Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Ujian Hsien-shih


__ADS_3

Hari H pun tiba, Lu Xiang dan pelajar lainnya bangun lebih awal dan bersiap-siap untuk mengikuti ujian yang diadakan pada pagi hari.


Ia telah terbiasa mandi air dingin selama dua bulan terakhir agar dapat bertahan dalam ruangan ujian yang hanya disediakan selimut yang tidak tipis ataupun tidak tebal. Lu Xiang banyak mendengar bahwa banyak yang mati kedinginan ketika mengikuti ujian karena tidak tahan cuaca dingin serta ruangan ujian yang tidak memiliki pemanas seperti arang, walaupun tubuhnya berkat bantuan air sumur teratai dari Adelia namun ia tidak ingin bertaruh kesehatannya di ujian nanti.


Peserta ujian bukanlah hanya pemuda dan laki-laki dewasa yang masih prima namun juga kakek yang sudah berumur di atas 50 tahun karena menginginkan gelar sarjana karena masih belum lulus dan tetap kekeuh mengikuti ujian.


Banyak peserta yang keras kepala bertahan dalam ruangan ujian demi lulus ujian karena peserta ujian tidak boleh meninggalkan ruangan sampai waktu akhir ujian tiba walaupun sudah menyelesaikan pertanyaan jika tidak ingin di kualifikasi. Hal itu banyak terjadi di ujian kota karena banyaknya peserta yang mengikuti ujian.


Walaupun dengan kondisi mengenaskan seperti itu namun banyak yang mendaftarkan ujian demi penghormatan dan ketenaran yang akan didapat ketika lulus ujian.


Faktanya banyak pelajar yang akan mengikuti ujian mencoba simulasi lingkungan ujian seperti terbiasa memakai baju tipis atau mandi air dingin agar terbiasa dengan cuaca dingin atau meminum obat pencegah demam sebelum memasuki ujian untuk menghindari kondisi tersebut.


"Ada beberapa hal yang harus kalian perhatian sebelum memasuki ruangan ujian, kalian harus memeriksa barang-barang kalian ketika mengantri untuk mencegah niat orang jahat yang ingin menggagalkan ujian kalian, jangan minum banyak air karena orang yang pamit ke toilet akan ditandai kertas ujiannya".


"Dan yang paling penting, jawab pertanyaan yang lebih mudah terlebih dahulu untuk memanfaatkan waktu, jangan gegabah dan tetap menjaga diri agar tidak kedinginan. Apa kalian mengerti?".


"Mengerti guru Juren Zhao". Para pelajar menjawab serentak.


Zhao Fan mengangguk puas dan melepas para muridnya untuk mengikuti ujian.


Lu Xiang mengantri hingga setengah jam di cuaca dingin sebelum namanya dipanggil, beruntung Adelia menyiapkan baju pelajar dari kapas berkualitas tinggi yang dapat menjaga kehangatan tubuh untuknya sehingga cuaca dingin tidak begitu berpengaruh untuknya.


"Desa Miao, Lu Xiang!"


Lu Xiang melangkah maju dan pergi ke gerbang timur sesuai aturan seraya membawa keranjang bambu yang berisi peralatan tulis seperti kuas, tempat tinta dan batu tinta serta dua buah roti kukus dan air dalam bambu sebesar gelas dan tidak boleh ada barang lainnya. Itu sudah dijelaskan pada pendaftaran ujian beberapa bulan yang lalu.


Petugas keamanan ujian mengambil keranjang bambu dan memeriksa untuk memastikan bahwa tidak barang apapun selain yang telah diumumkan lalu menyuruh Lu Xiang membuka jaket dan baju dalaman dan memeriksa seluruh tubuhnya sebelum menyuruhnya untuk ke samping dan mulai memeriksa jaket dan baju apakah ada saku tersembunyi untuk menyembunyikan contekan atau kertas jawaban lainnya.


"Desa Yongle, Sun Shan ditemukan secarik kertas dalam roti kukus!" Suara keras laporan membuat Lu Xiang dan peserta lainnya tertegun bahkan beberapa dari mereka menjadi panik.

__ADS_1


Lu Xiang melihat dua petugas menyeret seorang laki-laki yang ketahuan membawa contekan dalam roti kukus membuat beberapa pelajar yang memiliki niat yang sama menjadi pucat dan tubuh mereka bergetar takut, namun mereka bertahan dan tetap mengantri, berharap bahwa mendapatkan keberuntungan dan lolos dari pemeriksaan namun itu sama sekali tidak terjadi.


Beberapa orang juga ikut diseret oleh petugas keamanan tanpa memperdulikan permintaan ampun dan maaf dari mereka.


Perhatian Lu Xiang teralihkan karena petugas mengembalikan jaket dan bajunya sudah diperiksa, ia memakai kembali bajunya sebelum mengikuti petugas ke dalam ruang ujian. Ia pun masuk ke dalam ruangan ujian besar yang terdapat bilik kecil yang disekat namun tak berpintu dan memeriksa nomor ujian yang ia dapatkan, beruntung ia mendapatkan ruangan depan yang jauh dari toilet.


Lu Xiang memeriksa kembali keranjang bambu yang diserahkan oleh petugas dan mendapati bahwa roti kukus sudah disobek oleh petugas ketika pemeriksaan.


Siang harinya, petugas membagikan sup dan air minum hangat sebelum ujian dimulai. Para peserta membungkuk hormat pada walikota yang hadir sebelum masuk ke dalam kamar ujian masing-masing.


"Lebih kecil daripada yang kukira" Lu Xiang bergumam melihat kamar ujian yang hanya memiliki luas 1x2 meter. Dalam kamar itu hanya ada meja kecil untuk menjawab soal.


Petugas memberikan selimut dan kertas jawaban dan kertas coret untuk draft sebelum menjawab ke kertas jawaban karena tidak boleh ada typo atau coretan yang bukan jawaban di dalamnya.


Lu Xiang mengisi nama, desa tempatnya berasal dan nomor ujiannya yaitu 203 dan menunggu pertanyaan di kertas yang ditempelkan pada kayu dan dibawa oleh petugas yang berjalan hilir mudik.


Lu Xiang mengcopy pertanyaan berupa dua soal essay tentang pembahasan buku empat klasik dan satu puisi dengan enam sajak, jawabannya tidak lebih dari 600 kata.


Malam harinya, Lu Xiang mengeluarkan roti kukus sobek yang ia simpan dalam baju dalamnya agar tidak mengeras karena dingin dan memakannya sebelum mengerjakan essay terakhir danĀ  memastikan tidak ada yang salah sebelum mengcopy jawabannya pada kertas jawaban sebelum tidur dengan tetap memakai jaket karena selimut ia jadikan sebagai matras.


Pagi harinya, Lu Xiang memeriksa kembali jawaban sembari menunggu waktu ujian berakhir, menyerahkannya pada petugas dan keluar bersama dengan peserta lainnya.


"Mati aku, aku tidak bisa menjawab essay nomor dua".


"Puisi ku terlihat sangat kaku, apa walikota akan menerimanya ya?"


Berbagai komplain dan keluhan terdengar di telinga Lu Xiang, beberapa dari mereka berlari ke penginapan untuk buang air kecil yang telah ditahan dari kemarin, begitu juga dengan Chen Xirang.


"Aku tidak akan memesan sup lagi" Gumamnya seraya pamit duluan pada Lu Xiang.

__ADS_1


Lu Xiang kembali ke penginapan dan membersihkan dirinya sebelum kembali tidur untuk menggantikan waktu tidur yang terganggu oleh suara dengkur atau suara meja yang ditendang tanpa sadar karena betapa sempitnya bilik ujian.


Sore harinya Lu Xiang bersama dengan kelompoknya melihat nomor ujian yang lulus sesi berikutnya.


"Aku lulus!" Chen Xirang berteriak girang .


"Aku juga lulus". Miao Sheng, Shao Yunan dan Zhang Yunlei juga lulus sesi pertama.


"Bagaimana denganmu Lu Xiang?".


"Aku juga lulus". Lu Xiang tersenyum kecil. Kelima orang itu bernapas lega dan tersenyum senang namun mereka tidak merayakannya dan memilih pulang untuk mempersiapkan diri untuk ujian sesi berikutnya.


Keesokan harinya, Lu Xiang menjalani rutinitas seperti kemarin, diperiksa sebelum masuk ke dalam aula dan menerima sup hangat sebelum memulai ujian di bilik masing-masing. Sesi kedua dan sesi ketiga adalah essay buku pencerahan suci yang memiliki 3000 kata, walikota Qincheng menyediakan kata kunci dan peserta ujian harus menulis paragraf dari buku pencerahan suci berdasarkan kata kunci dan penjelasan serta satu puisi dengan 5 kalimat dan 6 sajak.


Kelompok Lu Xiang juga berhasil lolos ke sesi ujian terakhir namun banyak suara komplain terdengar ketika pertanyaan sesi ke empat diarak berkeliling oleh petugas.


"Diam lah, kalian akan di kualifikasi jika membuat keributan".


Pertanyaan ujian terakhir adalah soal aritmatika yang berbelit, berbeda dengan matematika zaman modern jawaban aritmatika harus dijelaskan dengan kata-kata hingga baru menulis hasil bilangan dari jawaban, begitu rumit karena soal berbentuk psikotes.


Lu Xiang berpikir sesaat setelah mengisi nama, tempat asal dan nomor ujian dan mulai menjelaskan jawaban di kertas coret, ia beruntung belajar matematika dari Adelia yang lebih muda untuk dipelajari sehingga dapat menjawab soal yang ada di papan kayu.


Esok harinya para pelajar keluar dengan wajah pucat dan bergumam seperti orang gila karena tidak dapat menjawab atau ragu dengan jawaban mereka.


"Aku salah menjawab soal nomor tiga! Bagaimana jika aku tidak lulus" Chen Xirang mengguncang badan Lu Xiang.


"Tenanglah. Kau membuatku pusing" Lu Xiang mendorong jauh temannya, otak yang dipaksa untuk berpikir selama 8 hari ini membuatnya pusing.


"Lu Xiang. Apa kau bisa menjawabnya?" Chen Xirang tidak peduli bajunya yang kusut dan menatap penuh harap temannya juga tidak dapat menjawab.

__ADS_1


Lu Xiang merasa bersalah dan kesal melihat tatapan penuh harap itu. "Aku bisa menjawabnya".


"Ya Tuhan, habislah aku!!" Teriak Chen Xirang.


__ADS_2