
"Senang bertemu denganmu lagi Liang Wei" Lu Xiang menyinggung senyum walaupun matanya menatap datar.
Liang Wei menepuk kipas tangan lalu membuka dan menutup mulutnya sembari menatap remeh pada Lu Xiang. "Apa kalian mencium bau miskin?
Dua pengikutnya mengendus dan melangkah mundur. "Kau benar senior Liang, aku mencium bau miskin. Sebaiknya kau mundur bagaimana jika kau terkena bau itu".
"Itu pasti akan sangat bau dan sulit untuk dihilangkan" Sahut pengikut lainnya.
"Heh~ kau benar" Liang Wei melangkah mundur dan tertawa mengejek.
Lu Xiang memiringkan wajahnya, memegang dagunya seakan berpikir keras "Benarkah? Tapi mengapa aku mencium bau uang disini? Huft! Baunya sangat vulgar".
Seringai Liang Wei menghilang seketika. Ia berasal dari kalangan pebisnis dan tidak suka statusnya sebagai anak pebisnis yang rendah oleh karena itu ia berusaha untuk masuk ke Akademi dan merubah statusnya menjadi pelajar, itu lebih baik daripada si anak pedagang dan status jauh lebih baik setelah adiknya menjadi selir anak walikota di kota Qingchen. Orang-orang yang awalnya menjauhinya sekarang malah mengaguminya.
"Apa maksudmu? Kau menyebut Liang Wei bau uang?!"
"Lu Xiang!, beraninya kau menghina Liang Wei, apa kau tidak tau siapa yang ada di belakangnya? Dia sangat mudah membuatmu gagal ujian!"
Dua pengikut Lu Xiang berteriak marah dan semakin membuat orang-orang berhenti dan menonton perdebatan mereka.
Pepatah china mengatakan jangan takut akan anggota tim yang hebat tapi takutlah pada anggota tim bodoh seperti babi kecil.
Lu Xiang hanya diam dan menatap Liang Wei dengan tatapan iba lalu menghela napas panjang. "Mengapa kalian sangat emosi? Kemana semua bacaan ajaran konfiusme yang kalian baca?".
Perkataan tenang Lu Xiang sangat kentara dengan perkataan penuh emosi pengikut Liang Wei membuat orang-orang mulai berbisik dan menatap jijik dan takut pada tim Liang Wei hal itu membuat pemuda berpenampilan elegan itu menyadari sesuatu hal yang salah.
"Diam lah. Lu Xiang tid... "
__ADS_1
"Kau ingin menggagalkan ku ujian Liang Wei?"
Lu Xiang tidak membiarkan Liang Wei mengubah keadaan untuk berpihak padanya.
"Aku tidak pernah mengatakan itu, semua hanya salah paham". Kipas tangan di tangan Liang Wei hampir rusak karena genggaman kuat sang pemuda.
"Tapi pengikut mu mengatakan demikian, mengapa mereka bilang seperti itu kalau tanpa sebab? Apa karena adikmu menikah dengan anak walikota, walaupun dia hanya selir? Tentu tidak kan Liang Wei? Karena aku akan melaporkan ini pada guru Zhao Fan karena takut gagal ujian".
Awalnya ia tidak ingin meladeni ucapan tidak bermanfaat Liang Wei dan pengikutnya namun bayangan Adelia terbayang membuatnya membayangkan jika cemoohan ini akan terulang kembali pada istrinya karena pasifnya ia dalam mengatasi cemoohan itu membuat Lu Xiang ingin menggunakan apapun untuk membuat kesan bahwa dirinya bukan pecundang yang mau dicemooh.
Perkataan itu membuat Liang Wei membeku. Lu Xiang tidak hanya mengumumkan bahwa adiknya hanya selir dan bahkan mendikte bahwa gurunya juga seorang juren yang sama statusnya dengan walikota.
Pengikut Liang Wei juga panik melihat ekspresi dingin Lu Xiang, sebelumnya pemuda itu hanya diam tidak membantah semua cemoohan mereka membuat kesan bahwa dia seorang pecundang.
Semua orang di sana tertegun mendengar perkataan Lu Xiang dan menyadari hal yang sebenarnya terjadi dan membuat keadaan menjadi intens untuk sesaat namun Lu Xiang segera mengubah ekspresinya menjadi tenang seperti para pelajar yang berwibawa.
"Tapi seperti yang kau katakan, ini hanya salah paham semata. Bukankah begitu Liang Wei?". Ia tidak ingin menyudutkan Liang Wei hanya karena masalah sepele ini dan membuat masalah besar di kemudian karena dendam hari ini.
Dua pengikut itu melangkah maju dan membungkukkan badan mereka. "Kami minta maaf karena telah salah bicara, kami harap kau tidak menaruh dendam pada kami".
Salah seorang pengikut Liang Wei, berpenampilan biasa memelintir permintaan maafnya dengan isu bahwa Lu Xiang adalah seorang pendendam. Ia bernama Li Angou yang juga anak petani miskin, ia dapat bersekolah berkat Liang Wei makanya ia harus menjilat laki-laki itu untuk kelangsungan sekolahnya.
"Ya Lu Xiang. Kami minta tolong jangan dendam pada kami. Aku dan Li Angou hanya bercanda saja".
Liang Wei menahan senyum sinis karena tau maksud perkataan kedua pengikutnya, ia ingin tau bagaimana cara Lu Xiang melepaskan diri dengan alasan elegan bukan hanya dengan perkataan biasa, lebih baik jika laki-laki itu mempermasalahkan ucapan itu sendiri.
Lu Xiang merasa lelah dan menyesal meladeni Lu Xiang dan anak buahnya, ia menghela napas panjang. "Ajaran konfusius mengajarkan kita untuk tidak emosi, memutar balikkan fakta, memfitnah dan pendendam. Hari sudah senja, aku harus segera. Selamat tinggal Liang Wei". Ia meninggalkan kerumunan dengan langkah tenang.
__ADS_1
Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa Lu Xiang akan memotong perdebatan itu dan pergi dengan meninggalkan kesan bahwa tidak berguna berdebat lebih lanjut seakan menuding kedua pengikut Liang Wei sebagai orang bodoh yang tidak pernah belajar konfusius.
Wajah Liang Wei mengeras, ia melihat tajam pada punggung Lu Xiang seakan ingin memakannya hidup-hidup. Tunggu saja, ia akan membuatnya menyesal memilih masalah dengannya.
&&&
Hari-hari berlalu dengan cepat, seminggu ini Lu Xiang dan Adelia sibuk mempersiapkan pembukaan toko kue, orderan coklat manajer Xu dan mengcopy buku Konfusius dasar. Mereka mendapatkan uang yang cukup untuk membeli budak satu orang perempuan dan dua orang laki-laki.
"Mulai sekarang, kalian akan hidup dengan kami. Disini tidak banyak peraturan kalian hanya harus rajin dan loyal. Itu saja, apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti tuan" Ketiga orang itu menjawab serentak.
Lu Xiang dan Adelia memilih untuk membeli satu budak perempuan untuk pegawai toko kue dan membantunya dalam membuat kue dan membantu pekerjaan rumah, dua laki-laki lainnya sebagai penjaga toko dan rumah. Toko kue yang Adelia juga berpaku pada kalangan atas sehingga ia harus memperlihatkan keadaan yang pantas untuk kalangan tersebut jadi penjaga toko harus ada dan itu juga dapat mengatasi masalah jika keluarga Miao atau orang lain yang ingin membuat onar di toko miliknya.
Adelia hampir menghabiskan uang jualan coklat dan buku yang Lu Xiang copy untuk membeli budak, bahan kue dan baju kerja untuknya dan pegawai toko membuat gadis itu merasa frustasi karena uang keluar seperti air yang mengalir keras.
Namun perasaan frustasinya hilang ketika membuka perdana toko kue. Adelia, Lu Xiang dan adiknya berpakaian rapi dan baru untuk menyambut konsumen.
Lu Xiang menyalakan petasan api yang meledak-ledak dengan gembira lalu bergabung dengan Adelia.
"Lu Cheng, Lu Shan. Tugas kalian adalah memotong pita merah ini sampai putus".
Karena persiapan besar dan suara petasan api yang keras membuat orang-orang berdatangan penasaran akan toko apa yang akan dibuka oleh pasangan muda itu membuat kedua adik Lu Xiang menjadi gugup.
"Baik kak" Lu Cheng tetap dapat mengontrol ekspresinya walaupun gugup namun Lu Shan menoleh kesana kemari, sedikit panik akan banyaknya orang yang menonton.
"Jangan gugup. Pegang gunting ini dan potong pita merahnya" Adelia membantu Lu Shan meletakkan gunting di pita merah dan berhitung.
__ADS_1
"1 2 3. Potong pita merahnya".
Lu Cheng dan Lu Shan memotong pita merah dan Adelia bertepuk tangan dengan gembira membuat Lu Xiang dan orang-orang juga ikut bertepuk tangan. Sebelumnya tidak ada pemotongan pita apapun dalam pembukaan toko atau acara peresmian lainnya, orang-orang hanya menjalankan ritual penyalaan petasan saja sehingga membuat orang-orang itu menjadi kagum dan mendapat inspirasi baru dalam ritual peresmian.