
Adelia menoleh dan tertegun melihat wanita yang sudah beruban itu, dipikirannya langsung muncul nama yang sangat familiar untuk pemilik tubuh yang ia tempati.
Neneknya!!
Nenek kandung yang selalu memukul sang pemilik tubuh jika ia tidak mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Seketika sinar di mata Adelia meredup, ia memang sangat menginginkan keluarga namun satu hal yang sangat ia benci adalah keluarga patriarki, sudah banyak kejadian mengenaskan dan menyedihkan yang ia lihat ataupun dengar dari keluarga patriarki.
"Nenek" Sapa Adelia menundukkan wajahnya mencoba menyembunyikan rasa bencinya.
Lu Xiang yang sudah memperhatikan raut wajah istrinya menangkap ekspresi benci tersebut. Alisnya sedikit terangkat.
Nenek Miao Lan pun melangkah angkuh dan mencoba mengambil daging paling besar namun tangan Adelia bergerak cepat menahannya.
"Jangan nek. Daging ini akan kami jual untuk memperbaiki atap rumah yang mau ambruk. Musim dingin akan datang, kami akan mati jika tidak memperbaiki atapnya"
"Alah! Kau banyak alasannya. Aku hanya mengambil sedikit kenapa kau bertingkah seperti aku mengambil semua daging ini, apa kau ingin membangkang sama nenekmu sendiri?!" Suara melengking itu membuat orang terdiam namun tak ada satupun yang mau membantu Adelia, mereka hanya menonton dengan rasa iba, senang atau sinis.
"Aku mohon nek, jangan ambil. Bagaimana kami bisa hidup kalau kami tidak memperbaiki atap rumah. Apa yang tidak aku beri dan lakukan sama nenek, semua suruhan nenek aku lakukan, membersihkan rumah, mencuci baju walaupun di tengah musim dingin, aku bahkan bekerja layaknya laki-laki ke sawah nek. Tapi ini bukan milikku" Semakin ia benci pada wanita tua di hadapannya semakin air mata mengalir di pipi Adelia namun jika diperhatikan secara seksama, tatapan datar dan dingin terpancar dari mata gadis itu.
Para warga yang mendengar hal itu semakin merasa iba dan menatap aneh pada nenek Miao Lan serta dua kakak ipar yang juga hadir di sana. Tatapan itu membuat nenek Miao Lan merasa risih dan semakin marah.
__ADS_1
"Kau ini kan istri Lu Xiang, harta Lu Xiang juga hartamu dan kau juga bagian dari keluarga Miao, apa salahnya berbagi dengan kami. Mentang-mentang sudah menikah, kau ingin memutuskan hubunganmu dengan keluarga Miao? Dasar gadis kecil pembangkang!!" Nenek Miao mendorong Adelia dan mengambil daging paling besar dengan cepat.
"Siapa yang mengizinkan mu mengambil daging itu?" Suara dingin dan rendah membuat gerakan nenek Miao Lan berhenti. Ia menatap datar namun rahangnya yang mengkatup keras serta tubuh yang dipenuhi darah membuatnya bak iblis yang keluar dari neraka. Sangat menyeramkan.
"Apa kau ingin mencuri daging hasil buruanku?" Tanya Lu Xiang kembali.
Terdengar suara terkesiap dari para warga. Zaman kerajaan berbeda dengan zaman modern yang mempunyai kesetaraan gender. Di zaman kerajaan apalagi di dinasti Murong, status para wanita lebih rendah daripada laki-laki, tak menutup kemungkinan jika hukuman untuk wanita lebih berat dari laki-laki. Jadi semua warga wanita menatap horor kepada Lu Xiang, karena jika sudah pemerintah yang mengadili maka hukuman paling ringan adalah di pukul dengan kayu besar sebanyak 10 kali.
Nenek Lan pun juga ketakutan namun ia berusaha kuat dan tetap bersikap angkuh. "Apa maksudmu mencuri? Apa salah aku mengambil daging dari cucuku sendiri?"
Lu Xiang tersenyum sinis. "Semenjak aku membeli cucumu dengan harga 1 koin perak, dia sudah bukan keluarga mu. Apa keluarga Miao tidak punya integritas hanya membuka mulut tanpa dapat dipertanggungjawabkan? Apa Miao Sheng juga seperti itu di akademi?"
Miao Xu mempunyai dua anak laki-laki yaitu Miao Heng yang bekerja di kota serta Miao Sheng yang sedang belajar di Akademi yang sama dengan Lu Xiang.
Miao Li mempunyai satu anak yaitu Miao An yang juga belajar di Akademi namun dengan kualitas lebih rendah dari Miao Sheng. Reputasi seorang sarjana di Akademi sangatlah berpengaruh akan status siswa di sana, walaupun seseorang sangat pintar jika reputasinya buruk maka tidak ada guru yang mau merekomendasikan sangat murid itu untuk dapat mengikuti ujian kenegaraan tingkat kota yang pemerintah selenggarakan. Oleh karena perkataan Lu Xiang sangat mengena di hati nenek Miao maupun kakak ipar Adelia, seketika ekspresi mereka berubah.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Kepala desa yang baru saja tiba setelah menyelesaikan urusan langsung bertanya setelah mendengar keributan antara Lu Xiang dan nenek Miao.
"Ini kepala desa. Lu Xiang tidak memberikan ku daging, padahal kan Adelia juga bagian dari keluarga kami keluarga Miao. Apa salahnya berbagi daging sedikit? Dia bahkan ingin memenjarakan ku tanpa belas kasihan" Nenek Miao segera mengambil kesempatan dan menjelaskan dari segi yang menguntungkannya.
__ADS_1
Kepala desa Miao mengerutkan dahinya, menatap tidak setuju ke arah Lu Xiang.
Lu Xiang tertawa kesal. "Nenek Miao. Kau sangat pandai dalam memutar balikkan fakta. Aku memberikan seperempat daging ke warga desa dari hasil tangkapan ku sendiri aku dan kau juga dapat. Tapi kau seperti dikasih hati minta jantung, seenaknya membuka mulut dan mengambil daging paling besar".
Adelia berusaha keras menahan denyutan di bibirnya. Baru kali ini ia melihat orang yang tak malu sama sekali, ia semakin menundukkan wajahnya karena hampir tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya.
"Jumlah keluarga kami sangat banyak. Apa salahnya kami meminta lebih, apa kau ingin memutuskan hubungan persaudaraan antara aku dan cucuku sendiri" Balas nenek Miao.
Lu Xiang semakin jengah dan tidak sabar dalam menghadapi nenek Miao yang bermuka tebal. "Benarkah? Aku sangat ingat kau mengatakan bahwa kau dan Adelia tidak ada lagi sangkut paut apapun setelah dia menikah dengan ku dan paman kepala desa pun juga hadir hari itu karena itu terjadi belum seminggu lamanya"
Tatapan dingin Lu Xiang membuat kepala desa Miao tidak nyaman namun ia lebih memilih membela nenek Miao karena sarjana Miao Sheng akan mengikuti ujian kenegaraan tingkat kota tidak lama lagi. Jika ia lulus maka ia akan disebut sarjana muda atau Sheng yuan. Sarjana muda mendapatkan hadiah berupa bebas pajak tanah dan gelar kehormatan yaitu Sheng yuan yang sangat disegani di desa.
"Lu Xiang, bukannya paman mau mencampuri urusanmu tapi nenek Miao bukan orang lain, dia adalah neneknya Adelia. Tidak ada kebencian semalam dalam keluarga, walaupun nenek Miao bilang begitu tapi kan dia juga punya hubungan darah dengan Adelia jadi tidak apa-apa kalau dia mengambil lebih".
Tatapan Lu Xiang dingin seakan ingin menerkam siapa saja yang ada si hadapannya.
"Jadi maksud paman, kalau ke depannya jika seseorang di desa punya makanan atau uang lebih, maka mereka harus membaginya dengan orang lain karena hubungan saudara?"
Pertanyaan Lu Xiang membuat warga desa yang antusias menonton terkejut dan berubah ekspresi, tanpa melakukan apapun mereka juga ikut terseret dalam perdebatan tersebut. Namun apa yang Lu Xiang katakan ada benarnya juga. Seketika tatapan tertarik menonton mereka berubah menjadi waspada.
__ADS_1