
Lu Xiang melihat banyak darah yang ada di baskom serta tubuh bagian bawah Adelia yang basah dengan cairan merah itu, walaupun bau amis yang menyengat serta namun wajahnya sama sekali tidak terpengaruh dan fokus pada satu titik.
Hatinya berdegup kencang terlebih melihat istrinya yang terbaring dengan kaki yang terbuka dan mata tertutup, ia berusaha mengumpulkan tenaga di kakinya dan berjalan dengan takut.
"Tuan Xiao Xieyuan, anda tidak boleh berada disini nanti anda terkena sial" Dukun anak yang berusia hampir setengah baya segera melarang Lu Xiang namun tidak dipedulikan oleh laki-laki itu.
"Sa-sayang? sayang apa kau baik-baik saja?" Dengan tangan bergetar, ia mengambil tangan Adelia yang terasa dingin, hatinya semakin berdegup kuat, perasaan negatif dan buruk perlahan memenuhi pikiran Lu Xiang.
"Tu-tuan. Nyonya hanya tertidur karena kelelahan. Saya mohon anda untuk menunggu di luar karena kami akan membersihkan nyonya dengan cepat".
Lu Xiang merasa sangat lega mendengar ucapan sang dukun anak namun ia tetap memastikan dengan menempelkan jarinya di hidung dan merasakan napas hangat Adelia, baru hatinya yang tegang kembali tenang.
"Kalian yakin Adelia baik-baik saja kan?"
Sang dukun anak mengangguk yakin, wajahnya terlihat heran dan bingung dengan sikap sarjana Juren yang sedang terkenal tersebut. Baru kali ini ia melihat seorang suami yang begitu peduli hingga tidak peduli dirinya akan terkena sial, ia sudah mendengar bahwa Lu Xiang sangat menyayangi istirnya hingga tidak ingin memiliki selir, ia berpikir bahwa ia itu hanya trik saja karena tidak puas dengan kandidat yang datang namun sekarang ia mempercayai rumor tersebut.
"Selamat tuan Xiao Xieyuan, istri anda melahirkan anak laki-laki yang kuat dan menggemaskan. Saya yakin ia akan menjadi hebat sama seperti anda dan menjadi kebanggaan untuk anda". Sang dukun anak teringat pada tujuan awalnya dan segera melaporkan berita baik dan membahagiakan itu agar mendapatkan bonus besar.
Ia berpikir bahwa Lu Xiang akan tersenyum senang dan menjadi semangat namun respon biasa laki-laki itu membuat dukun anak itu tertegun.
"Terimakasih untuk ucapannya. Tolong bersihkan Adelia dengan hati-hati dan rawat lukanya agar tidak terjadi infeksi. Kau harus memastikan semua itu sebelum menyelesaikan tugasmu". Lu Xiang yang hanya memikirkan kesehatan istrinya tidak begitu merespon apa yang dikatakan oleh sang dukun anak selain berita tentang Adelia.
"Ba-baik tuan" Sang dukun anak meyangsikan bahwa ia akan mendapatkan bonus besar karena sikap biasa yang Lu Xiang perlihatkan namun sesaat kemudian ia kembali bersemangat karena teringat apa yang dipesankan oleh laki-laki itu.
Lu Xiang keluar dari ruangan bersalin dan menghela napas lega, ia duduk di kursi dan termenung, bayangan darah di bagian tubuh bawah istrinya terus terbayang dipikirannya, ia tidak tau bahwa melahirkan memiliki proses yang mengerikan hingga mengeluarkan darah yang sangat banyak.
"Kak Xiang. Apa kak Adel baik-baik saja?"
Lu Cheng yang sedari menunggu segera menanyakan kabar Adelia.
Lu Xiang mengangguk lemah. "Adelia baik-baik saja, ia sekarang sedang tertidur karena kelelahan".
Lu Cheng pun menghela napas lega.
Lu Mei keluar dari ruangan bersalin dengan menggendong hati-hati seorang bayi kecil dengan kulit yang merah yang sudah bersih dan dibalut oleh kain lembut dan hangat.
__ADS_1
"Tuan besar, tuan muda. Lihatlah tuan muda kecil ini, dia begitu menggemaskan".
Lu Xiang dan Lu Cheng serentak menoleh dan melihat bayi yang sedang terpejam lelap, bibir dan telinga yang mirip Adelia membuat Lu Xiang menjadi fokus sebelum teringat akan istrnya.
"Bagaimana dengan keadaan Adelia?"
"Nyonya baik-baik saja tuan besar, nyonya sudah dipindahkan ke kamar samping dan masih terlelap".
"Aku akan melihatnya. Lu Cheng, beristirahatlah ini sudah terlalu malam".
Lu Cheng yang masih tertarik melihat bayi mungil dan menggemaskan tersebut mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Lu Mei meletakkan sang bayi di tempat tidur bayi yang sudah disiapkan jauh hari dan segera keluar kamar setelah Lu Xiang masuk dan duduk di samping tempat tidur memandang istrinya.
&&&
Adelia membuka matanya dan melihat suaminya yang duduk sembari memegang tangannya, suasana yang minim cahaya membuatnya tidak bisa menerka waktu lalu mencoba bangun.
"Kau sudah bangun sayang. Apa yang kau rasakan? Apa kau baik-baik saja?".
"Ini sudah hampir fajar sayang. Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasakan sakit?". Lu Xiang membantu istrinya duduk dengan hati-hati.
"Aku tidak apa-apa" Adelia lalu mengambil botol air dari space yang berisi air sumur teratai lalu meminumnya sampai habis, berteriak dan mengejan membuat tenggorokannya terasa kering terbakar.
Lu Xiang terus memperhatikan istrinya lalu kembali bertanya paranoid. "Kau yakin baik-baik saja? Jika ada bagian yang terasa sakit, katakan lah sayang. Aku akan menyuruh Lu Cai untuk memanggil tabib".
"Aku baik-baik saja sayang. Oh bayiku. Dimana bayiku?"
Adelia mencari bayinya kesana kemari.
"Baobao bersama Lu Mei di kamar samping sayang. Baobao terbangun dua kali karena kehausan sehingga Lu Mei memindahkannya ke samping agar mudah diberi susu. Sebentar aku akan memanggilnya".
Lu Xiang kembali dengan cepat setelah memanggil Lu Mei. Perempuan berusia 20 tahun itu masuk ke kamar sembari menggendong bayi yang terlelap.
"Nyonya. Baobao sangat tampan dan menggemaskan, dia begitu penurut dan tidak rewel". Lu Mei meletakkan bayi Baobao di pangkuan Adelia lalu pamit undur diri.
__ADS_1
Tatapan Adelia seketika melembut dan terharu melihat bayi yang ia kandung selama 9 bulan 10 hari akhirnya berada di pelukannya.
"Wajahnya mirip sepertimu". Adelia menatap Lu Xiang dengan mata berkaca-kaca.
Lu Xiang menatap Baobao lalu tersenyum bahagia. "Bibir dan telinga mirip denganmu, begitu menggemaskan".
"Benarkah?" Adelia memerhatikan bibir dan telinga Baobao lalu tertawa senang karena ia juga berpikir bahwa kedua bagian itu mirip dengannya, bibir yang kecil dan merah serta daun telinga yang sedikit bulat.
Meskipun wajah anaknya masih merah dan belum berkembang namun dapat terlihat bahwa Baobao akan tumbuh menjadi pria tampan dan elegan seperti ayahnya.
"Baobao". Panggil Adelia dengan suara halus dan penuh kasih sayang, ia mengelus, mencolek pipi chubby anaknya dan tertawa senang.
Baobao akhirnya terbangun oleh sentuhan jahil ibunya dan menangis keras hingga Adelia dan Lu Xiang terkejut.
"Ada apa nyonya?" Lu Mei yang berjaga di luar segera mengetuk pintu dan bertanya gelisah.
"Baobao terbangun" Adelia merasa bersalah telah mengganggu bayi yang terlelap.
"Mungkin tuan muda kecil lapar nyonya. Saya akan siapkan susu".
"Tidak perlu. Aku akan menyusui Baobao sendiri". Adelia melepaskan kancing kain bajunya lalu menuntun anaknya untuk menyusu.
Lu Mei melihat Lu Xiang yang diam memperhatikan lalu tidak memperingatkan Adelia apapun, biasanya sang wanita tidak menyusui anaknya karena takut akan kehilangan pesona dikarenakan perubahan yang terjadi pada dada yang menurun namun mengetahui sifat majikannya, ia yakin bahwa Adelia lebih mementingkan kesehatan tuan muda kecil dibandingkan memperhatikan kecantikan, ia pun pamit kembali.
Baobao menyusu dengan insting kuat, tangisannya langsung mereda merasakan asi hangat di mulutnya membuat Adelia menjadi lega lalu menoleh pada suaminya yang hanya diam sedari tadi, tatapan Lu Xiang fokus pada bibir Baobao yang sibuk menghisap asi.
"Apa kau belum tidur sayang? wajahmu sedikit kusut. Aku minta maaf karena telah membuatmu begadang".
Fokus Lu Xiang menjadi buyar dan menatap Adelia lalu menggelengkan kepala. "Aku melakukannya karena aku mau. Jangan meminta maaf".
"Kalau begitu tidurlah. Kau pasti sangat kelelahan karena semalaman menjagaku".
"Baiklah. Aku akan mandi dulu sebelum tidur, apa kau lapar sayang? Aku akan menyuruh pelayan untuk segera menyiapkan sarapan".
Mendengar sarapan, Adelia pun merasa lapar lalu mengangguk setuju, ia tidak melihat suaminya yang kembali fokus pada dadanya yang sedang menyusui Baobao sebelum keluar dari kamar.
__ADS_1