Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Tujuan kepala desa dan tetua klan


__ADS_3

Malamnya Lu Xiang membantu Adelia untuk menghidupkan perapian dan membakar batu bara untuk barbeque. Ia telah memesan beberapa makanan laut dari pemilik vila dan siap menunggu istrinya memanggang daging dan makanan laut untuk disantap.


Adelia telah mempersiapkan saus barbeque dari rumah dan mulai sibuk memanggang daging, jamur dan seafood, aroma daging terpanggang dengan bumbu barbeque membuat mulut orang-orang yang menciumnya penuh dengan air liur.


Lu Shan bahkan tidak sabar dan mendekati kakaknya yang sibuk di panggangan sembari memeluk bantal boneka, mulutnya seperti mengunyah daging yang terlihat di matanya membuat Lu Xiang dan Adelia tersenyum.


"Kak, apakah masih lama?".


"Sebentar lagi. Duduk dengan Lu Cheng sana, disini sangat panas". Adelia membantu Lu Xiang membolak-balikan daging dan seafood maupun jamur agar matang merata.


Lu Shan menggeleng dan tetap memandang daging barbeque sembari sesekali menelan air liur.


Tak berapa lama, Adelia meletakkan barbeque yang sudah matang di atas piring dan membawa ke kursi dipan. Lu Cheng yang asik bermain di ayunan segera bergabung dengan adiknya sudah mengikuti Adelia.


Kedua anak kecil itu melahap barbeque dengan hati-hati sambil sesekali meniup barbeque yang masih panas.


Adelia memotong barbeque menjadi potongan kecil dan menyuap Lu Xiang yang sibuk memanggang.


"Ini enak".


Adelia tersenyum bangga. Saus barbeque memang saus andalannya, ia sering diminta dibuatkan saus barbeque oleh temannya ketika mereka ingin bercamping, jadi tidak ada keraguan akan kemampuan wanita itu dalam membuat saus barbeque.


Pemandangan bintang dan terangnya bulan diiringi oleh warna warni lampion membuat malam terasa sangat menyenangkan dan menenangkan. Lu Xiang dan Adelia duduk di kursi dipan di depan vila setelah menidurkan Lu Shan dan Lu Cheng yang kekenyangan.


Lu Xiang memeluk istrinya menikmati pemandangan bulan sembari menikmati wine buah, suasana sunyi namun tidak kesepian karena deburan suara ombak yang membuat jiwa terasa ringan.


"Malam yang sangat tenang" Komentar Adelia.


"Ya. Begitu menenangkan tanpa ada gangguan dari siapapun. Kita harus sering-sering berlibur Adelia, disini tidak ada keluarga Miao, Keluarga Lu atau mak comblang gila yang membuat kepala menjadi pusing".


"Hahahaha. Itu karena kau terlalu banyak tebar pesona seperti yang Lu Cheng katakan".


"Cih, suami mu memang begitu menyilaukan walaupun aku tidak tebar pesona namun tetap saja banyak yang tertarik". Lu Xiang membela dirinya sendiri.


Adelia kembali tertawa dan kembali menatap bintang-bintang di langit. "Lu Xiang".


"Um".

__ADS_1


"Ketika kita tua nanti, mari kita bangun vila disini dan menikmati hari tua kita bersama".


Lu Xiang tertegun lalu tersenyum lembut penuh kasih sayang. "Ya. Mari kita bangun vila kecil cukup untuk kita berdua dan menikmati sisa-sisa hidup kita disini".


Angin semilir dan suara ombak menjadi saksi atas janji kedua insan itu.


&&&


Hari kedua keluarga Lu Xiang berlibur, mereka berkeliling kota membeli pernak-pernik yang menarik yang dijual oleh penduduk setempat mulai dari kalung, cincin atau gelang.


Lu Xiang memilih beberapa untuk istrinya dan Adelia pun memilih beberapa simpul dan tusuk konde yang terbuat dari batu giok untuk suaminya.


Lu Cheng memilih peralatan menulis dan beberapa buku cerita rakyat sedangkan Lu Shan fokus pada makanan khas kota Shuzhou.


Adelia juga membeli beberapa kain tenun atau bakal baju yang terbuat dari satin dan sutra untuk membuat baju musim semi, ia telah menyiapkan pakaian musim semi untuk keluarganya namun tidak salah memiliki baju lebih.


"Cepat sekali pulangnya". Lu Shan mengeluh kecewa. Liburan dua hari terasa sangat cepat, ia bahkan merasa bahwa mereka baru saja sampai dan sudah ingin pulang.


"Kak Xiang tidak boleh lama libur sekolah. Kapan-kapan kita akan berlibur lagi".


Selesai makan siang keluarga Lu Xiang pulang, kembali ke kota Cheng dengan enggan. Liburan pertama mereka terasa sangat menyenangkan hingga mereka lupa bahwa sudah waktunya untuk kembali.


Lu Cheng dan Lu Shan memandangi gerbang kota Suzhou yang semakin jauh lalu menghela napas panjang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada awal berangkat, walaupun Adelia masih mual di tengah perjalanan namun tubuhnya tidak sampai lemas hingga mengharuskannya untuk bersandar di bahu Lu Xiang.


Kereta kuda sampai ke rumah pada sore hari. Lu Mei dan Lu Yan yang merupakan pelayan baru yang Adelia pilihkan sudah menunggu mereka bersama dengan Lu Fang dan Lu Feng.


"Selamat datang kembali tuan, nyonya dan tuan muda" Mereka menyapa dengan hormat.


"Kami pulang. Apa ada masalah sewaktu kami berlibur?" Lu Xiang menggenggam tangan Adelia yang sedang turun dari kereta.


"Tidak ada masalah selama anda pergi tuan, hanya saja beberapa orang datang berkunjung ingin bertemu dengan anda, mereka mengatakan bahwa mereka kepala desa Miao dan tetuanya".


Ekspresi Adelia dan Lu Xiang sedikit berubah. Adelia berpikir bahwa keluarga Miao kembali berbuat ulah namun Lu Xiang berpikir bahwa mereka mempunyai maksud tertentu, mungkin menyangkut gelar Xie Hsien yang ia miliki.


Semenjak tahun baru, Adelia dan Lu Xiang tidak lagi mengunjungi desa Miao walaupun setelah mendapat gelar sarjana Xie Hsien. Para petugas yamen tidak mengunjungi desa Miao untuk melaporkan pencapaian yang Lu Xiang capai karena laki-laki itu telah mengubah tempat tinggalnya di berkas ujian.


Mungkin karena hal itu, kepala desa Miao dan tetua memilih datang sendiri ke kediaman Lu Xiang karena laki-laki itu tak kunjung datang.

__ADS_1


"Lu Xiang. Apa menurutmu keluarga Miao membuat masalah lagi?" Adelia duduk di ruang tamu dan memikirkan apa gerangan kepala desa Miao berkunjung ke rumahnya.


Lu Xiang menggeleng. "Aku tidak berpikir begitu, seperti kedatangan kepala desa menyangkut gelar Xie Hsien".


"Hm? Kenapa?".


"Sewaktu paman Huanran menjadi sarjana, kepala desa meminta persentase dari bebas pajak tanah. Menurut ku itu tujuan kepala desa Miao".


Adelia tersadar. Ya, karena kepala desa akan mendukung pelajar yang ingin berpotensi untuk lulus ujian. Ia ingat dari memori si pemilik tubuh bahwa kepala desa Miao membantu ladang keluarga Miao ketika memanen sehingga mereka tidak perlu membayar orang lain. Sebelum Adelia menikah, ia dan dua pamannya saja yang bekerja di ladang dan tentu saja itu tidak cukup dalam mengelola sawah yang luasnya belasan hektar.


Namun Adelia menjadi speechless. "Tapi kau kan tidak mendapat dukungan apapun dari klan maupun dari desa Lu Xiang? Apa mereka berani meminta bagian dari bebas pajak tanah walaupun mereka tidak memberikan apapun?".


Lu Xiang tersenyum sinis. "Itu karena aku tidak memiliki keluarga". Untuk seorang sarjana, dukungan dari desa dan klan sangat penting karena jika sesuatu hal terjadi yang dapat merusak reputasi maka klan dapat membantu namun itu tidak berlaku padanya, dari awal sampai akhir ia sama sekali tidak mengharapkan bantuan apapun dari klan maupun desa dan melakukan apapun sendirian.


Adelia semakin speechless. Mengapa orang-orang datang seperti semut satu persatu, apa mereka seperti makanan manis?. Mengapa mereka tanpa malu meminta sesuatu bahkan sebelum mereka memberikan sesuatu juga?, ia tidak cara berpikir orang seperti itu.


"Jika memang itu tujuan mereka maka mereka sangat tidak tau malu, apa kau ingin memberikannya Lu Xiang?".


Lu Xiang diam sesaat lalu mengangguk, membuat Adelia tertegun. "Aku pikir uang pajak tanah yang tidak perlu dibayar bisa digunakan untuk anak-anak bersekolah, di desa Miao hanya aku dan Miao Sheng yang dapat bersekolah".


Adelia terdiam, ia merasa malu karena berpikir sempit. Hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk membantu orang lain, jika semua orang bersikap seperti warga desa Miao maka kaya akan menjadi semakin kaya dan miskin menjadi semakin miskin. Wajah Adelia memanas, sikap modern yang jarang peduli pada bukan urusan diri sendiri melekat di jiwanya hingga ia jarang berpikir sesuatu yang tidak berguna untuknya.


"Maaf Lu Xiang. Aku berpikir sempit, kau benar uang pajak itu dapat membantu anak-anak bersekolah dan menjadi sarjana yang terhormat".


"Jangan meminta maaf sayang. Apa yang kau pikir juga benar, aku melakukan ini juga untuk diriku sendiri dan keluarga kita. Walaupun mereka tidak membantu apapun jika kita terlibat masalah setidaknya mereka tidak akan membantu orang yang ingin menjatuhkan kita". Ia dapat berpikir demikian karena ajaran dari Zhao Fan yang sudah bergelut di pemerintahan dan keluar.


Adelia mengangguk mengerti. "Berapa banyak yang ingin kau berikan Lu Xiang?".


"Setengahnya, sekitar 15 hektar. 1 hektar tanah dapat menghasilkan padi sebanyak 3 ton lebih dan pajak 40% adalah 1.2 ton jika ditotalkan maka satu kali panen menghasilkan 18 ton padi yang seharusnya dibayar untuk pajak, itu cukup untuk dua orang anak belajar di sekolah dasar".


Pajak panen memang terlihat besar, itu terjadi karena kerajaan Murong sedang dalam gencatan senjata dengan Kerajaan Yuan. Pajak tanah lebih rendah pada pemerintah Kaisar Yi dibandingkan dengan kepemimpinan ayahnya yang menetapkan pajak tanah hingga 55%.


18 ton sama dengan 180 kuintal. 1 kuintal padi dijual 1 koin perka maka total semuanya 18 koin perak. Ya, itu cukup untuk membiayai dua orang anak untuk sekolah.


"Baiklah kalau begitu, tapi bagaimana jika mereka malah tidak menggunakannya untuk biaya pendidikan?" Adelia memiliki kesan untuk kepala desa yang tidak adil dan lebih memilih keluarga Miao walaupun mereka salah.


Lu Xiang tersenyum misterius. "Aku akan mengatasinya sayang. Mereka tidak akan bisa memanipulasi uang itu untuk keuntungan mereka sendiri". Bukan tipenya yang melakukan kebaikan diam-diam, ia membantu desa karena ingin reputasi baik jadi tidak mungkin ia membiarkan warga desa tidak tau apa yang ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2