Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Hari pertama menjadi asisten guru


__ADS_3

Lu Xiang yang sibuk membujuk istrinya akhirnya berangkat ke sekolah telat dan itu membuat Adelia merasa bersalah namun itu tidak menjadi masalah untuknya.


Zhang Yunlei, Chen Xirang dan Li Jin yang satu kelas dengannya hanya dapat skeptis melihat senyum Lu Xiang setelah mendapat peringatan pengurangan poin jika kembali terlambat. Walaupun heran apa yang membuat teman mereka senang namun tidak ada yang mau bertanya karena tau Lu Xiang pasti akan memamerkan sesuatu yang berhubungan dengan istrinya. Jomblo dan laki-laki menikah namun tidak ditemani istri akan jengah mendengar jawaban tersebut.


"Lu Xiang. Kau salah satu yang lulus menjadi asisten guru. Apa kau tau?". Li Jin memberitahu dengan senang, ia juga mengikuti ujian tersebut namun tidak bisa menjawab soal hampir setengahnya membuatnya pasrah dan tidak berharap apapun dan benar, tempat itu bukan untuknya.


"Oh! Benarkah? Aku akan melihatnya nanti".


"Selamat Lu Xiang. Aku dengar gaji asisten hampir 10 koin perak!" Chen Xirang berteriak antusias.


Teman-teman yang lain juga mengatakan selamat ketika mendengarnya. Kelas yang awalnya sunyi menjadi ribut karena ucapan selamat, beruntung sangat guru pergantian mata pelajaran belum memasuki kelas.


"Terimakasih untuk semuanya. Aku akan mentraktir kalian makan siang di kantin".


Seisi kelas pun bersorak gembira namun segera diam ketika guru Juren Zhu masuk kelas.


Selesai mentraktir makan siang satu kelas temannya, Lu Xiang pergi ke kantor divisi matematika dan melihat pengumuman untuk memastikan lalu bernapas lega dan masuk ke kantor untuk melaporkan.


"Oh Lu Xiang kau sudah datang" Guru Juren Shan segera mengenali peserta ujian yang menjawab benar semua soal yang ia berikan.


"Selamat siapa Juren Shan. Nama saya Lu Xiang, senang bertemu dengan anda" Lu Xiang sedikit menundukkan badan menyapa seorang kakek tua yang sudah beruban.


"Senang juga bertemu denganmu. Duduklah, kau ingin melapor?".


"Ya guru Juren Shan". Lu Xiang lalu mengisi biodata dirinya secara lengkap.


"Di divisi ini kita hanya memiliki sedikit orang jadi peraturannya tidak banyak dan kaku. Ada empat guru yang akan mempelajari matematika untuk membuat penyederhanaan pajak agrikultur dan bisnis atau mempelajari tentang fenomena alam berdasarkan dari bintang. Untuk asisten guru, kau dan kolega mu hanya menyortir buku dan dapat mengcopy buku tersebut setelah menyelesaikan tugasmu"


"Divisi matematika juga akan melakukan tes matematika setiap bulannya dan tiga juara dalam tes tersebut akan mendapatkan poin tambahan"


"Kalau begitu, saya akan mensortir buku-buku itu selagi waktu makan siang masih ada guru Juren Shan".


"Hahaha. Kau pemuda yang punya motivasi yang kuat, kalau begitu ikuti aku, aku akan menunjukkan ruangan padamu".


"Baik guru Juren Shan". Lu Xiang mengikuti guru Juren Shan ke ruangan lainnya yang berisi banyak buku yang masih berserakan di atas meja.


Lu Xiang mengangguk mengerti dan segera menyortir buku tersebut sesuai kelas dan modelnya.

__ADS_1


Tak lama dari Lu Xiang, seorang laki-laki masuk ke ruangan tersebut dan tertegun melihat ada laki-laki lain yang sudah lebih dulu berada di sana.


"Kau siapa pemuda?"


Lu Xiang melihat laki-laki berusia 30 tahunan dan segera menangkup kedua tangannya menyapa dan memperkenalkan diri. "Selamat siang senior. Nama saya Lu Xiang, saya asisten guru baru di sini".


"Oh! Jadi kau asisten guru lainnya. Aku juga asisten guru, salam kenal namaku Pan Youfeng". Pan Youfeng memperkenalkan diri dengan nada superior seakan jabatan mereka tidak lah sama.


Lu Xiang tersenyum dan menyapa lalu kembali menjalankan tugasnya.


"Apa yang kau perbuat?"


"Guru Juren Shan menyuruhku untuk mensortir buku-buku ini dan meletakkannya di dalam lemari".


"Oh baiklah. Selamat bekerja, aku akan membaca buku ini dan mengcopy di sana". Ucapnya tidak tau malu sembari menunjuk sudut ruangan yang ada meja dan kursi.


Lu Xiang tertegun lalu hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya hingga waktu makan siang berakhir. Ia lalu kembali ke kelas tanpa menyapa Pan Youfeng terlebih dahulu karena tau bahwa mereka sama-sama asisten guru baru.


Namun perbuatannya di salah artikan oleh Pan Youfeng. "Dasar pemuda tidak punya sopan santun".


"Semuanya menurut pendapatku tentang ada tiga cara mendapatkan kebijaksanaan adalah dengan refleksi, pembatasan dan pengalaman. Refleksi..."


Lu Xiang berdiri dan juga ikut mengemukakan pendapatnya, ia berbicara dengan tenang dan tidak buru-buru membuat banyak temannya mendengar pendapatnya terlebih dahulu sebelum kembali menuturkan ide mereka.


Selesai akademi pada jam 3 sore, Lu Xiang kembali ke kantor divisi matematika dan kembali menyortir bukuĀ  dengan rapi dan sesuai kelasnya sehingga jika ingin mencari buku akan mudah untuk di dapatkan.


Tak lama Pan Youfeng juga masuk ke ruangan lalu sibuk membereskan buku. Perbedaan sikap dari sebelumnya membuat alis Lu Xiang terangkat heran namun beberapa saat kemudian ia mengerti setelah melihat dua guru masuk dan mengangguk puas akan melihat dua asisten yang tidak malas.


Ruangan kantor berasa sunyi karena tidak ada satu pun dari Lu Xiang dan Pan Youfeng membuka pembicaraan membuat Pan Youfeng yang merasa senior menjadi jengah karena merasa diabaikan.


"Aku akan kembali mengcopy buku, sebaiknya kau siapkan kerjaan hari ini biar besok kita bisa beristirahat".


Lu Xiang hanya menatap datar Pan Youfeng dan kembali melanjutkan kegiatannya tanpa menjawab membuat laki-laki itu mendengus gusar.


Jam 5 Lu Xiang pergi ke divisi sumber daya untuk mengambil beras dua ember sebanyak 15 kilogram atas peringatan guru matematika lainnya yang termasuk dalam gaji asisten guru. Berbeda dengan uang yang dapat diambil akhir bulan, beras dapat diambil terlebih dahulu.


Lu Xiang melihat beras polen putih yang panjang dan tersenyum senang. Walaupun keluarga serba kecukupan namun rezeki tetaplah rezeki, ia tidak akan menyia-nyiakan apapun yang termasuk dalam jatahnya.

__ADS_1


"Aku pulang" Lu Xiang memberikan beras itu pada Lu Cai dan masuk ke rumah utama.


"Kau sudah pulang Lu Xiang" Adelia meninggalkan pekerjaan yang sedang ia kerjakan dan menyambut kepulangan suaminya, tidak ada tanda-tanda marah di wajahnya seperti pagi hari tadi.


Lu Xiang memeluk istrinya dan mengecup kening, pipi dan bibir sebelum melepaskannya sembari tersenyum senang.


"Aku mendapat kerja sebagai asisten guru dan mendapatkan gaji sebanyak 9 koin perak sebulan dan 15 kilogram beras". Lapor Lu Xiang bangga dan menunggu pujian dari istrinya.


"Benarkah?! Selamat Lu Xiang!!" Adelia memeluk senang suaminya namun perkataan Lu Xiang selanjutnya membuat senyumnya membeku.


"Apa aku mendapat hadiah?" Mata dalam dan senyum lembut membuat Adelia segera mengerti hadiah apa yang dimaksud oleh Lu Xiang.


"Berhenti menjahili ku. Kau tau kita tidak bisa melakukan tiap malam" Wajah Adelia merona mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam.


"Kalau begitu kau hanya perlu memakai baju tadi malam saja. Aku hanya akan melihatnya" Bisik Lu Xiang dan mencium telinga Adelia bak laki-laki mesum.


"Heh~aku tidak akan tertipu olehmu lagi Lu Xiang" Adelia melepaskan pelukan dan kembali memikirkan hadiah apa yang akan ia kirimkan pada pelanggan VIP dan teman Lu Xiang. Awalnya ia memutuskan untuk memberikan wine bunga rosella yang sudah dapat dikonsumsi namun ia teringat akan perkataan paman Zhao Fan dan mengubah hadiah pemberiannya.


Lu Xiang menghela napas kecewa karena istri tercintanya tidak terkecoh oleh rayuannya hari ini. Ia pun bergabung bersama Adelia dan melihat daftar nama pelanggan VIP.


"Kau akan memberikan hadiah apa untuk mereka?".


"Aku tidak tau, awalnya aku ingin memberi wine rosella namun aku pikir itu tidak patut karena aku mengatakan pada paman Xu bahwa aku tidak lagi membuat wine selama masa kehamilan. Bagaimana jika manajer Fuyuan di Fucheng mendatangiku untuk memesan wine. Aku tidak bisa beralasan apapun untuk menolaknya".


Lu Xiang memeluk pinggang istrinya dan mengangguk setuju. "Kau benar, akan sangat riskan jika kau memberikan hadiah wine. Bagaimana jika kau memberikan teh kualitas tinggi saja?".


Adelia berpikir sesaat lalu mengangguk. Ia tidak tau hadiah lain yang dapat digunakan sebagai hadiah. "Apa untuk temanmu juga teh?".


"Untuk mereka kau bisa memberikan hadiah wine. Aku akan mengatakan bahwa aku membeli wine ini dari caravan, mereka hanya tau bahwa kau bisa membuat wine anggur bukan wine bunga".


"Baiklah. Tadi aku memesan botol selai dan botol wine dari pengrajin kaca dan akan sele..." Mata Adelia membesar, ia tau hadiah yang pantas untuk diberikan kepada keluarga besar yang datang ke pembukaan toko miliknya.


"Kita tidak perlu mengirim teh. Kita bisa mengirim selai dan roti tawar pada mereka". Adelia akan membuat menu baru untuk dibawa pulang yaitu selai buah dan roti tawar minggu depan dan berencana untuk membuat parfait jika bisa membuat lemari pendingin yang terbuat dari kaca dan berisi es batu di belakangnya.


Ini hanya teori saja, jika lemari pendingin itu dapat ia gunakan maka parfait akan menjadi andalan produk di tokonya selain kue puding.


Lu Xiang mengecup mata istrinya yang bersinar ketika menjelaskan rencana ke depan untuk toko mereka.

__ADS_1


__ADS_2