
Setelah mereka masuk ke rumah baru, Lu Xiang tidak ingin anaknya mengganggu pertemuannya dengan Adelia setelah hampir sebulan tidak melihat satu sama lain sehingga setelah Baobao kembali tidur, ia meletakkan anak laki-lakinya di atas tempat tidur dan menyuruh Lu Mei untuk menjaganya lalu segera menarik tangan istrinya untuk masuk ke kamar utama dan memeluknya dengan erat sebelum mencumbunya dengan dalam dan basah.
"Sayang, aku sangat merindukanmu". Tangan Lu Xiang bergerilya tidak sabar di tubuh Adelia sembari tetap mencium dalam bibir ranum yang selalu memabukkan untuknya.
"Aku..aku juga Lu Xiang. Aku juga merindukanmu".
"Sayang~ Aku mencintaimu".
Lu Xiang mendorong istrinya ke tempat tidur dan segera menghimpitnya dan melanjutkan cumbuan mereka yang rindu akan napas dan rasa hangat mulut masing-masing.
"Adelia~ Sayangku. Aku begitu merindukanmu". Mata Lu Xiang memerah oleh nafsu yang menyeruak dengan cepat hingga tak terbendung, ia melepaskan pakaiannya dan Adelia secepat kilat dan memeluk serta merasa kehangatan tubuh masing-masing, Lu Xiang menarik napas dalam mencoba menghirup semua aroma tubuh istrinya yang begitu ia rindukan.
"Adelia~".
Adelia memegang kedua pipi suaminya lalu tersenyum penuh cinta kemudian mengecup kening, mata, pipi dan bibir tebal yang selalu ia bayangkan selama dalam perjalanan setiap kali ia merasa kesepian.
"Suamiku~ Sayangku~".
Aura cinta yang keluar dari mata dan tubuh mereka membuat keduanya kembali memeluk satu sama lain dan melanjutkan kegiatan panas yang sudah mereka nantikan selama hampir satu bulan tersebut, walaupun kelihatannya tidak lama namun bagi pasangan yang saling merindukan itu, sehari bagaikan setahun dan sebulan bagaikan seabad. Mereka merasa bahwa mereka sudah sangat lama tidak bertemu.
Lu Xiang dan Adelia menikmati pertemuan pertama mereka di ibukota dengan bermain di atas ranjang dan bermain selama beberapa ronde hingga Adelia menyerah dan tertidur begitu kelelahan.
Lu Xiang merasa bersalah melihat istrinya yang sangat kelelahan, baru saja tiba di ibukota namun ia sudah minta jatah namun melihat istrinya yang sangat dirindukan sangat mustahil melepaskan wanita yang sangat ia cintai begitu saja tanpa merasakannya terlebih dahulu.
Lu Cheng dan Lu Shan yang ingin bereuni ria dengan kakak laki-laki mereka hanya bisa pasrah dan menunggu. Lu Cheng bahkan ingin memutar jengah bola matanya, kak Xiang tidak berubah sedikitpun masih saja memonopoli kak Adel walaupun sudah punya Baobao, tsk tsk begitu kekanakan.
Malamnya, Adelia terbangun oleh tangisan Baobao yang tidak melihat ibunya. Walaupun Lu Xiang berusaha keras menenangkan namun tetap saja gagal karena Baobao tidak begitu mengingat ayahnya yang tidak ia lihat selama hampir satu bulan.
"Bagaimana perjalananmu menuju ke ibukota? Apakah baik-baik saja sayang?".
"Perjalanan kami berjalan mulus Lu Xiang, aku tidak menyangka bahwa perjalanan ke ibukota akan semulus itu".
__ADS_1
"Jangan berbicara omong kosong. Aku bersyukur bahwa perjalananmu berjalan mulus tanpa ada hambatan apapun".
"Kak Xiang, kak Xiang. Kau tau, kami melihat hutan dan kota serta desa yang belum pernah kami lihat sebelumnya selama perjalanan ke ibukota". Lu Cheng mulai menjabarkan pengalamannya dalam perjalanan.
"Ya kak. Kami melihat banyak pemandangan walaupun tidak terlalu berkesan tapi bisa menjadi pengalaman yang unik". Timpa Lu Shan mendukung.
Keduanya lalu menceritakan dengan siapa dan apa saja yang mereka temukan selama dalam perjalanan hingga waktunya makan malam, walaupun sedikit telat namun berhubung bahwa ini hari pertama kepindahan mereka, Lu Cheng dan Lu Shan tidak mengeluh dan makan malam bersama dengan kakaknya.
Selesai makan malam Lu Xiang menyerahkan Baobao yang sudah tertidur setelah minum asi kepada Lu Mei dan Lu Yang lalu mengelus kepala dua adiknya, menyuruh mereka untuk istirahat lalu menarik tangan Adelia masuk kamar.
"Sayang". Lu Xiang memeluk Adelia erat, sesekali mengecup bahu dan leher jenjang istrinya.
"Hm?"
"Aku merindukanmu".
"Aku juga merindukanmu Lu Xiang".
"Sayang".
"Aku mencintaimu".
Adelia terkekeh geli namun melihat ekspresi serius suaminya, ia mengangguk dan mengecup dagu Lu Xiang. "Aku juga mencintaimu Lu Xiang".
Lu Xiang menarik Adelia untuk duduk di tempat tidur lalu kembali memeluk istrinya, tindakan melekat seperti perangko membuat Adelia tersenyum lucu dan sedih pada saat bersamaan, baru kali ini ia melihat Lu Xiang yang menempel padanya walaupun mereka hanya tidak bertemu selama hampir sebulan.
"Ada apa Lu Xiang? Apa ada masalah selama kau ada disini?".
Lu Xiang menggeleng, ia lalu menceritakan apa yang terjadi selama ia berada di ibukota, Adelia tertegun dan tercengang. Suaminya dapat menggetarkan pertemuan mahkamah hanya karena sedikit saran dan usulan.
"Sepertinya pajak bea cukai akan menghambat rencana perdana menteri kiri, terlihat jelas dari tatapan dingin ketika dia melihatmu Lu Xiang".
__ADS_1
Lu Xiang mengangguk setuju. "Aku pikir itu hanya usulan yang tidak punya potensi besar namun sepertinya tidak. Ha~ belum masuk ke pemerintahan aku sudah membuat musuh sayang".
Adelia memegang kedua pipi dan mengecup bibir suaminya dengan lembut. "Kau tidak perlu khawatir, Kaisar pasti tidak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya mengingat potensi yang kau perlihatkan padanya. Mungkin putra mahkota juga demikian".
"Kenapa kau berpikir begitu?".
"Bukankah Ye Hemin anak buah putra mahkota? Dari cara mereka memperlakukanmu sudah memperlihatkan bahwa putra mahkota juga tertarik dengan kemampuan yang kau miliki, mungkin dia ingin menjadikanmu salah satu penasehatnya?".
Lu Xiang kembali mengangguk, ia tau bahwa Murong Xianming menaruh perhatian lebih pada kemampuan yang ia miliki, mungkin seperti yang Adelia katakan bahwa laki-laki itu tertarik untuk menjadikannya salah satu penasehat miliknya.
"Aku rasa dari tiga pangeran, putra mahkota yang memiliki pengaruh paling besar".
Alis Lu Xiang terangkat naik.
"Aku tidak terlalu paham akan politik dan manipulatif anggota kerajaan namun setelah beberapa usulan dan kontribusi yang kau perlihatkan, putra mahkota adalah pangeran pertama yang tertarik dan mengetahui potensi yang kau miliki, bukankah itu menunjukkan bahwa kemampuan inteligennya lebih baik dan besar daripada kedua pangeran lainnya?".
Lu Xiang berpikir kembali dan menyadari hal itu, Murong Xiangming adalah pangeran pertama yang mengetahui latar belakangnya dan tertarik akan kemampuan yang ia miliki daripada pangeran lainnya, tidak hanya itu dia juga sepertinya tertarik pada kemampuan membuat wine istrinya.
"Sayang. Apa kau pikir aku pilih fraksi putra mahkota saja? tapi itu akan membuat Kaisar tidak suka".
Adelia mengangguk setuju. "Kau tidak perlu terlihat jelas mendukung putra mahkota. Kau hanya perlu fokus pada tujuan dasar kau memilih untuk masuk ke pemerintahan, jika terjadi sesuatu dan tidak mampu kau atasi baru kau masuk ke fraksi putra mahkota. Walaupun terlihat licik tapi jika kau memberikan sesuatu yang mampu menyamarkan kelicikan itu maka aku pikir itu putra mahkota tidak akan mengingat tindakanmu sebelumnya".
"Stainless steel?".
Adelia mengangguk.
"Hehe, kau memang sangat pintar sayang. Jika kau laki-laki maka kau akan lebih sukses dariku".
Adelia mengangkat wajah dengan pongah lalu menaikkan sebelah alisnya. "Siapa dulu, istrinya Lu Xiang".
"Hahaha" Lu Xiang tertawa lepas dan menggelitik pinggang Adelia hingga mereka merebahkan diri di atas tempat tidur.
__ADS_1
Tatapan mata Lu Xiang menjadi dalam melihat wajah memerah istrinya, nafsu yang baru saja terpenuhi kembali bergejolak. Tanpa banyak bicara, ia menghimpit Adelia dan mencumbu bibir yang selalu membuatnya gila dan ronde kedua percintaan di atas ranjang pun kembali di mulai.