
Keesokan harinya Adelia pergi ke desa Li tempat Xiaowen tinggal. Desa Li adalah desa paling dekat dengan kota Cheng, desanya lebih berkembang dan sejahtera dibandingkan desa lainnya karena warga desa menanam tanaman herbal yang kemudian akan di jual ke toko farmasi.
Adelia melihat banyak bangunan rumah yang terbuat dari batu dibandingkan rumah kayu, tak lama ia sampai ke rumah bangunan batu yang lumayan besar lalu turun dari kereta kuda.
Warga desa melihat Adelia yang sangat asing bagi mereka namun tidak ada satupun yang berkerumun dan bergosip karena memiliki pekerjaan masing-masing. Lagipula sudah sering kereta kuda masuk ke desa mereka maka itu bukan pemandangan baru lagi.
"Adelia! Ada apa kau kemari?!" Xiaowen yang sedang menyapu halaman terkejut melihat wanita tersebut.
Adelia tersenyum. "Aku ingin mengunjungi mu".
"Si-silahkan masuk! Ibu mertua! Ibu mertua. Istri Xiefu berkunjung!".
Ucapan Xiaowen membuat warga desa terkejut dan ramai-ramai ingin melihat Adelia dari dekat membuat wanita itu menjadi canggung, beruntung Xiaowen segera mempersilahkannya masuk.
"Nyonya Xiefu. Maaf jika rumahnya berantakan. Kami tidak tau bahwa nyonya akan berkunjung". Ibu mertua Xiaowen menyambut Adelia dengan antusias.
"Panggil saja Adelia ibu Li. Maaf jika aku menganggu kalian dengan kedatangan ku yang tiba-tiba".
"Tidak, tentu saja tidak. Suatu kehormatan bagi rumah kami dapat dikunjungi olehmu Adelia".
"Silahkan diminum Adel". Xiaowen meletakkan nampan berisi teh dan beberapa kue.
"Xiaowen, duduk disini dan temani Adelia. Ibu akan memasak".
"Ibu Li tidak perlu repot-repot. Aku tidak akan lama disini ibu Li".
"Jangan begitu. Kau harus makan siang sebelum pulang, walaupun masakan kami sederhana tapi kami ingin makan siang denganmu Adelia". Ibu Li tetap memaksa.
"Baiklah" Adelia terpaksa setuju.
"Ada apa kau kemari Adelia? Jika kau menyuruh pelayan mu maka aku bisa datang ke rumahmu, kau tidak perlu repot-repot kemari".
Adelia menggeleng kepala. "Aku harus menemui mu langsung".
"Xiaowen, apa kau ingin bekerja di kota Cheng?"
"Maksudmu?".
"Tidak lama lagi aku akan pindah ke Fucheng dan akan sangat sayang jika aku harus menutup toko di kota Cheng karena tidak bisa mengelolanya dari jauh. Maka dari itu aku bertanya apa kau ingin mengelola toko kue De Xiang, kau bisa memulai karier mu di sana".
Xiaowen tertegun. Ia tidak menyangka akan kejatuhan duren runtuh hari ini, ia sudah lama ingin memulai bisnis karena ingin meningkatkan statusnya di keluarga suaminya, walaupun ibu mertuanya tidak mengatakan banyak namun ia tau bahwa ibu mertuanya lebih memanjakan kakak ipar karena sudah memiliki anak laki-laki daripada ia yang tidak memiliki momongan.
__ADS_1
"Ka-kau yakin Adel?".
"Ya. Karena ini toko milikku jadi kau tidak perlu khawatir orang akan menganggu usahamu, kita akan membagi keuntungan 6:4. 6 untukku dan 4 untukmu, aku akan memberikan resep dan mengajarimu cara membuat kue tart".
Xiaowen menggeleng kuat. "Kau memberiku terlalu banyak. Bagaimana jika 8:2?".
"Tidak, itu terlalu sedikit. Kau yang membuat dan menjualnya jadi sudah selayaknya kau mendapatkan 40%". Adelia bersikeras.
"Tidak, tidak Adel. Mulai dari toko, peralatan dan bahkan resep itu semua darimu jadi aku tidak pantas menerima sebanyak itu" Xiaowen lebih bersikeras.
Setelah perdebatan yang panjang akhirnya keduanya sepakat untuk memberikan keuntungan 7:3. Keduanya pun bernapas pasrah karena sama-sama berpikir bahwa mereka mengambil keuntungan lebih.
"Tapi apa ibu mertuamu mengizinkanmu tinggal di kota?".
"Tinggal di kota?" Xiaowen tidak mengerti dengan pertanyaan Adelia.
"Di belakang toko kan rumahku yang nantinya akan kau tempati".
Mata Xiaowen melebar, ia melupakan hal yang satu itu. Sesaat ia tampak ragu namun ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali.
"Aku akan membujuk ibu mertuaku. Aku akan memberimu kabar keputusan akhir tentang aku tinggal di kota atau tidak".
Adelia tersenyum puas. "Baiklah". Keduanya lalu bergosip tentang apa saja yang terjadi di kota Cheng maupun di desa Li, setelah membahas tentang bisnis keduanya semakin menjadi dekat.
Antusias keluarga perempuan Li membuat Adelia hampir kewalahan dalam meladeni mereka namun sesekali Xiaowen membantu menengahi sehingga suasana tidak menjadi cangungg, Adelia makan lebih banyak dari biasanya mungkin karena masakan sederhana yang membuat rasa lebih homey.
Setelah makan siang, Adelia pun pamit kembali ke kota Cheng. Kesenangannya hilang mendengar laporan ketika ia baru saja masuk gerbang.
"Nyonya. Dua orang wanita bernama Li Mei dan Lien Hua datang berkunjung".
Adelia menghela napas panjang. "Dimana mereka sekarang?".
"Ada di ruang tamu nyonya".
"Suruh mereka menunggu. Aku akan mandi terlebih dahulu". Adelia berpikir bahwa ia harus menyegarkan pikiran terlebih dahulu sebelum meladeni dua bibinya.
Setengah jam kemudian, Adelia yang tampak segar masuk ke ruang tamu dan tersenyum pada Li Mei dan Lien Hua. "Ada apa gerangan kedua bibi berkunjung kemari?".
Walaupun Li Mei tidak senang karena Adelia membuat menunggu namun demi tujuannya ia menahan ketidaksukaannya. "Bibi ingin mengucapkan selamat kepada Lu Xiang tapi pelayan bilang kalau Lu Xiang sedang pergi ke Fucheng?".
"Ya bibi. Suamiku sedang ada beberapa urusan di sana" Adelia menyuruh pelayan untuk membawakan buah stroberi untuknya.
__ADS_1
Lie Hua menatap sangat iri pada perlakuan baik putri yang didapatkan oleh keponakan yang selalu berada dibawahnya, ia melirik Li Mei agar mengatakan tujuan mereka sebenarnya datang kemari namun wanita itu sama sekali tidak melihatnya.
"Bibi juga dengar bahwa kau sedang hamil? Selamat Adelia, semoga kau melahirkan anak laki-laki agar statusmu disini semakin solid".
Adelia menerima mangkuk berisi stroberi dan memakannya dengan santai, ia tersenyum mendengar perkataan bibinya. "Bibi tidak perlu khawatir, disini tidak ada ibu mertua yang akan menekan ku".
Sindiran tersebut tepat mengenai dada kedua bibinya membuat senyum mereka membeku dan berusaha keras agar tetap tersenyum.
"Kau tidak bisa mengatakan itu Adelia. Bagaimana jika Lu Xiang lebih memilih selir daripada kamu karena kau tidak memiliki anak laki-laki yang akan meneruskan lilin keluarga Lu seperti ibumu?". Lien Hua menyerang balik.
Senyum Adelia menghilang, ia pun menghela napas panjang. Benar dugaannya akan sangat gerah meladeni kedua wanita tua ini.
"Apa itu saja yang ingin bibi katakan. Kehamilan membuatku mudah lelah, kalau begitu...". Adelia beranjak dari tempat duduk namun Li Mei segera menahannya seraya menatap galak pada Lien Hua yang tidak dapat bersabar. Ia tidak mau tujuannya hancur hanya karena wanita yang berpikiran sempit ini.
"Tu-tunggu dulu Adelia. Sebenarnya bibi ingin meminta sesuatu padamu, aku dengar kau akan pindah ke Fucheng? Kau pasti akan membeli rumah di sana kan?".
"Ya bibi". Adelia menjadi malas bertanya balik dan membiarkan bibinya menyampaikan tujuan mereka sendiri.
"Kau juga tau bahwa Miao Sheng juga akan pergi ke Fucheng untuk melanjutkan sekolah di Akademi yang ada di sana. Tapi menyewa rumah sangat mahal, kau tau sendiri bahwa keluarga kita tidak memiliki banyak uang, jadi bibi ingin meminta padamu agar Miao Sheng dapat tinggal di rumahmu sampai ia dapat menyewa rumahnya sendiri".
Bibir Adelia berdenyut speechless, keluarga Miao memang sangat bermuka tebal, setelah apa yang terjadi diantara mereka, Li Mei masih punya muka untuk meminta tolong padanya.
"Bibi, untuk urusan itu aku harus berdiskusi lagi dengan suamiku. Aku tidak mau suamiku berpikir bahwa keluarga kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengambil keuntungan darinya bukan?".
Li Mei tertegun dan menjadi marah namun ia hanya dapat menggigit bibirnya kuat untuk menahan emosi. "Te-tentu saja kau harus berdiskusi dengan Lu Xiang".
"Adelia. Bagaimana dengan toko kue jika kau pindah ke Fucheng?" Lien Hua segera mengambil alih pembicaraan karena takut Adelia akan membuat berdalih untuk mengusir mereka dengan cepat.
Adelia dan Li Mei tertegun. Lien Hua juga menyadari bahwa ia berbicara blak-blakan, ia pun berdeham dan tertawa kecil. "Maksud bibi, akan sangat disayangkan jika tidak ada yang mengelola toko kue setelah kau pindah ke Fucheng. Bibi bisa menggan...".
"Bibi tidak perlu khawatir akan hal itu. Seseorang sudah berniat membeli toko kue dan ingin menjalankan toko kue itu bersamaku. Dia telah memberikan beberapa ribu koin perak dan akan memberikan 30% keuntungan dari penjualan kue tart setiap bulannya".
"Kau menjualnya?!!" Li Mei dan Lien Hua berteriak tidak percaya.
"Ya bibi. Haah~ bibi tau sendiri bahwa membeli rumah dan biaya hidup di Fucheng sangat tinggi makanya bibi meminta agar Miao Sheng tinggal di rumah kami bukan? Aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang besar untuk melakukan itu karena tidak mungkin dengan gelar Xiefu yang Lu Xiang kenakan kami hanya menyewa rumah kan? Kebetulan sekali ada orang yang ingin membeli toko kue De Xiang dan membayar mahal". Adelia berkata omong kosong tanpa berkedip sekalipun.
"Bagaimana mungkin kau menjualnya?!" Lien Hua masih tidak percaya, ia sudah muak tinggal di desa dan ingin pindah ke kota, satu-satunya cara agar ia dapat mencapai tujuannya adalah melalui Adelia dan sekarang wanita tengik ini mengatakan bahwa ia telah menjual toko kue De Xiang?!.
"Aku terpaksa bibi jika tidak melakukan itu bagaimana mungkin aku punya uang untuk membeli rumah di Fucheng. Jika bibi Li Mei dan bibi Lien Hua sudah tidak ada lagi hal yang ingin dibicarakan maka Lu Yan, panggil Lu Cai untuk mengantarkan pulang kedua bibiku".
"Baik nyonya".
__ADS_1
Adelia meninggalkan ruang tamu tanpa mengindahkan panggilan dari bibinya.