Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Mendapatkan gelar Xie lagi


__ADS_3

Namun senyum sang pemeriksa ujian tersebut membeku setelah Prefek Zhong bertepuk tangan dengan gembira.


"Bagus! Akhirnya ujian Fu di kota kita memiliki peserta ujian dengan kertas jawaban brilian!!". Prefek Zhong menatap reaksi para pemeriksa ujian dan melihat ekspresi terkejut salah satunya, matanya berkilat tajam.


Pemeriksa ujian lainnya bingung karena kertas jawaban yang brilian yang Prefek Zhong katakan berasal dari kelas B bukan kelas A. Bukankah A lebih baik daripada B? Namun mereka tetap berdiri serentak dan membungkukkan sedikit badan. "Selamat Prefek Zhong".


Mereka bersama-sama membahas ide kebijakan yang tertulis di kertas jawaban kelas A dan membuat rangking berdasarkan dari jawaban peserta ujian untuk di diskusikan lagi bersama dengan Prefek Zhong. Seharusnya Prefek Zhong mengatakan itu setelah membaca kertas jawaban kelas A! Bukannya kelas B.


Apa mungkin Prefek Zhong tidak suka dengan kebijakan yang mereka diskusikan? Kebanyakan dari peserta ujian mengajukan ide kebijakan tentang status sarjana yang ingin lebih ditingkatkan lagi karena mereka adalah potensi besar di pemerintahan dan sebagian lainnya menerapkan ide untuk pungutan pajak petani yang di kurangi karena terlalu membebani dan sebagian kecil lainnya membuat saran kebijakan tentang pajak bisnis yang menurut mereka masih kurang dibandingkan dengan petani, walaupun ide mereka cukup brilian namun mereka tidak menulis cara seperti apa dan bagaimana mengaplikasikan ke dalam kenyataan.


Para pemeriksa ujian kembali berpikir dan menggelengkan kepala, Prefek Zhong bukan gubernur seperti itu, semenjak pemerintahannya, ia sudah mementingkan petani dan membuat kebijakan yang dapat menguntungkan petani seperti membolehkan bayar pajak bagi petani yang tidak ingin kerja paksa karena hanya satu-satunya orang yang mencari nafkah dalam keluarga atau perbaikan alat-alat bercocok tanam milik petani agar dapat digunakan untuk hasil maksimal.


Jadi tidak mungkin jika Prefek Zhong mengatakan ide brilian untuk kertas jawaban kelas B karena rata-rata dari kelas B menyarankan tentang kebijakan pajak bisnis.


Prefek Zhong melihat reaksi para pemeriksa ujian dan bertanya. "Feng Shanming, apa kau tidak puas dengan evaluasi yang aku berikan pada kertas jawaban ini?".


Feng Shanming mengerat giginya lalu berdiri dan menangkup tangannya membungkuk rendah. "Tentu saja tidak Prefek. Tapi hanya saja, aku dan kolega lain sudah memberi peringkat dari kertas jawaban kelas A. Ada beberapa jawaban yang lebih brilian..".


"Lau bagaimana jika kita membandingkan jawabannya?" Potong Prefek Zhong.


Para pemeriksa ujian lainnya berpikir dan setuju. Prefek Zhong lalu membacakan jawaban Lu Xiang dengan tenang sampai akhir dan puas melihat ekspresi terkejut dari pegawainya.


"Bagaimana menurut kalian? Apa jawaban yang ingin kalian rekomendasi lebih baik daripada kertas jawaban ini?". Ide tentang penurunan pajak petani memang brilian jika diusung pada waktu kerajaan tidak mengalami gencatan senjata dengan kerajaan lain namun sekarang bukan waktu untuk menerapkan ide tersebut. Ia sangat percaya diri bahwa ide Lu Xiang akan berpengaruh besar pada kerajaan Murong.


"Itu ide yang sangat brilian Prefek!! Jika ide ini bisa di realisasikan ke dalam kenyataan maka tidak hanya petani yang dapat menikmati keuntungan namun juga para warga yang tinggal dekat bendungan".


Bendungan hancur dan menyebabkan banjir sudah menjadi bencana biasa yang terjadi dari waktu ke waktu. Bukannya tidak ada yang mau memikirkan solusi akan masalah tersebut namun para sarjana lebih memperdulikan tentang hal yang berkaitan dengan sarjana daripada petani sehingga walaupun mereka ingin memikirkan solusi namun tidak memiliki pengalaman bertani sehingga ide yang mereka salurkan tidak dapat digunakan.


"Ya. Orang-orang pasti akan berterimakasih jika ide itu diterapkan. Ide tersebut memiliki banyak sekali faedah dalam kehidupan petani dan warga yang tinggal di dekat bendungan".


"Siapa peserta ujian yang menulis ide hebat itu Prefek Zhong? Mengapa kami tidak tau?".


Sesaat suasana menjadi hening. Feng Shanming semakin mengerat giginya dan berusaha untuk tidak bersikap mencurigakan.


"Hehe, kebetulan sekali orang yang menulis ide ini adalah sarjana yang mendapat gelar Xie".


Semua mata pemeriksa ujian terbelalak. Bagaimana mungkin kertas jawaban Xie Hsien berada di paling bawah bagian kelas B bukan kelas A?!.

__ADS_1


Mereka melihat satu sama lain mencari tau lewat mata siapa yang telah berbuat curang, begitu juga Feng Shanming namun ia tidak menyadari bahwa di mata Prefek Zhong, ia hanya badut yang sedang bersandiwara.


"Siapa terakhir di antara kalian yang menyusun kertas jawaban sebelum memberikannya padaku?".


Feng Shanming segera bangun dan kembali membungkuk meminta maaf. "Saya Prefek. Mungkin saya teledor dan salah menempatkan kertas jawaban itu di kelas B, tolong hukum saya atas kesalahan ini".


Prefek Zhong diam sejenak lalu melambaikan tangannya menyuruh Feng Shanming untuk duduk. "Tidak apa-apa, tolong kedepannya lebih berhati-hati lagi. Duduklah kembali".


"Terimakasih Prefek". Feng Shanming bernapas lega, tidak ada yang tau bahwa ia berbuat curang.


Walaupun Prefek Zhong tau bahwa Feng Shanming berlaku curang dan tidak ingin Lu Xiang menjadi kepala rangking namun ia tidak tau motif dan tujuan pegawainya. Ia harus mencari bukti dan tidak bisa langsung menuduh Feng Shanming hanya berdasarkan dari ucapannya saja.


Diskusi kembali berlanjut, semua sepakat bahwa Lu Xiang berhak menjadi juara pertama dalam ujian fu-shih dan mendapatkan kembali gelar Xie dan berdiskusi tentang rangking berikutnya.


Setelah semua ranking ditempati oleh para peserta yang sesuai dengan kemampuan mereka. Prefek Zhong pun memperbolehkan para pegawainya untuk pulang.


"Cari tau apakah semua pemeriksa memiliki anak gadis yang sedang membahas pernikahan atau sanak keluarga yang mengikuti ujian tahun ini".


"Baik Prefek". Shao Yin yang selaku sekretaris Prefek Zhong mengangguk.


Di Kerajaan Murong memiliki aturan bahwa pegawai yang ditetapkan sebagai pemeriksa ujian kenegaraan tidak boleh memiliki sanak saudara yang akan mengikuti ujian pada tahun tersebut. Baik itu anak, keponakan, sepupu, paman atau menantu. Peraturan ini diterapkan agar tidak terjadi nepotisme apapun.


"Aku deg-degan karena tidak yakin apa aku lulus atau tidak". Shao Yunan menunggu gelisah, ujian sesi ketiga ia menulis ide kebijakan tentang peningkatan status sarjana karena ia bangga menjadi sarjana, menurutnya sarjana adalah tokoh penting dalam menjalankan pemerintahan sehingga patut mendapatkan status lebih tinggi.


"Aku juga" Chen Xirang bergumam kecil. Ia termasuk orang yang mengemukakan ide tentang pajak bisnis.


"Lu Xiang. Aku yakin kau pasti akan lulus". Ucap Chen Xirang iri, walaupun jika Lu Xiang tidak menulis ide apapun namun ia pasti akan lulus karena ia adalah Xie Hsien, setidaknya untuk ujian fu-shih.


"Ya. Aku juga yakin bahwa Lu Xiang akan mendapatkan gelar Xie kembali" Timpa Miao Sheng. Ia perlahan-lahan sudah menerima kenyataan bahwa ia tidak lebih pintar daripada kakak iparnya.


"Aku mengambil ucapan mu sebagai doa Miao Sheng" Lu Xiang tersenyum kecil.


"Yunlei, menurutmu kau akan mendapatkan rangking berapa?".


Zhang Yunlei yang hanya duduk diam tersadar lalu berpikir serius namun ia mengangkat bahunya membuat teman yang berharap akan jawaban darinya menjadi kesal.


"Ayolah, kau harus menjawabnya!" Desak Shao Yunan.

__ADS_1


"Aku tidak tau. Mungkin peringkat 50 besar?".


"Cih, lebih baik kau tidak menjawabnya". Ucap Chen Xirang dan Shao Yunan bersamaan.


"Rangkingnya sudah keluar!! Rangkingnya sudah keluar!!".


Teriakan tersebut membuat para sarjana menghentikan kegiatan mereka dan menatap fokus keluar, menunggu pelayan yang mereka kirim atau orang yang mereka titipkan nomor ujian kembali untuk mengabarkan berita yang mereka ingin dengar.


"Aku lulus, Aku lulus!"


"Kenapa nomorku tidak ada?".


"Tidak mungkin aku tidak lulus ujian, aku akan memeriksa lagi".


Berbagai teriakan gembira, sedih maupun curiga terdengar dari kedai teh sebelah membuat para sarjana yang berada di kedai teh lainnya menjadi panik dan gelisah.


"Tuan! Tuan besar! Kau lulus sebagai Xie Fu. Tuan besar kau lulus sebagai Xie Fu!!".


Lu Cai berteriak histeris setelah melihat nomor 125 yang menjadi nomor ujian tuannya tertulis paling atas di antara nomor ujian lainnya.


Lu Xiang tersenyum lebar. Ia menerima ucapan selamat dari teman-temannya maupun sarjana lainnya dengan tenang dan tidak sabar ingin pergi ke dermaga untuk pulang ke kota Cheng namun ia berusaha menekan kerinduannya pada Adelia dan masih menunggu informasi rangking temannya.


Miao Sheng yang tertegun lalu menghirup napas dalam mencoba mengenyahkan perasaan tidak nyaman ketika mendengar Lu Xiang menjadi Xie Fu dan tersenyum sembari mengucapkan selamat pada kakak iparnya.


Para sarjana tidak lagi mengerumuni Lu Xiang karena nasib mereka belum jelas. Satu persatu para pelayan kembali dengan membawa berita gembira dan sedih untuk tuan mereka.


Chen Xirang, Miao Sheng, Zhang Yunlei dan Li Jin lah yang lulus menjadi sarjana Fu di dalam kelompok yang Zhao Fan bawa. Chen Xirang turun ke peringkat 29, Miao Sheng naik ke peringkat 14 sedangkan Zhang Yunlei masih di peringkat 3 serta Li Jin naik dari peringkat 31 menjadi peringkat 20.


Shao Yunan menatap nelangsa ke depan dan duduk tidak berdaya. Walaupun ia sendiri sudah mempersiapkan mental untuk menerima kegagalan namun kenyataan itu seperti menghancurkan masa depannya. Lu Xiang, Zhang Yunlei dan yang lainnya mencoba menghibur Shao Yunan agar jangan putus asa.


"Kau masih bisa mengikuti ujian tahun depan Yunan, jangan putus asa".


"Kami yakin tahun depan kau akan lulus dengan peringkat atas jika kau berusaha keras. Tidak ada yang tidak mungkin jika kau berusaha meraihnya Yunan".


"Ya Yunan. Kau masih sangat muda, jadikan ini sebagai pengalaman dan motivasi untuk melangkah maju lebih jauh lagi".


"Kegagalan adalah awal dari kesuksesan besar Yunan. Bersemangat dan jangan putus asa, kesuksesan besar sudah ada di hadapan mu. Kau hanya perlu berusaha dalam meraihnya".

__ADS_1


Shao Yunan menangis keras, walaupun apa yang temannya katakan adalah benar namun saat ini ia hanya ingin menangis kuat mengeluarkan semua perasaan sesak di dadanya, tidak peduli akan sikap elegan yang harus di miliki oleh seorang sarjana.


__ADS_2