
Sekitar pukul enam sore Javier membawa empat puluh sembilan orang anak buah nya masuk ke lorong rahasia yang berada di ruang bawah tanah.
Lorong kecil dan gelap yang hanya di beri cahaya dari lampu kecil yang menempel di dinding.
Lorong ini jalan menuju penyimpanan senjata tajam milik Yakuza yang hanya bisa di buka jika pemimpin nya masuk.
Langkah tegas mereka bersuara mengikuti langkah Javier mengitari lorong yang bahkan sudah memasuki pintu ketiga masih saja ada lorong lagi dan lagi.
"Kapan kita sampai," bisik salah satu dari mereka yang sudah pusing melewati pintu ketiga tapi masih saja belum sampai ke tempat senjata itu.
"Aku tidak tahu, ikut saja."
Sampai akhirnya Javier sampai di pintu berwarna hitam. Ada bulatan hitam di tengah-tengah pintu dengan gambar telapak tangan.
Javier menempelkan telapak tangan nya di gambar itu dan pintu pun terbuka.
Mereka yang baru kali pertama masuk ke tempat penyimpanan senjata begitu takjub dengan isinya.
Desain warna hitam dengan banyak senjata tajam menempel di dinding. Pisau, pistol, celurit bahkan pedang tajam pun tergantung di sana.
Dulu Ataric De Willson sangat suka mengoleksi benda-benda tajam sampai membuat ruangan ini menjadi ruangan favorit nya. Walaupun beberapa benda tajam di sana tidak banyak di gunakan, hanya tergantung sebagai hiasan.
"Ambil yang kalian butuhkan," ujar Javier.
"Siap, Tuan," ucap mereka semua dengan tegas.
Mereka pun ricuh di ruangan itu, mencari-cari pistol yang menurut mereka bagus. Memilih pisau yang terlihat sangat tajam.
Sebagian ada yang memilih membawa stun gun (alat kejut listrik) dan tidak lupa mereka membawa peluru cadangan.
"Jon, kau bawa apa?" tanya Samuel.
Jonathan mengacungkan pistol yang ia pilih. "Ini seperti nya bagus. Sekali tembakan langsung mati, peluru nya di dalam juga banyak."
"Mari kita coba."
BUGH
"Akkhh!!"
__ADS_1
Samuel langsung menoyor kepala Jonathan kala pria itu membidikkan pistol ke arahnya.
"Jangan bermain-main dengan pistol!! kau mau aku mati!!"
"Kubur saja kalau mati," jawab Jonathan melengos meninggalkan Samuel membuat Samuel berdecak kesal dengan jawaban Jonathan.
Sekretaris Han duduk di samping Javier seraya melihat anak buah nya yang ricuh memilih senjata.
Sementara itu Thomas dan Philip tengah sibuk melihat-lihat senjata yang di koleksi Ataric De Willson.
"Sky tahu?" tanya Sekretaris Han.
"Tidak. Aku bilang mau konvoi geng motor bersama kelompok geng motor yang lain."
Javier menyalakan rokok di tangan nya.
"Apa dia percaya?" tanya Sekeretaris Han kembali.
"Tentu saja," sahut Javier.
"Apa kita tidak akan kalah jumlah?"
"Terlalu banyak membuatku pusing," lanjut Javier.
Sekretaris Han menghela nafas, ia pasrah dan percaya saja dengan strategi Javier De Willson.
Setelah mereka mengambil senjata yang di butuhkan masing-masing, mereka kembali berkumpul di aula membuat barisan.
Javier, Philip, Thomas dan Sekretaris Han menghampiri mereka satu persatu untuk mengecek apa mereka sudah memakai baju anti peluru dan melihat senjata yang mereka bawa.
Seandainya mereka membawa senjata yang menurut Javier dan yang lain kurang tajam dan bagus maka senjata itu akan di ganti.
Pengecekan senjata dan alat keamanan diri biasanya jarang di lakukan oleh Javier. Tapi semenjak pria itu berkata mereka harus pulang dengan selamat, semua benar-benar di persiapkan dengan baik.
Setelah merasa semuanya sudah cukup, Javier menuntun mereka ke garasi mansion yang sudah tersedia lima puluh motor besar untuk mereka pakai.
Kompak mereka semua menaiki motor masing-masing.
Serempak mereka memakai jaket kulit hitam, sarung tangan kulit dan helm.
__ADS_1
Setelah mereka sudah siap. Javier yang ada di paling depan membawa mereka keluar dari garasi.
Brrrumm ... Brrummm ...
Javier memainkan gas motornya di ikuti yang lain di belakang. Suara deruman motor saling bertautan di halaman mansion.
Satpam membuka gerbang dan ketika hendak menancap gas keluar dari mansion tiba-tiba.
"Bbbbyyyy ..." teriak Sky yang berlari keluar dari dalam mansion.
Semua orang menoleh.
Gadis itu berlari ke arah suaminya dan dengan polosnya ia naik ke motor Javier dan duduk di belakang seraya memeluk suaminya.
"Aku mau ikut ..." rengeknya dengan manja.
Dan satu hal lagi, Sky juga memakai jaket kulit hitam agar sama dengan yang lain. Gadis itu benar-benar sudah menyiapkan diri agar bisa ikut dengan suami nya.
Javier menghela nafas menoleh ke belakang dan membuka kaca helm nya.
"Tidak bisa, sayang."
"Aaaaaa mau ikut ..."
"Turun," perintah Javier.
Bukan turun, Sky malah mempererat pelukan nya.
"Mau ikut ... aku juga mau ikut konvoi, By."
Javier akhirnya melepas helm dan turun dari motor mengangkat tubuh istrinya, menggendongnya seperti anak koala dari depan.
"Turunkan aku ... turunkan aku ... aku mau ikut ..." Sky terus meronta, menggerak-gerakkan kaki nya yang menggantung.
Javier menurunkan Sky di teras mansion. "Masuk," perintahnya.
Sky menggeleng dengan wajah cemberut. Dan mereka menjadi tontonan empat puluh sembilan orang anak buah Javier.
Bersambung
__ADS_1
(Sebentar ya, adegan baku hantam update nya gabisa di pisah-pisah biar kalau tegang ga putus-putus juga tegangnya heheheh)