
Setelah berusaha keras memberikan penjelasan kepada adiknya akhirnya Aliandra pun mengalah dengan keputusan Kakaknya yang tetap ingin bersama Javier.
Sekarang giliran ia memberikan penjelasan kepada Liana. Berbeda dengan adiknya, Liana justru merasa kagum dengan identitas Javier De willson.
"Jadi benar kau menikah dengan mafia? waahhh ... kau hebat, Sky!" Liana memberikan jempol kepada Sky dan membuat Aliandra yang masih duduk di sofa itu menggelengkan kepala.
Ada-ada saja perempuan di depan nya ini, kenapa malah kagum dengan pria yang suka membunuh orang.
"Aku pikir suamimu si kaya pemilik De Willson Group saja, ternyata dia seorang pemimpin mafia kejam. Kau tahu Sky ... dari film yang ku tonton seorang Mafia punya daya tarik sendiri, berbeda dengan manusia normal biasanya!! ahh aku berharap bisa menikah dengan salah satu anak buahnya," ucap Liana penuh semangat.
Aliandra semakin menggeleng dengan sahabat Kakaknya ini. Sky juga tak kalah menggeleng dengan ucapan Liana, dia pikir sahabatnya ini akan sama seperti Aliandra menyuruhnya kabur dan mengkhawatirkan nyawa nya. Ternyata ia salah.
"Sky ... Sky ... kenalkan aku dengan salah satu dari mereka juga dong." Liana memohon.
"Kau harus terbiasa melihat pistol dulu kalau begitu."
"Aku memang sudah terbiasa, kau tahu kan hal-hal yang berbau mafia itu tontonan sehari-hariku," sahut Liana.
Sky tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala dan memijat keningnya menghadapi sahabat yang satu ini.
Javier datang dengan berdehem pelan membuat mereka menoleh seketika.
"Apa semuanya sudah selesai?"
"Sudah, by," jawab Sky.
Sementara Liana berdecak kagum menatap Javier. Masih tidak percaya kalau suami sahabatnya ini seorang Mafia seperti di film-film.
"Heii!!" Sky menepuk paha Liana membuyarkan lamunan sahabat nya itu.
Liana langsung mengerjapkan mata. "Ah maaf, daya tarik suamimu sangat kuat," bisik Liana seraya terkekeh.
Sky menggeleng lalu menoleh ke arah Aliandra. "Al, mau pulang sekarang?"
Aliandra mengangguk.
"Kau juga kan?" tanya Sky kini kepada Liana.
__ADS_1
"Kalau kau menyuruhku menginap juga aku tidak akan menolak," sahut Liana dengan centil nya.
"Tidak, sudah pulang saja pulang." Sky menarik tangan Liana mengantarya ke depan, Liana sempat menekuk wajahnya karena tidak bisa menginap di mansion Javier.
Dan di dalam sana, Javier dan Aliandra saling melempar tatapan tajam.
Sky kembali masuk setelah mengantar Aliana. Ia menatap bergantian suami dan adiknya ini.
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Sky bingung.
Kompak mata keduanya menoleh ke arah Sky bersamaan.
"Sayang ... adikmu sepertinya tidak menyukaiku.
"Aku hanya diam, tidak bilang apa-apa."
"Tapi matamu mengatakan itu," sahut Javier.
"Mata tidak bisa berbicara," gumam Aliandra pelan.
Sky menghela nafas. "Sudahlah jangan bertengkar. Al, pulang dulu ya."
Javier merangkul Sky kala Aliandra berjalan keluar dari mansion. Ia tersenyum miring sementara Aliandra menatap mereka datar.
"Cepatlah pulang, aku akan menembak Kakakmu," teriak Javier yang membuat Aliandra menghentikan langkahnya.
"Menembak nya dan memberikan mu ponakan," teriak Javier lagi.
Aliandra mendengus, ia pikir tembakan kematian.
Setelah Aliandra pergi Javier memeluk Sky. "Sayang ..." panggilnya dengan manja.
"Adikmu ingin ponakan, kasian sekali dia."
"Aku sedang datang bulan apa kau lupa."
Javier menghembuskan nafas dan mengelus-ngelus perut Sky.
__ADS_1
"Mereka semua gagal berlomba ya, sayang. Tapi tidak apa-apa, stock benih di tubuhku ada semiliyar. Aku akan mengirimnya lagi untukmu."
Sky melirik bergantian perut dan wajah Javier.
"Apa kau benar-benar ingin punya anak, By?"
"Tentu saja. Aku ingin punya anak semiliyar dan aku akan membuat negara sendiri untuk keluarga kita," ucap Javier asal.
Sky memukul dada Javier. "Jangan gila!!"
Javier hanya terkekeh. "Aku bercanda, sayang. Satu atau dua sudah cukup untukku. Tapi membuatnya semiliyar kali bagaimana?"
Sky hanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala. Ia lebih memilih masuk ke mansion meninggalkan suami nya yang berteriak di teras depan.
Sky masuk ke kamarnya, membersihkan wajahnya di meja rias sebelum pergi ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Javier masuk dan memeluk Sky dari belakang.
"Sayang ... aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, By," jawab Sky seraya terus mengusap wajahnya dengan kapas yang sudah di tetesi pembersih wajah.
"Sayang ... kau tahu, aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita."
"Benarkah?"
Javier mengangguk.
"Siapa namanya?" tanya Sky.
"Rahasia, aku akan memberitahumu setelah kandunganmu sembilan bulan hm."
Sky menghembuskan nafas, Javier selalu membahas masalah anak. Begitu berharapnya suaminya ini.
"By, aku belum hamil."
"Tidak apa, sayang. Kita bisa membuatnya dulu, semiliyar kali juga aku tidak keberatan."
__ADS_1
Bersambung