Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Memetik buah


__ADS_3

Lu Xiang berpikir dan menjadi murung mengingat apa yang telah keluarga Miao dan warga desa lakukan pada keluarga mereka, itu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak mengacaukan keluarganya.


"Tapi bagaimana jika mereka membuat kacau di toko?" Lu Xiang cemas berpikir bahwa Adelia akan menghadapi itu semua sendiri ketika dirinya sedang di Akademi.


Adelia tersenyum licik. "Kau tidak perlu khawatir. Kita bisa membeli pelayan dan budak untuk melindungi ku, semua hal dapat diatasi dengan uang". Walaupun mereka akan kerepotan menghadapi keluarga Miao yang tidak tau malu namun mereka hanya warga desa biasa, sedikit uang akan dapat mengatasi mereka. Lagipula keluarga Miao adalah keluarga yang sangat mementingkan muka dan reputasi jadi mereka tidak akan bertindak gila demi Miao Sheng.


"Kak. Apa kau ingin pindah?" Lu Cheng dan Lu Shan yang sedari tau mendengar fokus pada pembicaraan kedua kakaknya akhirnya menarik lengan baju Lu Xiang untuk bertanya.


"Ya Lu Cheng. Kita akan tinggal di kota Cheng". Lu Xiang tersenyum dan mengelus kepala adiknya.


"Benarkah?" Mata Lu Cheng bersinar. Ia tidak suka tinggal di desa ini karena banyak anak dan orang-tua yang mengoloknya karena menjadi beban untuk kakaknya. Ia tidak pernah menceritakan hal itu pada Lu Xiang karena tau itulah kenyataannya dan tidak ingin lebih menyusahkan kakaknya akibat perkataannya. Itu juga yang membuatnya menjadi dewasa sebelum waktunya.


Lu Xiang dan Adelia mengangguk.


Lu Shan mengedip matanya dua kali sembari tangan yang sibuk memakan kue manis dan lezat yang Adelia berikan, ia memiringkan kepalanya sembari bibir mengerucut lucu. "Apa aku masih tetap bisa makan enak kalau kita tinggal di kota?" Walaupun ia tidak bisa mengerti banyak hal namun ia tau bahwa kota akan banyak menghabiskan uang, jika tidak ada uang maka ia tidak akan makan enak seperti sekarang ini.


Lu Xiang dan Adelia tertawa mendengar pertanyaan Lu Shan sedangkan Lu Cheng memutar bola matanya. "Kau ini taunya makan saja".


Lu Shan hanya cemberut melihat kakak-kakaknya tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Dalam hati ia bertekad akan menyimpan setengah makanan yang Adelia berikan agar ia tidak kehabisan stok jika mereka menjadi miskin.


Sore harinya, Adelia meminta Lu Cheng untuk mengajak anak sepermainannya untuk mengumpulkan buah pir anggur dan buah lainnya. Bersama mereka akan lebih cepat mengumpulkan buah-buahan itu. Walaupun Lu Cheng enggan berkomunikasi dengan anak-anak yang selalu mengejeknya namun ia tetap menuruti perkataan kakaknya.


"Kau ingin kami mengumpulkan buah-buah asam itu? Hehe. Apa kau sedang bermimpi Lu Cheng". Miao Zheng mengangkat angkuh wajahnya. Dia pikir dia siapa seenaknya menyuruh orang lain?. Miao Zheng adalah pemimpin dari anak-anak di desa Miao dan ia juga sering mengejek Lu Cheng yang tidak punya teman.

__ADS_1


Para pengikut Miao Zheng mengangguk setuju dan mengejek Lu Cheng yang tidak tau malu.


Lu Cheng memutar jengah bola matanya. "Aku tidak menyuruhmu tanpa imbalan. Kalau kau berhasil mengumpulkan buah-buah itu dalam satu keranjang besar penuh maka aku akan membayar mu 15 koin tembaga. Bagaimana?"


Mata Miao Zheng membesar namun ia menyipitkan matanya melihat Lu Cheng curiga. "Benarkah?" Ia tidak percaya bahwa Lu Cheng akan membayarnya 15 koin tembaga karena gaji orang dewasa setelah bekerja satu harian saja hanya 30 hingga 35 koin tembaga.


"Tentu saja. Sekarang kalian ambil keranjang kalian masing-masing dan pergi petik buah-buah itu, kata kak Adelia, dia akan membeli keranjang kalian sekalian dengan harga 5 koin tembaga".


Mata Miao Zheng masih menyipit tidak percaya namun melihat tatapan serius Lu Cheng ia akhirnya memilih mempercayainya. Jika nanti bocah tengik ini tidak menempati janji maka akan menghajarnya sampai kakaknya tidak mengenalinya.


Para pengikut Miao Zheng sangat antusias mendengar perkataan Lu Cheng namun mereka tidak berani mengambil keputusan sendiri dan menunggu jawaban Miao Zheng, mereka berharap agar bos mereka setuju agar mereka punya uang sendiri tanpa bantuan orang-tua mereka.


"Baiklah. Tapi ingat kata ku Lu Cheng. Jika kau berbohong aku akan mematahkan lengan dan kakimu" Ancam Miao Zheng dengan wajah bengis.


Berita tentang Lu Cheng membayar 15 koin tembaga untuk satu keranjang penuh buah menyebar ke seluruh desa Miao. Para orang-tua yang takut anaknya kena tipu mendatangi rumah Lu Ciang dan menanyakan tentang perihal buah itu.


"Itu benar tante. Aku akan membayar 15 koin tembaga untuk setiap keranjang buah yang segar dan tidak busuk"


"Untuk apa buah itu Lu Xiang? Buah itu kan asam walaupun beberapa yang manis tapi tidak banyak". Salah satu warga yang bernama tante Mei bertanya.


"Restoran Fuyuan ingin membelinya. Aku tidak tau untuk apa".


Para ibu-ibu itu berbisik satu sama lain. Mereka menganggap bahwa akan lebih untung jika mereka menjualnya langsung pada restoran itu daripada ke Lu Xiang.

__ADS_1


Lu Xiang tau apa yang mereka pikirkan setelah melihat raut dari para ibu warga itu. Sesaat ia speechless akan rasa tidak malu para ibu itu karena menikung langsung orang yang ingin memberi uang pada mereka. "Aku tau yang tante dan ibu pikirkan. Jika kalian pikir kalian bisa menjualnya langsung pada restoran Fuyuan, silahkan saja".


Para ibu itu tertegun dan muka mereka menjadi merah karena ketahuan oleh Lu Xiang, mereka langsung tertawa meringis.


"Bagaimana kami dapat menikung mu dan menjualnya langsung ke restoran Fuyuan. Kami tidak akan berbuat begitu"


"Ya Lu Xiang. Kau salah paham, kami hanya berpikir untuk apa buah-buah itu digunakan karena buah itu asam dan kecut".


"Lagipula kami juga tidak tau berapa mereka dapat membayarnya"


Beberapa ibu ingin menggali informasi lebih lanjut kepada Lu Xiang namun bagaimana mungkin laki-laki itu menuruti keinginan mereka. "Aku juga tidak tau. Mungkin mereka akan memberi ku bonus karena buah asam itu juga tidak laku jika dijual"


Para ibu mengangguk setuju. Mereka tersenyum berterimakasih kasih lalu mulai mengambil keranjang mereka masing-masing untuk memetik buah yang ada di sekitar hutan.


Para anak-anak yang antusias menceritakan berita baik itu pada ibu mereka menjadi menyesal karena sekarang ibu merekalah yang mengambil alih pekerjaan itu.


Berkat bantuan para ibu dan anak, buah-buah yang ada di pohon berhasil di petik seluruhnya dalam waktu singkat, 12 buah keranjang penuh serta 18 keranjang setengah penuh diletakkan di depan rumah Lu Xiang dengan antusias oleh para suami mereka.


"Ini semua Lu Xiang".


Adelia memeriksa beberapa keranjang dan melihat tidak ada buah busuk lalu mengangguk dan Lu Xiang membagikan upah jerih payah mereka.


"Hei Adelia. Keluargamu sudah kaya ya sampai mengumpulkan buah-buah asam ini?"

__ADS_1


Suara perempuan yang agresif membuat perhatian warga teralihkan. Beberapa ibu-ibu menatap satu sama lain dan tersenyum kecil sembari mengisyaratkan bahwa sebuah drama akan tampil di hadapan mereka.


__ADS_2