
Miao Sheng melirik Lu Xiang beberapa kali hingga kakak iparnya menyadari tatapannya.
"Katakan apa ingin kau katakan, jangan melihatku terus". Lu Xiang menutup buku bacaannya dan menatap jengah pada Miao Sheng.
"Itu.. Kakak ipar".
Wajah Miao Sheng memerah karena malu ingin mengatakan apa yang ada di hatinya.
"Itu... Apa aku bisa meminjam uang darimu kak?". Tanya Miao Sheng dengan suara kecil.
Alis Lu Xiang terangkat naik. "Kau tidak punya cukup uang untuk mengikuti ujian".
Rahang Miao Sheng mengeras, ia membenci neneknya yang membuatnya malu di hadapan Lu Xiang, orang terakhir yang ia tidak ingin melihatnya dalam keadaan menyedihkan karena ego yang ia miliki, siapapun kecuali Lu Xiang karena biasanya ialah yang melihat keadaan memalukan laki-laki itu bukan sebaliknya.
"Ya kak". Nenek Miao Lan hanya memberinya sedikit uang yang hanya cukup ia gunakan dalam perjalanan dan biaya pendaftaran ujian karena kecewa bahwa ia kalah dengan Lu Xiang, neneknya bahkan mengatakan bahwa ia harus meminta uang dari Adelia sebagai kompensasi karena suami wanita itu membuat keluarganya malu.
Ayah dan ibunya harus mengambil simpanan mereka yang sedikit karena semua pemasukan harus diserahkan pada nenek Miao Lan. Uang itu hasil dari ayahnya yang bekerja di kota sebagai pekerja buruh yang diam-diam ayahnya simpan.
"Berapa yang ingin kau pinjam?". Lu Xiang speechless dengan tindakan yang nenek Miao Lan lakukan. Bagaimana mungkin wanita tua itu yakin bahwa ia akan meminjami uang pada cucunya terlepas dari hubungan buruk mereka? Apa dia berpikir seperti itu karena Miao Sheng penjaminnya? Apa nenek Miao Lan tidak berpikir bahwa ia bisa merubah orang yang akan menjadi jaminan untuknya? Dan apa keuntungan bagi nenek Miao Lan jika cucunya tidak lulus ujian karena kekurangan uang?. Berbagai pertanyaan yang Lu Xiang pikirkan semakin membuatnya skeptis.
Miao Sheng mengepalkan tangannya, ia merasa hina duduk di hadapan Lu Xiang dan meminta uang seperti pengemis. "Aku tidak tau".
Ia tidak tau berapa sewa penginapan dan biaya keperluan lainnya selama ia berada di Fucheng, ia tidak mau lagi meminta uang pada Lu Xiang.
Lu Xiang mengambil kantong uang di dalam saku baju dalamnya dan memberi 15 koin perak pada Miao Sheng, membuat Miao Sheng terkejut.
"Gunakan uang itu dengan baik". Lu Xiang lalu memejamkan matanya tanpa menunggu jawaban dari kakak iparnya.
Miao Sheng tertegun, ia berpikir bahwa Lu Xiang hanya memberinya beberapa koin perak saja karena hubungan tidak baik mereka demi menjaga image dan itu diberikan setelah menghinanya yang tidak punya uang untuk mengikuti namun tetap bersikeras pergi ke kota Fucheng.
Namun ia tidak menyangka bahwa Lu Xiang tidak mengatakan apapun yang dapat membuatnya malu dan malah memberikan uang yang cukup untuknya.
__ADS_1
"Terimakasih kakak ipar".
Sepanjang perjalanan, baik Miao Sheng dan Lu Xiang tidak berbicara memecahkan keheningan di antara mereka namun hubungan mereka mulai sedikit membaik karena Miao Sheng tidak lagi melihat Lu Xiang dengan tatapan iri dan cemburu.
Rombongan Zhao Fan menginap di penginapan kota kecil di malam dan berangkat kembali pagi harinya hingga mereka sampai ke kota Fucheng yang jauh lebih besar daripada kota Qincheng tanpa halangan apapun.
Pemeriksaan di Fucheng lebih ketat dibandingkan dengan kota Qincheng, sarjana yang mengendarai kereta harus membayar 1 koin perak hanya untuk memasuki kota. Hal itu dilakukan untuk menekan jumlah penduduk agar tidak membludak karena banyak orang dari desa maupun kota lain yang ingin mengadu nasib ke kota tersebut.
Para pengawal menyelesaikan tugas mereka dan melapor ke kantor yamen di Fucheng sebelum pulang kembali ke kota Cheng.
Rombongan Zhao Fan beruntung mendapatkan penginapan yang masih kosong di bagian dalam kota Fucheng karena mereka lebih lama sampai karena memilih perjalanan jalur darat.
Zhao Fan membiarkan anak muridnya check in dan istirahat sebelum besok pergi ke kantor yamen gubernur untuk mendaftarkan ujian. Berbeda dengan ujian Hsien, ujian Fu boleh mendaftarkan diri hingga tiga hari sebelum ujian di mulai.
Lu Xiang membayar penginapan sebanyak 12 koin perak untuk 17 hari jauh lebih besar daripada penginapan di kota Qincheng, ia merapikan barang-barangnya dan memilah berkas yang akan ia bawa esok hari sebelum merebahkan badan di atas tempat tidur.
&&&
Malamnya Lu Xiang turun ke lantai satu untuk makan malam bersama dengan Chen Xirang dan tertegun oleh sapaan Miao Sheng.
"Ya" Jawab Lu Xiang canggung, ia tidak terbiasa oleh keakraban yang Miao Sheng perlihatkan.
Shao Yunan dan Zhang Yunlei juga merasa heran terlebih Chen Xirang, ekspresi Miao Sheng tidak menunjukkan kemunafikan yang biasa laki-laki itu tunjukan untuk diperlihatkan pada orang lain bahwa ia dan Lu Xiang memiliki hubungan dekat.
"Kau ingin memesan apa kak? Biar aku yang membawakannya".
"Tidak perlu aku bisa memesan sendiri, apa kau sudah makan malam?".
"Aku baru saja selesai bersama dengan Yunan dan Yunlei". Miao Sheng tersenyum yang membuat bibir Lu Xiang semakin berdenyut skeptis.
"Baiklah". Lu Xiang segera memesan dan makan malam bersama dengan Chen Xirang.
__ADS_1
Temannya melihat Miao Sheng yang kembali ke kamar lalu bertanya dengan wajah gosip. "Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Kenapa Miao Sheng menyapamu? Tidak biasanya".
"Aku tidak tau". Lu Xiang sendiri merasa bingung, apa mungkin hanya karena ia meminjami uang? Tidak mungkin.
"Bagaimana kau tidak tau? Aku lihat ekspresinya tulus ketika menyapamu".
"Sudah jangan banyak tanya. Cepat habiskan makan malam mu".
Chen Xirang mendengus gusar namun tetap melanjutkan makanannya.
Esok hari Zhao Fan mulai membahas ujian Fu-shih tahun lalu dan memberikan pertanyaan dan pekerjaan rumah untuk para sarjana setelah muridnya selesai mendaftarkan diri. Pagi mereka berlatih menjawab essay tentang buku analek konfusius, siang mencoba membuat puisi berdasarkan kata kunci yang Zhao Fan berikan dan malamnya menyelesaikan soal aritmatika.
Prefek Fucheng, Zhong Jiazhen memiliki pemikiran yang berbeda dengan walikota Li. Zhong Jiazhen lebih berpikir secara praktikal daripada hanya teori, banyak sarjana yang hanya berkutat dengan buku tanpa tau kondisi yang sebenarnya kerajaan dari buku yang mereka baca banyak mengalami kegagalan ketika mengikuti ujian fu-shih.
Oleh karena itu, Zhao Fan memberi beberapa pertanyaan seputar ideologi dan moral serta beberapa masalah yang sedang terjadi di Kerajaan Murong pada muridnya untuk dijawab.
Seminggu berlalu dengan cepat dan lambat bagi sarjana yang mengikuti tes demi tes dari Zhao Fan, otak mereka yang di press terasa berat hingga tidak ada satu orang pun yang keluar kamar ketika hari libur sebelum ujian yang diberikan oleh Zhao Fan.
"Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui, pertama seperti yang sudah aku katakan di ujian sebelumnya bahwa kalian harus hati-hati dengan kandidat ujian lain dan lebih waspada serta periksa kembali barang-barang kalian sebelum kalian diperiksa oleh petugas keamanan ujian".
"Kedua, jangan banyak minum ketika sedang ujian sehingga kalian harus ke toilet dan mendapatkan stempel hitam. Ketiga, kalian harus makan siang walaupun sedikit. Ingat, sukses harus dilakukan dengan pengorbanan".
"Dan terakhir jangan gegabah dalam menjawab soal, pahami terlebih dahulu soalnya baru kalian jawab. Apa kalian mengerti?".
"Mengerti! Guru Juren Zhao!"
Zhao Fan mengangguk puas, ia pun melepas anak muridnya untuk mengikuti ujian.
Lu Xiang dan temannya mengantri menunggu giliran, walaupun masih pagi hari namun suasana di depan gedung ujian sangat penuh oleh kandidat dari berbagai kota dan desa.
Lu Xiang melihat tiga orang lagi sebelum gilirannya, ia pun memeriksa kembali kartu ujian dan alat tulis yang bawa serta roti kukus di keranjang bambu namun matanya membesar melihat secarik kertas yang terletak di samping baru tinta.
__ADS_1
Kenapa kertas ini ada di keranjang bambunya?! Lu Xiang bahkan memastikan untuk mengenakan pakaian yang tidak memiliki saku agar tidak ada yang memasukkan apapun ke dalam saku tanpa ia sadari.
Namun tetap saja ia tidak lolos dari niat kandidat jahat yang tidak ingin ia mengikuti ujian!!. Jantungnya berdegup kencang hingga wajahnya menjadi pucat pasi.