
Lu Xiang menyewa dua kereta kuda untuk mengangkut barang-barang mereka yang tidak terlalu penting seperti perlengkapan memasak atau kendi wine dan perlengkapan membuat wine. Barang yang penting seperti buku dan yang lainnya sudah Adelia simpan di dalam space.
Lu Xiang menyuruh Lu Cai, Lu Tao dan Lu Fang serta Li Feng untuk pergi ke Fucheng menggunakan kereta, sedangkan pelayan lainnya pergi menggunakan jalur laut bersama keluarganya.
"Kalian sudah siap? Apa ada barang yang tertinggal?" Adelia memastikan untuk terakhir kalinya.
"Tidak ada nyonya".
"Ayo kita berangkat".
Adelia sudah menyelesaikan semua urusannya bersama Xiaowen mengenai toko kue dan pamit kepada Zho Fan bersama dengan meninggalkan sisa wine anggur yang ia miliki sehingga ia dapat berpisah dengan kota Cheng tanpa beban.
Lu Xiang menyewa tiga kereta untuk mereka berangkat ke dermaga yang ada di kota Suzhou. Lu Cheng dan Lu Shan sangat bersemangat untuk mengalami pengamalan perjalanan laut namun sebelumnya Adelia sudah memberikan obat mabuk perjalanan mewanti jika keduanya mabuk laut.
Karena hamil, Adelia tidak berani meminum obat dan hanya mengandalkan air sumur teratai untuk mengatasi mual namun akhirnya ia muntah dalam perjalanan menuju ke kota Suzhou.
Lu Xiang dan adiknya menatap khawatir, mereka tidak bisa melakukan apapun dan hanya dapat melihat Adelia muntah sembari mengelus punggung untuk menenangkan.
"Aku tidak apa-apa" Dengan wajah pucat, Adelia tersenyum lemah, hal itu membuat Lu Xiang semakin cemas.
Mereka sampai ke dermaga yang di penuhi oleh pedagang atau keluarga yang akan melakukan perjalanan laut. Lu Xiang membopong istrinya ke kapal dan masuk ke kamar yang sudah ia pesan.
"Jaga Lu Cheng dan Lu Shan baik-baik. Aku akan bersama dengan Adelia".
"Baik tuan besar". Para pelayan masuk ke kamar samping untuk menenangkan Lu Cheng dan Lu Shan yang cemas akan keadaan Adelia.
"Tenang saja tuan muda. Nyonya tidak apa-apa, setelah sampai dan beristirahat. Keadaan nyonya pasti akan membaik".
"Ya, tuan. Jangan khawatir".
Lu Shan mengangguk lemah. Segala antusias yang ia rasakan sebelum berangkat menghilang melihat wajah pucat Adelia. Ia menatap Lu Cheng yang hanya diam lalu menundukkan wajahnya.
Perjalanan 6 jam tersebut terasa panjang dan singkat. Adelia sudah mulai membaik setelah memuntahkan isi perutnya dan beristirahat, ia makan siang bersama Lu Xiang dan bertanya dimana Lu Cheng dan Lu Shan.
"Mereka ada di samping. Kau tidak perlu khawatir, Lu Niang, Lu Mei dan Lu Yan akan menjaga mereka".
Adelia hanya mengangguk.
Petang harinya, Lu Xiang turun dari kapal bersama dengan keluarganya menyambut angin kota Nan An yang sejuk.
Mereka memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi Adelia yang tidak begitu sehat. Perjalanan dari Nan An ke kota Fucheng memakan waktu dua jam dan itu cukup jauh untuk Adelia menahan ketidaknyamanan yang ia rasakan.
Lu Xiang memandikan Adelia dibawah perlawanan istrinya. Namun perkataannya membuat wajah Adelia memerah sempurna dan menyerah.
__ADS_1
"Jangan malu. Aku sudah melihat semuanya".
"Kau!" Adelia tidak dapat berkata apapun karena begitu malu.
Lu Xiang membuka pakaiannya hingga telanjang dan mulai melepaskan pakaian istrinya. Melihat tubuh suaminya yang perkasa dengan dada bidang bahu lebar tampak begitu maskulin membuat Adelia menutup wajahnya. Walaupun mereka sudah banyak melakukan hubungan intim yang mengharuskan mereka melepas baju namun ia masih belum bisa mengatasi pemandangan erotis yang membuat hidungnya seperti ingin mimisan.
"Sayang~. Kenapa kau menutup wajahmu? Aku tidak bisa melihat wajah cantik istriku".
"Uh!...sebaiknya aku mandi sendiri saja. Tubuhku sudah cukup membaik".
Adelia ingin berlari namun sepasang tangan kekar dengan menangkapnya dari belakang. Lu Xiang tertawa seksi.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah melihat tubuhku sayang~".
Logika macam apa itu?! Kau sendiri yang bertelanjang!.
Adelia ingin melawan namun kecupan yang mendarat di leher lalu gigitan lembut membuat tubuhnya tersengat.
Tangan Lu Xiang merangkak naik dari pinggang menuju perut dan merasakan perut yang sudah berisi dan sedikit keras. Ia mengelus perlahan dan menggendong Adelia membuat wanita itu berteriak histeris.
Lu Xiang tersenyum dan melangkah masuk ke bak mandi besar dan menghela napas nyaman.
"Besok kita akan berangkat pagi?".
"Bagaimana jika kita mengelilingi kota Nan An dulu sebelum pergi ke Fucheng?".
"Baiklah. Kita akan melakukan itu".
Adelia tersenyum senang dan mengecup pipi suaminya dengan suara besar. Namun Lu Xiang tentu tidak akan puas dengan hanya kecupan saja, ia memiringkan wajah Adel dan mulai menikmati rasa bibir dan bagian dalamnya.
Sepasang lidah menari-nari mengejar satu sama lain lalu membelit, menghisap dan merasakan kehangatan masing-masing.
Pandangan Adelia memudar, air hangat dan ciuman dalam itu membuat tubuhnya rileks hingga sebuah benda keras mulai menusuk pahanya. Mata Adelia terbuka lebar dan menatap Lu Xiang yang masih mencium bibirnya.
Tak lama kedua bibir itu terpisah dengan menjalin jembatan saliva diantara keduanya. Adelia menjilat air bening itu membuat tatapan Lu Xiang semakin dalam dan benda di paha bawah Adelia semakin mengeras.
"Kau... Kau ingin aku menghisapnya?".
Pertanyaan erotis membuat junior Lu Xiang berdenyut seakan ingin memuntahkan cairan panas yang sudah lama tidak ia keluarkan. Lu Xiang memeluk erat Adelia sembari menggosok tubuh bagian bawahnya ke paha Adelia lalu menghirup dalam napas.
"Jangan. Kau sedang tidak enak badan, bagaimana jika kau mual lagi? Aku bisa menyelesaikannya sendiri".
Namun Adelia tetap merasa kasihan karena kehamilannya membuat suaminya harus menahan diri, ia memasuk tangan ke air dan menggenggam stik panas itu dan mulai melakukan gerakan naik turun.
__ADS_1
"Ugh! Sayang~" Lu Xiang yang sudah lama tidak melepaskan libidonya memeluk Adelia dan mencium istrinya dengan liar.
Namun bantuan yang Adelia berikan tidak begitu memuaskan baginya yang sudah merasakan dinding hangat dan rapat tubuh istrinya. Ia meminta Adelia untuk berlutut dan memasukkan juniornya ke dalam paha.
Rasa hangat dan sensasi nikmat yang menyentuh genital membuat Adelia mulai mendesah seksi. Tangannya memegang erat bak mandi kayu, terhuyung-huyung seiring permainan pinggang Lu Xiang.
"Sayang. Aku mencintaimu sayang...Adelia ku~".
Bisikan rendah dan seksi itu semakin membuat panas dalam tubuh Adelia meningkat hingga ia mengeluarkan alunan suara panjang dan merasakan cairan hangat di pahanya. Pandangan Adelia mengabur, entah karena melepas kenikmatan yang tiada taranya atau karena kelelahan. Jika Lu Xiang tidak sigap menangkap tubuhnya maka ia mungkin akan jatuh ke air.
"Maaf sayang". Lu Xiang tau bahwa istrinya kelelahan namun masih juga meladeni nafsunya. Ia merasa bersalah dan senang dalam saat bersamaan.
Keduanya tidur lelap setelah puas melepaskan rasa yang sudah lama mereka tahan.
Keesokan harinya, Lu Cheng dan Lu Shan merasa senang melihat Adelia yang sudah bugar kembali.
"Kak Adel. Kau sudah tidak apa-apa?".
"Ya. Aku sudah beristirahat dan sudah pulih. Bagaimana dengan kalian?".
"Kami juga baik kak. Apa kita akan berangkat ke Fucheng sekarang?".
Adelia menggeleng misterius. "Apa kalian tidak ingin melihat kota Nan An? Kita bisa berkeliling kota terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan lagi".
"Benarkah?" Keduanya menatap senang. Sebelumnya mereka tidak terlalu menikmati pemandangan dermaga karena Adelia yang mabuk perjalanan.
"Ya. Ayo kita lihat dan beli apapun yang kalian mau".
Lu Cheng tersenyum lebar sedangkan Lu Shan melompat girang.
Keluarga Lu Xiang mengelilingi kota Nan An bersama, mencoba makanan khas kota tersebut dan membeli pernak-pernik atau sesuatu yang mereka anggap menarik.
Keluarga Lu Xiang bersenang-senang hingga siang hari, mereka makan siang sebelum berangkat menggunakan kereta kuda menuju Fucheng.
Lu Xiang menyuruh sang pengendara untuk kereta berjalan pelan agar Adelia tidak merasa mual sehingga perjalanan mereka memakan waktu lebih lama.
Sesampainya di Fucheng, Lu Xiang membayar biaya masuk dan langsung pergi ke rumah baru yang sudah dikosongkan oleh pemilik sebelumnya.
Adelia melihat gerbang besar bertuliskan Meng di atas gerbang lalu melangkah masuk. Halaman luas dan terdapat bunga dan pohon buah membuatnya terlihat lebih asri.
Lu Niang dan Lu Mei membersihkan rumah utama dengan cepat. Seperti halnya keluarga Lu Xiang, pemilik lama yaitu keluarga Meng juga meninggalkan furnitur untuk mereka karena ingin pindah ke kota lain.
Kehidupan Adelia di Fucheng pun di mulai.
__ADS_1