
Keesokan harinya, Lu Xiang dan Adelia menunggu kedatangan petugas yamen walikota yang akan datang ke rumah mereka untuk memberikan giok sarjana khusus untuk pemegang gelar Xie Hsien.
Orang-orang berkumpul di depan rumah dan toko kue De Xiang untuk melihat kejadian fenomenal itu, belum pernah sebelumnya kota Cheng meraih gelar Xie selama 20 tahun terakhir ini.
Tak lama kemudian, petugas yamen yang datang dengan berkuda sampai ke rumah Lu Xiang, mereka memakai topi yamen khusus dan kain merah yang di letakkan di leher kuda sebagai tanda bahwa mereka membawa berita bagus.
"Apa disini rumah Xie Hsien Lu?"
"Benar. Saya adalah Xie Hsien Lu". Lu Xiang melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya yang menggenggam ke dada tanda memberi salam khas pelajar.
"Kami diperintah oleh walikota untuk memberikan selamat pada Xie Hsien Lu beserta giok Xie dan surat pernyataan atas hadiah Xie Hsien Lu dapatkan". Salah satu petugas yamen menyematkan kain satin panjang bertuliskan 'selamat' di bahu Lu Xiang lalu menyerahkan batu giok lonjong sebesar jari telunjuk yang terukir kata Xie Hsien serta surat pernyataan hadiah berisi bebas pajak tanah 30 hektar dan gaji Xie Hsien sebesar 5 koin perak setiap bulannya, sangat berbeda dengan sarjana Hsien biasa.
"Terimakasih. Mari masuk dulu untuk minum teh". Lu Xiang mengajak petugas yamen masuk ke dalam, sedangkan Adelia menyuruh Lu Tao untuk membakar petasan dan memberikan dua genggam uang tembaga pada Lu Fang untuk di lemparkan ke depan rumah agar banyak mendapatkan kebahagiaan yang Lu Xiang dan ia rasakan.
Menyalakan petasan dan melempar uang adalah tradisi di kerajaan Murong ketika mendapatkan berita baik yang hebat seperti lulus sarjana peringkat pertama atau naik jabatan pemerintah.
Petugas yamen tidak duduk lama dan berpamitan, Lu Xiang memberikan 2 koin perak pada ketua petugas yamen tersebut sebelum mereka keluar rumah.
Hal itu membuat kedua petugas itu merasa senang. "Aku harap kau bisa menjadi Xiao Xieyuan".
Lu Xiang terkejut dan tersenyum senang. "Terimakasih tuan".
Tangannya mengepal erat menunjukkan antusias yang ia rasakan. Perkataan petugas yamen mengindikasikan bahwa walikota Li sangat optimis padanya sebagai sarjana yang mendapat tiga gelar Xie dalam ujian makanya disebut dengan Xiao Xieyuan, di sisi lain juga menunjukkan sikap walikota yang mengharapkan agar ia belajar lebih keras lagi untuk mendapatkan gelar tersebut.
Hari itu adalah hari spesial untuk keluarga Lu Xiang, baik majikan maupun pelayan sama-sama merayakan hari spesial itu dengan makan besar.
__ADS_1
Namun kebahagiaan keluarga Lu Xiang hilang oleh tamu tak diundang.
"Tuan, nyonya. Dua pasangan suami istri berkunjung, mereka mengatakan bahwa mereka paman dan bibi tuan" Lu Tao menyampaikan berita dengan bingung, dari pertama ia bekerja disini tidak ada satupun sanak keluarga yang berkunjung selain keluarga Adelia. Ia tidak membiarkan dua pasangan itu untuk masuk sebelum memastikan laporan yang ia dengar.
Senyum Lu Xiang dan Adelia lenyap. Lu Cheng bahkan terkejut dan menggigit bibirnya, ia sangat takut pada bibinya yang selalu memukulinya ketika masih berada di rumah besar keluarga Lu.
Sesaat suasana menjadi hening membuat Lu Tao berpikir bahwa ia salah dan segera ingin mengusir kedua pasangan tersebut namun perkataan Lu Xiang menghentikan gerakannya.
"Suruh mereka masuk".
Lu Xiang bangun dan membelai kepala Lu Cheng yang wajahnya mulai pucat. "Bawa Lu Shan kembali ke kamar, kau tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja".
Adelia menatap tidak mengerti akan reaksi Lu Cheng ketika mendengar kabar bahwa keluarga Lu berkunjung. Ia tau bahwa Lu Xiang tidak dekat dengan sanak keluarganya dan ibunya lebih memilih untuk tinggal di desa Miao daripada di desa Lu tempat keluarga besar Lu berada.
Empat orang masuk ke ruang tamu, mereka duduk berpasangan dan menatap Lu Xiang dengan pandangan cemooh yang tidak bisa mereka sembunyikan.
"Ada apa gerangan kedatangan kalian kemari, Lu Ho, Lu Haocun?".
Suara dingin Lu Xiang membuat keempat paman dan bibinya terkejut lalu menjadi marah.
"Apa menjadi sarjana membuatmu lupa akan paman dan bibi mu Lu Xiang? Sepertinya buku yang kau baca masuk ke dalam perut anjing". Lu Ho menceramahi keponakannya seakan ia adalah orang tua Lu Xiang sendiri.
Lu Xiang terkekeh lucu. "Paman dan bibi? Seperti kalian lupa karena pengaruh usia kalau aku bukan lagi bagian dari keluarga Lu".
"Kurang ajar. Dimana sopan santun mu ketika berbicara dengan paman?! Apa kau tidak malu sebagai sarjana Xie Hsien?!" Lu Haocun berdiri dan menunjuk emosi pada Lu Xiang.
__ADS_1
Lu Xiang sama sekali tidak terintimidasi, ia bahkan bertepuk tangan. "Ternyata kalian bukan lupa tapi amnesia. Apa aku harus melemparkan kertas surat pemutusan hubungan di wajah kalian agar kalian mengingat kembali?".
Wajah tanpa ekspresi dan mata dingin membuat Lu Haocun melangkah mundur namun ia sadar bahwa ia takut pada keponakannya sendiri membuatnya menjadi malu dan semakin emosi.
Tangan Lu Haocun ditarik oleh istrinya. Melihat sikap keras Lu Xiang dan ketidakpeduliannya pada mereka membuat Shi Meiyin membuat mengubah strategi menjadi lebih lembut.
"Lu Xiang, mengapa kau sangat pendendam. Orang bilang tangkai tidak akan patah walaupun dibengkokkan, tidak ada kebencian semalam dalam keluarga, kedatangan kami kemari untuk mengucapkan selamat padamu menjadi Xie Hsien, kami sebagai keluarga Lu sangat bangga atas pencapaian yang kau raih".
"Ya Lu Xiang. Biarkan yang berlalu tinggal di belakang, kau harus melihat ke depan jika ingin melangkah maju. Lagipula dengan keluarga kau mendapat dukungan untuk lebih maju lagi" Sambung Liu Peiyu, walaupun Lu Xiang bersikap keras namun ia tetaplah hanya keponakan yaitu junior di matanya. Sampai detik ini pun Liu Peiyu masih menganggap bahwa Lu Xiang berada di genggamannya.
Tangan Lu Xiang mengepal kuat, rahangnya mengeras menahan emosi membuat tubuhnya bergetar. Ia mengingat semua perlakuan buruk keluarga Lu terhadap keluarganya bahkan disaat ia sangat membutuhkan mereka dan sekarang mereka mengatakan agar ia melupakan semuanya?!.
Dada yang berat membuatnya seperti berada di dalam air, sangat sudah bahkan untuk bernapas. Ingatan semua perlakuan sadis keluarga Lu satu persatu terputar kembali di pikiran Lu Xiang membuatnya semakin emosi, terlebih melihat Liu Peiyu dan Shi Meiyin yang tersenyum menang melihat reaksi Lu Xiang yang mereka kira adalah reaksi ketakutan.
Mata Lu Xiang memerah, semua amarah dan kebencian mendorong jiwa agar dilepaskan untuk melampiaskan semua yang ia rasakan ketika berada di keluarga Lu namun tangan mungil dan hangat istrinya menyadarkan Lu Xiang.
Ia melihat Adelia yang menatap khawatir padanya, tatapan bersih penuh cemas itu air musim semi yang dingin yang meredam semua amarah yang membara dalam hati Lu Xiang.
Lu Xiang menghirup napas dalam sebelum menatap datar pada paman dan bibinya.
"Apa kalian sudah selesai berbicara? Jika sudah, pintu keluar ada di sebelah sana".
Liu Peiyu dan Shi Meiyin tertegun. Lu Ho kembali marah akan sikap keponakan yang selalu ia remehkan.
"Kau!! Siapa yang mengajarkanmu untuk kurang aja sama saudara yang lebih tua darimu? apa kau ingin aku berteriak di depan rumah mu dan membuat semua orang tau bahwa kau keponakan yang tidak memiliki sopan santun walaupun kau seorang Xie Hsien?"
__ADS_1
Lu Xiang tersenyum remeh. "Silahkan Lu Ho. Jika kau tidak ingin Lu Huanran dipecat dari kantor walikota, silahkan lakukan itu. Oh! Aku bisa melaporkan mu pada yamen karena ingin merusak reputasi Xie Hsien, aku dengar hukumannya 30 pukulan kayu dan penjara bertahun-tahun, kau tau Lu Ho, aku punya bukti surat pemutusan hubungan".
Wajah Lu Ho dan Lu Haocun berubah pucat.