
"Ba-bagaimana mungkin?!".
Liang Shu menatap pasrah pada keponakannya. "Seharusnya kau cari dulu informasi tentang orang yang ingin kau cari masalah, keluarga lain semua tau dan berusaha untuk menjalin hubungan dengan Xiefu Lu tapi kau malah mencari masalah".
Ia harus menjelaskan masalah ini setelah suaminya pulang nanti karena ia tidak ingin membuat suaminya tidak suka dengannya yang punya keponakan yang selalu mendatangkan masalah ke keluarga Zhong.
Hubungan Liang Shu dengan Prefek Zhong sekarang hanya menjadi hubungan saling menghormati karena kehadiran selir dan masalah yang ditimbulkan oleh Liang Chenyue dan keluarga maternalnya.
"Tentu saja mungkin, proyek itu sedang berlangsung saat ini. Sebaiknya kau pulang saja, bibi aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini pada pamanmu".
Liang Chenyue masih terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Xiefu Lu dari kalangan petani itu dapat mengenal dan bahkan bekerjasama dengan pamannya yang seorang Prefek?!.
Walaupun ia tidak takut pada bibinya namun tidak pada pamannya, laki-laki tegas dan berwibawa itu membuatnya sungkan dan takut di saat bersamaan. Liang Chenyue menyesal tidak mencari lebih detail tentang Adelia sebelum mendatangi rumah kediaman Lu. Jika pamannya tau dia membuat masalah pasti pamannya tidak akan lagi mengizinkan bibi untuk menggunakan nama lagi Prefek Zhong.
"Bi-bibi. Apa yang harus aku lakukan, paman pasti akan marah padaku". Tidak ada lagi ekspresi superior dan arogan di wajah Liang Chenyue, saat ini ia berpikir bagaimana caranya agar membuat pamannya tidak marah.
"Kau tenang saja. Bibi akan menjelaskan kesalahpahaman ini, paman pasti tidak akan mempermasalahkannya. Untuk ke depan, jangan lagi mencari masalah dengan membawa keluarga Zhong, kau tau pamanmu tidak suka ada yang ingin merusak reputasinya". Melihat wajah pucat keponakannya, Liang Shu menjadi tidak tega memarahi wanita itu lagi.
Liang Chenyue mengangguk kuat. Ya, bibinya pasti akan membantunya agar paman tidak marah.
Adelia sialan! Pantas saja dia tidak tau ketika ia membawa nama Prefek Zhong!! Rupanya suaminya mengenal Prefek Zhong!.
Liang Chenyue semakin membenci Adelia, ia juga marah pada pelayannya yang tidak becus sampai informasi itu saja tidak bisa di dapatkan.
"Baiklah bibi. Aku akan pergi, kau harus menjelaskan semuanya supaya paman tidak marah padaku ya. Aku akan menunggu kabar darimu". Liang Chenyue melangkah pergi setelah bibinya mengangguk. Ia yang sudah biasa dipenuhi keinginannya sama sekali tidak mengucapkan terimakasih pada bibinya yang berniat ingin membantu.
Menantu Meng dan menantu Wen yang mendengar itu semua tertegun, dalam hati mereka senang karena Liang Chenyue mendapatkan masalah. Ketidaksopanan Liang Chenyue pada mereka membuat keduanya tidak suka dengan keponakan ibu mertua mereka.
"Ibu mertua. Apa ini tidak akan menjadi masalah?" Menantu Wen bertanya penasaran.
"Tidak apa-apa. Ini hanya kesalahpahaman, kalian boleh pergi. Jangan katakan apapun yang kalian dengar di sini, kalian mengerti?".
"Mengerti ibu mertua".
Liang Shu sendiri tidak panik ketika mendengar keponakannya mencari masalah dengan istri Xiefu Lu karena ia tau Lu Xiang pasti tidak akan melaporkan hal ini pada suaminya karena Liang Chenyue bukan bagian dari keluarga Zhong. Ia tau bahwa Lu Xiang adalah sarjana yang bijaksana dan dapat melihat jauh ke depan karena tidak mungkin suaminya mau bekerjasama jika karakter Lu Xiang bermasalah.
Tidak ada gunanya menyampaikan masalah yang terjadi antara istrinya dengan Liang Chenyue karena tidak ingin membuat kesan buruk pada Prefek Zhong.
__ADS_1
Namun yang tidak Liang Shu pikirkan adalah Lu Xiang akan jauh dari kata bijaksana dan melihat jauh ke depan jika berhubungan dengan istrinya.
&&&
Sorenya setelah pulang dari akademi, Lu Xiang meminta izin pada Juren Shan karena ingin bertemu dengan Prefek Zhong. Proyek tanggul akan memasuki tahap akhir sehingga Prefek Zhong memanggilnya untuk mendiskusikan serta melihat bersama ketika proyek itu selesai dan sukses.
Lu Xiang memilih untuk pulang dulu melihat istrinya, baru setelah itu ia akan pergi menemui Prefek Zhong di kantornya.
Namun ia tidak menyangka bahwa seseorang berani mencari masalah dengan Adelia ketika ia tidak ada.
"Benarkah? Dia mengatakan bahwa dia punya backing keluarga Zhong?".
"Ya tuan besar. Nyonya bahkan menangis setelah mendengar makian dari wanita itu".
Lu Xiang tertegun. "Adelia menangis?!". Ia segera masuk ke rumah utama dan melihat Adelia yang sedang merajut baju bayi didampingi oleh Lu Cheng dan Lu Shan yang membaca buku dan bermain.
"Lu Xiang!. Tidak biasanya kau cepat pulang. Apa pekerjaan mu sudah selesai?". Adelia segera membuang baju rajutan yang hampir jadi di tangannya dan menyambut kepulangan suaminya.
"Kak Xiang" Lu Cheng dan Lu Shan juga berdiri menyapa.
Lu Xiang mengangguk. "Kalian sudah makan siang?".
"Kalau begitu kerjakan pekerjaan rumah yang guru kalian berikan".
"Ya kak. Kami sedang mengerjakannya".
Lu Cheng menatap Adelia dan kakaknya lalu ingin membuka mulut namun ia urungkan. Ia tidak tau mengapa kakak iparnya menangis namun ia tidak mau bertanya di hadapan Adelia karena akan membuat mood kakak iparnya memburuk kembali.
Lu Xiang menatap mata Adelia yang sedikit membengkak, rahangnya mengeras namun segera tersenyum lalu memeluk istrinya.
"Aku meminta izin untuk pulang lebih awal karena Prefek Zhong memanggilku. Lu Mei bilang tadi ada tamu?".
Adelia diam sesaat lalu mengangguk. "Dia pemilik toko kue Meizhen ingin membeli resep kue puding dan minuman dariku. Tentu saja aku tidak memberikannya, tapi suamiku, apa tidak akan jadi masalah? Aku...aku mengusirnya karena tidak sopan".
"Oh! Apa Prefek Zhong memanggilmu karena hal ini?". Tanya Adelia menyadari sesuatu.
Lu Xiang menggeleng sembari terkekeh pelan, ia merapikan rambut panjang Adelia dan mencium keningnya. "Tidak mungkin, Prefek Zhong memanggilku karena proyek tanggul memasuki tahap akhir, mungkin aku akan pergi ke desa Shu untuk beberapa hari bersama Prefek untuk melihat apakah proyek ini sukses besar atau masih perlu perbaikan".
__ADS_1
Adelia mengangguk mengerti.
"Kau sedang membuat baju untuk anak kita?". Tanya Lu Xiang mengalihkan pembicaraan.
Mata Adelia bersinar, ia melihat baju rajutan yang hampir jadi lalu mengangguk kuat dengan senyum cerah. "Ya. Anak kita akan lahir di musim dingin jadi aku merajut beberapa baju".
"Jangan sampai kelelahan kau mengerti, kau bisa meminta Lu Mei atau Lu Yang untuk membuat baju anak kita".
"Aku mengerti, aku mengerjakan karena tidak punya kegiatan lain. Kau tidak boleh membolehkan ku melakukan ini dan itu jadi aku bosan jika tidak melakukan apapun".
"Baiklah. Kau harus istirahat jika sudah selesai, jangan paksakan dirimu. Kita masih punya banyak waktu untuk melakukan persiapan penyambutan anak kita".
"Baiklah baiklah. Kalau begitu cepat pergi, jangan membuat Prefek menunggu".
Lu Xiang menatap mata istrinya yang sedikit membengkak karena terlalu lama menangis, ia mengecup sepasang mata itu sebelum mengambil buku tentang ide dan pengembangan tanggul ketika ia berkunjung mengawasi proyek serta dua botol wine rosella untuk ia berikan pada Prefek Zhong.
"Aku pergi, kau tidak perlu mengantarkan ku sayang". Ia menatap Lu Mei, wanita itu cepat mengerti dan keluar rumah.
"Hati-hati di jalan".
Senyum Lu Xiang menghilang ketika sampai ke pintu pagar.
"Tuan besar" Lu Mei membungkuk rendah badannya.
"Katakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir?" Nada dingin yang sangat kentara ketika berbicara dengan Adelia. Lu Xiang menatap pintu pagar dan mendengar apa yang Liang Chenyue katakan tanpa tertinggal satu patah kata pun.
Tangan Lu Xiang mengepal kuat, rahangnya mengeras dan matanya menjadi dingin. Liang Chenyue! Aku akan mengingat nama itu dan membalasnya.
"Berapa lama Adelia menangis?".
"Sekitar setengah jam tuan besar".
Lu Xiang berbalik menghadap Lu Mei. "Jaga Adelia baik-baik. Jika dia menangis karena suatu masalah, laporkan padaku walaupun aku sedang di Akademi".
"Baik tuan besar".
Lu Mei membalikkan badan untuk kembali ke rumah utama namun beberapa langkah ia berhenti dan terkejut. "Tuan muda Cheng"
__ADS_1
Lu Cheng mendengar apa yang Lu Mei laporkan pada Lu Xiang, ia mengangguk dan pergi tanpa ekspresi apapun namun dalam hati ia mengingat nama wanita yang membuat kakak iparnya menangis.