Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Pemberian surat pembebasan pajak


__ADS_3

Keesokan harinya kepala desa Miao dan tetua klan datang berkunjung kembali namun Lu Xiang menyuruh Lu Tao yang menjaga pintu gerbang menyampaikan pada mereka untuk datang pada hari sekolah libur, ia tidak bisa bolos sekolah hanya karena meladeni orang tua yang ingin mengambil keuntungan darinya.


"Apa gelar Xie Hsien membuat Lu Xiang menjadi sombong?! Dia bahkan mempermainkan orang tua seperti ini!" Tetua klan Li berteriak marah pada Lu Tao.


"Pak tua, kau tidak bisa berkata seperti itu. Tuan Lu tidak bisa bolos sekolah karena ingin bertemu kalian kan? Tuanku itu belajar langsung di bawah bimbingan Juren Zhao, apa kalian merasa lebih penting daripada Juren Zhao?".


Tetua klan Li dan lainnya terkejut dan takut. "Ten-tentu saja tidak. Kau berbicara omong kosong!" Mereka berkata panik.


Lu Tao tersenyum miring, tuannya sudah mengajarinya bagaimana memenangkan perdebatan dengan orang keras kepala seperti mereka. "Bagus kalau kalian semua merasa demikian, akan sangat mengejutkan jika ada rumor beredar bahwa kepala desa dan tetua klan lebih diprioritaskan dibandingkan dengan Juren Zhao. Oleh karena itu, datanglah di hari libur sekolah, hari sabtu. Hari minggu tuanku akan berangkat ke Fucheng untuk melanjutkan ujian".


Kepala desa Miao dan tetua klan tidak bisa berkata apa-apa dan pulang dengan wajah sungut karena tujuan yang belum tercapai.


Adelia yang mendengar laporan Lu Tao tersenyum puas, bagaimana mungkin mendapatkan sesuatu tanpa ada usaha apapun. Tidak ada rezeki yang jatuh langit.


&&&


Beberapa hari kemudian, mereka datang kembali dan akhirnya bertemu dengan Lu Xiang. Mungkin karena datang dua kali namun tidak membuahkan hasil, wajah para tetua menjadi masam saat berhadapan dengan Lu Xiang.


"Lu Xiang. Sebelumnya paman ingin mengucapkan selamat padamu atas gelar Xie Hsien yang kau dapatkan, paman baru bisa mengucapkan sekarang karena kau tidak ada di desa".


Ucapan kepala desa Miao yang bermakna bahwa Lu Xiang menjadi lupa akan dari mana ia berasal.


Lu Xiang tersenyum tulus, seakan tidak mendengar sindiran halus kepala desa Miao. "Tidak apa-apa paman Miao. Aku juga minta karena tidak bisa berkunjung ke desa karena banyak sekali tugas yang diberikan oleh guru Zhao, sangat sulit untuk pergi ke desa karena aku tinggal di kota paman".


Tempatku asal ku sekarang adalah kota Cheng bukan desa Miao.


Bibir tetua berdenyut speechless. Mereka menjadi tidak sabar dan ingin membuka topik utama tujuan kedatangan mereka.


"Kedatangan kami kemari karena ingin membahas sesuatu demi kebaikan desa Miao namun..." Matanya melirik Adelia yang duduk di samping Lu Xiang, mendengar dalam diam.


"Paman Miao ingin membahas apa?" Lu Xiang berpura-pura tidak mengerti isyarat kepala desa Miao yang ingin mengusir Adelia dari ruang tamu.

__ADS_1


"Sebaiknya Adelia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang, ini akan menjadi diskusi yang panjang". Patriarki sangat melekat erat di tulang mereka dan tidak ingin wanita ikut campur dalam pembahasan apapun yang mereka lakukan.


Adelia tersenyum innocent. "Tidak apa-apa paman. Kami memiliki banyak pelayan yang dapat membuatkan makan siang".


"Ini pembahasan para lelaki Adelia, jangan ikut campur!" Tetua klan Lu berkata blak-blakan.


Mata Lu Xiang menjadi dingin sedangkan Adelia terkejut dengan gerakan berlebihan. "Bukankah paman kesini untuk membahas tentang kebaikan desa? Aku juga warga desa Miao kan paman? Jadi mengapa aku tidak bisa ikut dalam diskusi ini?".


Adelia kemudian melebarkan matanya. "Apa jangan-jangan aku bukan penduduk desa Miao?".


"Adelia! Kami tidak punya banyak waktu untuk meladeni sindiran mu. Sekarang pergi dari sini, tempatmu di dapur bukan disini!" Tetua Miao berkata tidak sabar.


Adelia sama sekali tidak terintimidasi oleh nada marah tetua Miao dan malah tertawa konyol membuat para tetua dan kepala desa semakin geram namun perkataan wanita itu membuat mereka tertegun.


"Paman. Apa kau lupa bahwa ini rumahku? Belum apa-apa paman sudah marah-marah. Apa paman yakin Lu Xiang akan setuju dengan tujuan kalian datang kemari?".


Kepala desa Miao dan tetua klan serentak menoleh pada Lu Xiang yang berwajah dingin.


Wajah para tetua melunak, mereka tertawa meringis. "Kau salah paham Adelia, kami akan membahas sesuatu yang tidak kau pahami. Lagipula hasil pembahasan ini semua tergantung pada keputusan Lu Xiang sendiri".


Para tetua menjadi marah karena merasa tidak di hargai namun tujuan mereka datang ke rumah Lu Xiang membuat mereka menahan amarah. "Baiklah jika kau berkata begitu Lu Xiang".


"Kami datang kemari karena ingin meminta bantuan padamu Lu Xiang. Walaupun kau hanya beberapa tahun tinggal di desa Miao namun kami sudah menganggap mu seperti keluarga" Tutur Tetua Li.


Adelia dan Lu Xiang masih diam mendengarkan.


"Satu tahun terakhir ini hasil panen di desa Miao tidak cukup baik karena banyak hama dan air hujan yang tidak cukup sehingga banyak keluarga yang kekurangan makanan, terlebih ketika harus membayar pajak panen untuk kerajaan. Huft! Keadaan warga desa semakin melarat".


Tetua Li diam menunggu Lu Xiang angkat bicara namun laki-laki itu masih diam mendengarkan.


"Jadi kami berpikir mungkin akan sangat membantu jika warga desa tidak perlu membayar pajak tanah, tapi kau tau sendiri bahwa itu tidak mungkin".

__ADS_1


"Hm? Aku pikir itu akan menjadi mungkin paman" Jawab Adelia.


"Benarkah? Jadi kau ingin memban..."


"Bukankah Miao Sheng sudah menjadi sarjana Hsien? Aku dengar bahwa sarjana Hsien mendapatkan bebas pajak tanah seluas 10 hektar, jika itu digunakan untuk keperluan desa maka akan sangat membantu bukan?". Potong Adelia dengan ekspresi gembira.


Semua laki-laki tua yang hadir di sana tertegun, sesaat mereka kehilangan suara. Sebenarnya kepala desa Miao sudah mendatangi keluarga Miao dan menyampaikan perihal yang sama namun nenek Miao Lan mengamuk ketika mendengar tujuan mereka berkunjung. Jadi hanya Lu Xiang satu-satunya orang yang dapat mereka manipulasi dan mengambil keuntungan.


Adelia terkesiap seperti menyadari sesuatu, ia tidak akan memberikan kesempatan mereka untuk membela diri. "Jangan-jangan paman belum datang ke rumah keluarga Miao dan menyampaikan hal yang sama?! Tidak mungkin kan paman, karena paman dan warga desa sangat banyak membantu keluarga Miao dibandingkan dengan Lu Xiang. Akan sangat tidak masuk akal jika paman tidak datang ke keluarga Miao malah antusias ke keluarga kami".


Tatapan Adelia dan Lu Xiang menjadi dingin. Bantuan memang bantuan, Adelia tidak mempermasalahkan keputusan suaminya yang ingin membantu anak-anak agar tidak sesulit suaminya dalam menempuh pendidikan, namun bantuan yang didapat dengan mudah akan berubah menjadi kewajiban dimata orang yang dibantu, ia tidak ingin memelihara lintah yang ingin menghisap habis darah keluarganya.


Jika hari ini mereka dengan mudah mendapatkan surat pembebasan pajak tanah maka besok mereka akan meminta uang atau sesuatu lainnya.


Sesaat suasana di ruang tamu mendadak hening. "Adelia, kami sudah meminta hal yang sama pada Miao Sheng tapi..."


"Nenek Miao Lan tidak mau memberikannya? Apa status nenek Miao Lan lebih tinggi daripada paman sebagai kepala desa dan tetua klan?".


Wajah para lelaki setengah baya itu memerah akan pertanyaan Adelia.


Adelia merasa sudah cukup menekan psikologi kepala desa dan tetua klan, ia melihat suaminya yang dibalas anggukan.


"Paman. Aku sangat berterimakasih atas bantuan yang paman berikan ketika aku berada di masa sulit, sebenarnya aku juga sudah berniat untuk memberikan surat pembebasan pajak untuk desa Miao tapi karena banyak hal yang harus aku lakukan, aku belum sempat menyampaikan hal ini pada paman sekalian".


"Aku akan memberikan 15 hektar bebas pajak tanah untuk desa Miao untuk biaya sekolah anak-anak yang ingin belajar, agar tidak hanya aku dan Miao Sheng yang menjadi sarjana di desa Miao tapi juga anak lainnya, itu akan membuat desa kita akan sangat di hargai oleh petugas yamen dan walikota ketika ingin memungut pajak lainnya".


Wajah kepala desa dan tetua klan pun berubah bersinar, akhirnya tujuan mereka datang kemari tercapai.


"Paman bisa jadikan aku contoh agar keluarga Miao juga ikut menyumbang surat pembebasan tanah".


"Itu ide yang bagus" Jawab kepala desa Miao. Mereka tertawa senang dengan ini mereka akan dapat menyimpan uang lebih dari biasanya. Walaupun Lu Xiang mengatakan bahwa semua uang pajak tanah akan didonasikan untuk pendidikan anak namun tidak ada yang tau jika mereka hanya mengambil sebagian.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan uangnya? Berapa banyak uang yang ingin kau berikan Lu Xiang?".


Pertanyaan tetua klan Miao membuat Adelia dan Lu Xiang tertegun.


__ADS_2