!! Tidak akan!!" Ia meremas foto itu dengan geram lalu melemparnya ke tempat sampah.
Emosi masih menguasai dirinya, Ia memukul meja dengan keras seraya berteriak menyalurkan kekesalan karena gagal membunuh Javier. Ia sudah merencanakan ini semua dengan sangat matang. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
Bahkan ia sudah menyiapkan peti kematian untuk Javier hari ini, lengkap dengan bunga berjejer disana.
Ia pikir malam ini akan menjadi malam perayaan datangnya kepala Javier ke rumahnya. Nyatanya ia salah, anak buahnya banyak yang mati hanya melawan enam orang anak buah Javier yang terlihat seperti orang gila itu.
Bersambung....
vote dan coment nanti di kasih double update hehehe ❤
__ADS_1