Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Ujian Hui-shih


__ADS_3

Lu Xiang bangun pada pagi buta dan segera bersiap, ia sarapan dan makan seperlunya karena tidak ingin ke kamar mandi ketika ujian baru saja dimulai. Ia, Wang Jiayou, Wang Tianjin dan Zhang Yunlei pergi bersama ke gedung tempat ujian berlangsung dan sampai 10 menit kemudian.


Di sana sudah ada peserta lainnya yang sudah datang lebih dahulu, mereka menatap kiri dan kanan mereka mengawasi biar tidak ada yang menyelipkan contekan atau apapun yang melanggar aturan ujian, begitu juga dengan Lu Xiang dan teman-temannya, mereka juga tidak melepaskan kewaspadaan mereka dan terus memegang kerenjang yang telah di berikan oleh petugas keamanan ujian.


"Ujian segera akan dimulai, di harapkan pada para sarjana untuk segera bersiap!!". Petugas berteriak memberi petunjuk.


Para sarjana kemudian mengantri dan memulai rutinitas sebelum ujian yaitu pemeriksaan sebelum masuk ke gedung ujian. Lu Xiang melihat walaupun konsekuensi ketahuan membawa contekan lebih berat daripada ujian Sheng-shih namun pemeriksaan justru tidak seketat ketika ia mengikuti ujian sebelumnya.


Lu Xiang berpikir dan mengerti, di kota Shenyang dibawah pengawasan Kaisar tentu saja tidak ada yang berani bermain curang karena yang terkena hukuman bukan hanya mereka saja namun juga keluarga dan sanak saudara, hukuman yang hampir setara dengan berkhianat pada kerajaan!!.


Setiba giliran Lu Xiang, waktu sudah mulai sedikit terang. Ia menyerahkan keranjang dan mulai membuka pakaiannya sebelum di periksa dengan ceroboh dan memakai kembali pakaiannya dan masuk ke dalam ruangan besar sebelum memeriksa nomor bilik ujiannya.


Berbeda dengan Sheng-shih, ujian Hui-shih berlangsung lebih lama yaitu 4 hari dengan 3 gelombang serta pertanyaannya juga lebih sulit dan tajam membuat para peserta menyerngit dalam ketika membaca pertanyaan.


"Shu Taifu memasuki ruangan!!, para sarjana memberi salam!!".


Seorang laki-laki tua berumur hampir 60 tahun melangkah pelan memasuki ruangan yang sudah dipenuhi oleh para peserta, mereka menangkup kedua tangan ke depan sembari membungkuk badan menyapa hormat laki-laki yang menjabat sebagai perdana menteri kanan.


"Aku sebagai perdana menteri dan kepala akademi Hanlin sangat bangga atas prestasi dan pencapaian yang kalian dapat hingga dapat berdiri di sini, aku harap ini bukanlah akhir dari usaha keras kalian karena kerajaan sangat menanti kalian semua untuk dapat berkontribusi pada kerajaan dan menjadi sarjana loyal terhadap Kaisar! Semoga kalian beruntung".


"Ujian akan dilaksanakan!!".


Para peserta diberi waktu untuk mencari dan memasuki bilik mereka masing-masing lalu mulai membagikan kertas untuk jawaban lalu dua orang petugas membawa plank kayu yang berisi pertanyaan.


"Pertanyaan sudah dikeluarkan!!". Sang pemberi pengumuman kembali bersuara keras.


Lu Xiang mengeluarkan batu tinta dan kuas lalu menerima kertas dan melebarkannya di atas meja sebelum menunggu plank kayu pertanyaan sampai ke barisannya. Pertanyaan gelombang pertama adalah tentang ideologi serta penjelasan pemahaman seorang peserta terhadap sebuah puisi terkenal.

__ADS_1


Lu Xiang menjawab dengan hati-hati lalu siangnya ia makan dan minum sekedarnya lalu kembali menjawab pertanyaan yang memiliki jawaban sangat panjang namun harus dijelaskan dengan bahasa sastra yang tinggi.


Beruntung di ujian Hui-shih mereka diijinkan membawa minuman dengan botol minumannya diberikan langsung oleh petugas yang berbentuk tranparans sehingga tidak memungkinkan untuk menyembunyikan contekan, berkat air sumur teratai yang diberikan oleh Adelia, tubuh Lu Xiang tidak begitu lemah ketika keluar dari ruangan ujian, hanya penampilannya saja yang berantakan dan bau badan karena tidak mandi selama 4 hari penuh serta di tambah dengan aroma tidak sedap lainnya yang menempel pada pakaiannya.


Wang Jiayou dan Zhang Yunlei  tidak seberuntung Lu Xiang, mereka pingsan ketika melihat matahari pagi yang cerah namun begitu menyiksa mata meraka. 


"Panggil petugas yamen untuk menggotong mereka". 


"Baik tuan besar" Lu Cai memanggil petugas yamen yang sudah bersiap siaga di pos mereka, petugas yamen tersebut dapat menerima uang dan membantu sarjana yang pingsan karena tidak tahan dengan insesitas ujian yang begitu memberatkan tubuh dan pikiran mereka.


"Lu-Lu Xiang, tolong papah aku!" Walapun Wang Tianjin tidak pingsan namun ia terlalu lelah untuk menyeret langkahnya untuk pulang, apalagi jarak rumah sewa mereka dari tempat ujian cukup jauh jika menggunakan langkah kaki.


"Uh! Kau begitu bau". 


"Hehe~ aku muntah kemarin" Wang Tianjin seperti laki-laki mabuk dengan mata yang setengah terbuka karena begitu kantuk.


Mereka pulang dengan langkah pelan hingga sampai di rumah sewa 20 menit kemudian, Lu Cai memanggil seorang tabib di toko obat namun yang tersedia hanyalah anak murid yang tidak terlalu berpengalaman karena para tabib sudah di pesan terlebih dahulu oleh para peserta yang familiar dengan ujian Hui-shih.


Lu Cai menjadi gelisah dan berkali-kali bertanya apakah ada tabib yang belum dipanggil hingga akhirnya menyerah dan ingin memanggil anak murid karena lebih baik daripada tidak sama sekali namun seorang laki-laki memberinya harapan.


"Kau menginginkan tabib?"


"Ya, tuan. Apa kau tau dimana toko obat lainnya?".


Laki-laki berusia hampir kepala tiga mengelus janggut tipisnya lalu mengangguk kemudian menunjukkan dirinya sendiri membuat Lu Cai tertegun.


"Aku juga seorang tabib, apa kau ingin aku pergi melihat kondisi tuan muda mu?".

__ADS_1


Lu Cai yang frustasi segera mengangguk lalu mereka kembali ke rumah sewa yang tidak jauh dari sana.


"Tuan besar, aku sudah menemukan tabib!". 


Lu Xiang yang baru saja selesai mandi menatap laki-laki yang dibawa oleh pelayannya lalu mengeryit.


"Maaf, bisa anda perkenalkan nama anda?".


Penampilan laki-laki itu sangat elegan dan berwibawa tidak seperti orang yang bekerja untuk gaji yang sedikit seperti seorang tabib biasanya, membayangkan hal yang buruk semakin membuat kening Lu Xiang menyerngit dalam. Bukannya narsis atau terlalu percaya diri namun kemungkinan terjadi manipulasi pada kelompoknya memiliki peluang yang lebih besar daripada orang lain karena ia dan Wang Jiayou memiliki gelar Xiao Xieyuan sehingga ia perlu lebih waspada untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.


"Perkenalkan nama saya Ye Hemin, saya tabib yang tidak memiliki keterkaitan dengan toko obat".


Lu Xiang sengaja mendekat dan berjabat tangan, kewaspadaannya sedikit menurun ketika mencium bau rempah herbal dari tubuh laki-laki itu menunjukkan bahwa ia memang tau tentang ilmu pengobatan.


"Terimakasih sudah datang ke sini dan tolong lihat kondisi teman-teman saya".


Mata Ye Hemin berkilat misterius melihat tubuh Lu Xiang yang baik-baik saja terlepas dari gelarnya yang menjadi seorang sarjana, ia mengambil kesempatan memeriksa denyut nadi ketika bersalaman dan dapat memastikan bahwa laki-laki di hadapannya sangat sehat dan bugar.


Ye Hemin tersenyum dan mengangguk lalu segera memeriksa kondisi ketiga teman Lu Xiang kemudian mencatat suplemen yang harus mereka minum.


"Terimakasih atas bantuan anda". Lu Xiang memberi kantong berisi uang pada Ye Hemin.


Ye Hemin menatap sesaat kantong uang tersebut dan tersenyum lebar sebelum menerimanya. "Sama-sama tuan sarjana kehormatan".


Senyum tipis Lu Xiang membeku sesaat sebelum mengangguk canggung, baru kali ini ia dipanggilan dengan gelar tersebut.


Ye Hemin keluar dari kediaman rumah Lu Xiang lalu pergi ke restoran Fuyuan dan naik ke lantai dua sebelum masuk ke ruangan yang dijaga oleh dua penjaga.

__ADS_1


"Bagaimana? Kau sudah memeriksa kondisi kesehatannya?". Tak disangka laki-laki yang bertanya adalah Murong Tianming, pangeran putra mahkota!!.


__ADS_2