
Lu Xiang berjalan ke arah kerumunan yang juga ingin ke kota. Setelah semua orang tiba, kereta sapi itu mulai berangkat menuju kota.
Sepanjang perjalanan, banyak warga yang berada dalam kereta melirik ke arah Lu Xiang, tepatnya ke arah barang yang ia bawa. Mereka tau bahwa Lu Xiang ingin menjual babi hutan membuat mereka menjadi iri namun sikap dingin pemuda itu membuat mereka tidak berani mengajaknya bicara.
Setengah jam kemudian, kereta sapi pun tiba di gerbang kota dan berhenti. Padatnya orang-orang yang berlalu lalang membuat sang pemilik kereta enggan masuk ke kota dan lebih memilih memarkirkan keretanya di luar gerbang kota kecil itu.
Lu Xiang pergi ke pasar daging dan menjual babi hutan seharga 80 koin tembaga lalu mulai berbelanja beras serta bumbu dapur, menghabiskan 30 koin tembaga.
Lu Xiang berjalan melewati penjual permen asam kana dan memutuskan untuk membeli 3 buah dengan harga 3 koin tembaga. Ia kemudian membeli selimut bekas karena tidak lama lagi musim dingin akan tiba, selimut yang ia miliki tidak cukup untuk ia dan Adelia serta membeli bibit sayur sawi, kubis serta brokoli.
Setelah berbelanja semuanya, uang Lu Xiang hanya tinggal 18 koin tembaga dikurang 1 koin tembaga untuk tumpangan kereta. Lu Xiang menghela napas karena uang yang ia hasilkan habis dengan sangat cepat.
Di sisi lainnya, Adelia membawa pulang sayur kangkung atau sayur liar lainnya yang ia petik di kaki gunung serta beberapa anak pohon buah seperti anggur merah, murbei dan pir yang ingin ia tanam di pekarangan rumahnya.
Walaupun Lu Cheng sudah memperingatkan bahwa buah-buahan itu rasanya asam dan kecut namun Adelia tetap ingin menanam pohonnya, jika ia tidak punya air sumur space teratai mungkin ia akan menyerah namun lainnya halnya dengan air sumur space teratai, dengan air itu ia yakin dapat menumbuhkan pohon itu dan berbuah yang manis.
Adelia mulai mengeluarkan sayur liar dan anak pohon buah satu persatu dari keranjang bambu dan mulai menanam anak pohon itu dengan jarak tertentu.
Adelia menggerakkan badannya yang letih setelah menyelesaikan semuanya, ia pun mulai menyiapkan makan siang dengan sisa ayam bakar lalu memanggil Lu Chen dan Lu Shan untuk makan bersama.
Lu Cheng melirik ke pekarangan yang sebagian sudah tidak kosong lagi karena anak pohon buah yang Adelia tanam. "Kak Adel, kenapa kakak menanam pohon anggur dan murbei? Buah itu rasanya asam kak. Tidak ada yang mau memakannya" Komplain anak kecil itu dengan yang sedikit lebih rendah, walaupun Adelia tetap kekeuh namun ia tidak rela pekarangan itu di tanam pohon buah yang akhirnya tidak bisa dimakan.
Adelia menaikkan alisnya. "Siapa bilang tidak ada yang mau memakannya? Pohon buah yang kakak tanam berbeda dengan pohon yang ada di hutan. Kau bisa memakannya bahkan bisa menghasilkan uang"
Mata Lu Shan berbinar sedangkan Lu Cheng memutar bola matanya, jenuh mencoba menjelaskan Adelia yang bermimpi di siang bolong menurutnya.
"Aku pulang!"
Suara Lu Xiang mengalihkan perhatian Lu Cheng dan Lu Shan, mereka segera turun dari kursi makan dan berlari cepat.
__ADS_1
"Kak Xiang!" Keduanya memeluk kaki Lu Xiang yang kemudian mengelus kepala mereka.
"Kau tidak nakal setelah kakak pergi ke kota kan?"
Keduanya menggeleng. "Kami bertingkah baik kak. Kami bahkan membantu kak Adel memetik sayur liar dan buah pir" Lu Shan terlebih dahulu melaporkan apa yang ia kerjakan semasa Lu Xiang pergi.
"Anak pintar. Kakak punya permen untuk kalian" Lu Xiang membuka bungkus barang dan memberikan dua permen asam kana kepada keduanya.
Seketika kedua pasang mata bocah itu berbinar dan menerima dengan cepat permen lalu memasukkannya ke dalam mulut mereka. Mata keduanya menyipit merasakan manis asam permen asam kana itu.
"Kau sudah pulang. Apa kau ingin makan siang langsung?" Adelia tersenyum.
Lu Xiang sesaat lupa bahwa sekarang ia punya seorang istri, sapaan layaknya suami istri itu membuat perasaannya menjadi aneh dan menyenangkan dalam saat bersamaan. Ia pun mengangguk. "Bekal yang ku bawa sudah habis" Lapornya.
Adelia mengangguk, ia masuk mempersiapkan peralatan makan Lu Xiang lalu bertanya "Apa saja yang kau beli? Apa hasil penjualan babi hutan cukup untuk keperluan semuanya?"
"Cukup dan masih ada sisa 18 koin tembaga lagi. Setelah ini aku akan membeli telur di rumah paman Ling untuk lauk kita beberapa hari kemudian sampai aku mendapatkan buruan baru"
"Kak Xiang, kak Xiang!" Lu Cheng yang sudah menghabiskan permennya teringat akan komplain yang ingin ia katakan pada kakaknya.
"Ada apa?" Lu Xiang menatap heran adiknya yang berwajah masam sesekali melirik Adelia yang duduk di depan meja makan.
Adelia yang sudah tau apa yang ingin bocah itu ceritakan menghela pasrah lalu memutuskan untuk mengemas belanjaan yang Lu Xiang bawa.
Lu Cheng mendekat dan berbisik komplain tentang Adelia yang menanam pohon buah yang rasanya asam.
Lu Xiang tersenyum lucu. "Tidak apa-apa, mungkin kak Adel punya cara agar pohon itu berbuah manis. Lagipula pekarangan rumah kita sangat kosong, menanam buah itu tidak jadi masalah"
Mendengar kakaknya membela Adelia, Lu Cheng mendengus sungut karena mengira kakaknya memanjakan istrinya dan tidak lagi memihak padanya. Malas memikirkan itu semua, ia pun bergabung dengan Lu Shan yang sedang asik bermain tanah.
__ADS_1
Malam harinya menidurkan Lu Shan dan Lu Cheng, Adelia pun melihat Lu Xiang yang masih membaca dengan bantuan cahaya lilin. Walaupun Adelia tidak begitu paham buku apa yang suaminya baca namun ia tau bahwa Lu Xiang masih sangat ingin melanjutkan pendidikan agar dapat mengikuti ujian akademik negara.
Tatapan Adelia membuat Lu Xiang mendongak. "Ada apa?"
"Kau masih ingin belajar di Akademi?"
Pertanyaan blak-blakan Adelia membuat Lu Xiang tertegun, ia terdiam sejenak. "Hm" Ia menurunkan pandangan sehingga Adelia tidak menangkap sinar sedih yang terpancar dari matanya.
Sesaat suasana menjadi canggung karena tidak ada satu pun yang ingin melanjutkan percakapan. "Apa kau besok akan pergi berburu lagi?" Tanya Adelia mengalihkan pembicaraan.
"Ya. Setelah aku pulang dari setelah memeriksa kondisi padi. Kenapa?"
Adelia terdiam sejenak lalu memberanikan untuk bertanya walaupun ia tau bahwa ia akan menjadi beban. "Apa aku boleh ikut?"
Alis Lu Xiang terangkat lalu mengernyit. "Untuk apa kau ikut? Disana sangat berbahaya dan lagipula siapa yang menjaga Lu Cheng dan Lu Shan jika kau ikut?"
Adelia berinisiatif untuk di samping Lu Xiang dan menatap lembut namun penuh keyakinan. "Kita bisa pergi sebentar. Kau berburu aku mencari sayur atau jamur, sayur liar di kaki gunung sudah tidak banyak lagi jadi aku ingin masuk hutan"
"Kau bisa menitipkan Lu Cheng dan Lu Shan ke paman Ling sebentar. Mereka bisa bermain dengan Ling Xiao, aku ingin meningkat makanan kita agar Lu Shan dan Lu Cheng bisa menjadi gemuk seperti anak-anak lainnya" Sambung Adelia ketika melihat Lu Xiang masih terdiam.
Tatapan Lu Xiang semakin sayu, kondisi keluarganya yang miskin membuat adik-adiknya tumbuh tidak sesehat anak lainnya dan itu menjadi salah satu penyesalannya. Ia menghela napas, "Baiklah kau boleh ikut. Tapi kau harus menuruti perkataan ku karena di hutan benar-benar berbahaya"
Seketika wajah antisipasi Adelia berubah cerah. Ia tersenyum lebar dan membayangkan pemandangan hutan yang belum pernah ia datangi sebelumnya, mungkin akan menyenangkan pikirnya.
Lu Xiang melihat perubahan wajah Adelia tanpa sadar ikut tersenyum lalu menjadi sedikit heran. Setelah Adelia sembuh dari sakit, gadis itu menjadi berbeda. Ia sudah beberapa kali bertemu sengaja atau tidak sengaja dengan Adelia dan menemukan fakta bahwa gadis itu selalu menundukkan wajah dan bersikap pengecut dan takut, apalagi ketika ibu tiri maupun neneknya memarahinya karena tidak bekerja dengan benar. Namun Adelia yang sekarang tidak ia temui sifat takut maupun pengecut yang biasa ia lihat sebelumnya, ia bahkan berpikir bahwa Adelia berubah menjadi orang lain walaupun itu mustahil.
Apakah seseorang bisa berubah menjadi sangat berbeda dari sebelumnya?.
"Kau sangat berbeda dari yang aku tau sebelumnya"
__ADS_1
Perkataan mendadak Lu Xiang membuat Adelia seperti di sambar petir, tubuhnya membeku dengan mata membesar terkejut.