Menjadi Istri Marquis

Menjadi Istri Marquis
Membeli rumah


__ADS_3

Ujian seleksi pun di mulai, semua peserta yang lulus ujian Hui-shih telah mempersiapkan diri dan mental menerima kenyataan bahwa mereka yang berada di peringkat bawah akan gagal dan di eliminasi.


Ujian seleksi di lakukan dua gelombang, satu gelombang hanya berlangsung satu hari dan tidak ada libur karena semua itu hanya formalitas saja. Pertanyaan ujian seleksi juga tidak cukup sulit, mereka hanya disuruh menjawab tentang buku suci konfisius dan membuat puisi sendiri.


Dan sudah dapat dipastikan bahwa Lu Xiang kembali menjadi kepala rangking yang memimpin semua peringkat, untuk ujian seleksi sendiri tidak ada penghargaan selamat dari petugas yamen.


Karena menjadi kepala rangking di dua ujian berturut-turut, Lu Xiang menjadi pusat perhatian keluarga di ibukota. Oleh karena itu, ucapan selamat dan sketsa serta informasi tentang keluarga yang mengirim lamaran sampai ke tangan Lu Xiang, semuanya menginginkan menjadi istri dari sarjana kehormatan tersebut.


"Maaf, saya sudah memiliki istri di kota Fucheng". balas Lu Xiang pada setiap lamaran yang datang kepadanya. Hal itu membuat sebagian besar keluarga yang merasa bahwa anak perempuan sah atau selir mereka pantas menjadi istri Lu Xiang menjadi mundur. Mereka tidak ingin merendahkan status keluarga dengan mengirimkan anak gadis mereka menjadi selir dari laki-laki miskin.


Namun tidak dengan Marquis Shan, ia adalah laki-laki pertama yang mengirimkan lamaran anak perempuan selirnya untuk menjadi istri sah Lu Xiang, ia berpikir bahwa dengan statusnya sebagai Marquis mengirim anak perempuan selir sudah menjadi kebanggaan tersendiri untuk Lu Xiang.


Dan ketika ia menerima balasan bahwa lamaran anak perempuannya di tolak, ia menjadi marah dan ingin bertemu secara langsung dengan Lu Xiang untuk memperingati dan mengancam laki-laki itu bahwa ini adalah ibukota bukan kota Fucheng, ia juga memperkenalkan diri sebagai bagian dari keluarga maternal pangeran keempat yaitu Murong Xianxian.


Namun berita dari anak buah Murong Xianxian yang mengetahui bahwa Kaisar membangun kincir yang berasal dari ide yang Lu Xiang tuliskan di kertas jawaban membuat Marquis Shan berubah pikiran karena teguran dan pesan dari pangeran keempat untuk tidak menjadikan laki-laki itu menjadi musuh.


Akhirnya Marquis Shan memilih untuk pergi ke rumah sewa Lu Xiang dan temannya dan menyetujui anak perempuannya untuk menjadi selir Lu Xiang walaupun laki-laki itu sudah menolak lamaran yang ia kirim sebelumnya.


"Dimana Lu Xiang?, panggil dia. Bilang kalau Marquis Shan ingin bertemu dengannya". Ucap pelayan Marquis dengan angkuh.


Marquis Shan yang berdiri di belakang langsung melangkah masuk sebelum Lu Cai memperbolehkannya. 


"Ma-maaf tuan Marquis, tuan besar sedang pergi dan tidak ada di rumah".


"Dia sedang tidak ada di rumah? Kalau begitu panggil dia. Beraninya dia tidak menghargai keluarga bangsawan seperti Marquis, apa dia tidak tau bahwa keluarga Marquis adalah keluarga maternal pangeran keempat?!".

__ADS_1


Wajah Lu Cai berubah menjadi pucat, kakinya menjadi lemah dan hampir jatuh berlutut namun ia sendiri tidak tau kemana tuan besarnya pergi!!.


"Hamba tidak tau tuan besar pergi kemana tuan Marquis, mohon ampuni hamba". Lu Cai segera bersimpuh dengan ketakutan.


Marquis mendengus gusar dan duduk menunggu namun ia tidak sabar dan menjadi terhina karena menunggu orang yang statusnya lebih rendah padanya sehingga ia akhirnya berpesan untuk Lu Xiang menemuinya di kediaman Marquis dan pergi dengan kesal.


Lu Xiang yang Marquis Shan cari sedang berkeliling kota Shenyang bagian dalam untuk mencari rumah dan berkunjung melihat toko yang diberikan oleh Kaisar, toko tersebut berada di tengah kota bagian dalam kota Shenyang yang sangat trategis.


Toko tersebut memiliki luas dua kali lipat daripada toko De Xiang di Fucheng, tidak hanya itu toko tersebut juga terdapat dua rumah di belakangnya yang dapat ditinggali oleh pegawai toko, satu rumah utama yang memiliki 4 kamar dan satu lagi rumah sedang yang memiliki dua kamar.


Setelah puas melihat isi dalam toko, Lu Xiang akhirnya mencari rumah yang dekat dengan toko tersebut agar Adelia tidak perlu membuang banyak waktu di jalan namun setelah satu jam mencari informasi, ia tidak menemukan rumah apapun yang sesuai kriteria yang ia inginkan. Rumah yang dijual antara rumah yang dekat pusat kota yang bising dan rumah yang ada di pinggiran kota namun kecil.


"Tuan sarjana kehormatan! kita bertemu lagi". Ye Hemin yang sedang berjalan santai menikmati keramaian ibukota melihat Lu Xiang dan menyapanya dengan antusias.


Ye Hemin tertawa kecil. "Apa yang sedang anda lakukan sendirian tanpa pelayan tuan sarjana kehormatan?".


Lu Xiang sedikit menyerngit, pertanyaan privasi itu tidak pantas ditanyakan oleh orang yang baru bertemu dengan kali namun ia tetap menjawab jujur. "Aku sedang mencari rumah".


"Oh ya? Kebetulan aku mengetahui agen yang memiliki informasi rumah yang sedang dijual. Kau perlu bantuanku sarjana kehormatan?".


Lu Xian diam sesaat, tawaran tersebut begitu menggiurkan karena sangat tidak mudah mendapatkan informasi yang akurat tentang penjualan rumah karena tidak memiliki background apapun. "Benarkah? Anda ingin membantuku tabib Ye?".


"Tentu saja, pertemuan kita yang kedua menandakan bahwa kita sudah bertakdir jadi aku membantu anda jika anda berkenan".


Lu Xiang merinding mendengar kata takdir dari mulut Ye Hemin, matanya menatap aneh dan menilai apakah laki-laki di hadapannya memiliki hobi yang tidak biasanya.

__ADS_1


Tatapan penuh penilaian dan curiga itu membuat urat kepala Ye Hemin bermunculan karena begitu kesal dan speechless, ia bermaksud untuk membantu karena cepat atau lambat Lu Xiang pasti akan masuk ke dalam fraksi putra mahkota namun reaksi sialan ini membuatnya merasa ingin menendang ketulusan yang baru saja ia rasakan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak mau aku bantu, kalau begitu...". Merasa begitu kesal membuat Ye Hemin tanpa sadar mengeluarkan sifat aslinya yaitu perasaan angkuh yang biasa dimiliki oleh anak bangsawan.


"Tabib Ye, tentu saja aku sangat berkenan. Ayo kita pergi tabib Ye?". Mata Lu Xiang bersinar misterius, ia sudah bertemu dengan banyak jenis sarjana dan kalangan, terlebih setelah tiba di ibukota dan mengikuti ujian bersama dengan sarjana dari berbagai kalangan. Ia yakin bahwa Ye Hemin bukan tabib biasanya, temperamen yang laki-laki itu keluarkan seperti anak bangsawan yang ia lihat selama berada di ibukota.


Ye Hemin mendengus gusar, ia mengepakkan lengan baju yang besar dan panjang dan melangkah dengan angkuh, percuma saja berakting dengan Lu Xiang, sinar tajam di mata laki-laki membuatnya yakin bahwa ia mulai mencurigai latar belakangnya.


Kedua pergi toko kedai teh, Ye Hemin memanggil seseorang dan memperkenalkan pada Lu Xiang.


"Perkenalkan ini Ming Baixin, dia orang yang ahli dalam mencari informasi dan mengetahui banyak informasi yang beredar di ibukota".


"Senang bertemu denganmu Xiao Xieyuan".


"Senang bertemu denganmu gongzhi". Melihat temperamen bak bangsawan Ming Baixin, Lu Xiang memutuskan untuk memanggil gongzhi walaupun pakaian yang ia kenakan hanya hanfu biasa.


Ming Baixin melirik Ye Hemin lalu tertawa kecil, ia lalu memperkenalkan rumah mana saja dijual oleh pemiliknya, ketiganya pergi ketiga rumah yang Ming Baixin rekomendasikan. Setelah melihat dan menilai, Lu Xiang akhirnya memilih membeli rumah di pinggiran kota Shenyang bagian dalam yang tidak terlalu jauh dari toko miliknya.


Rumah tersebut memiliki 5 rumah, 1 rumah utama yang cukup besar dan 4 rumah  sampingan, rumah tersebut juga memiliki halaman depan, samping dan belakang yang cukup luas sehingga dapat membuat acara di dalamnya.


"Terimakasih Ming Baixin, terimakasih tabib Ye. Kalian sangat membantuku hari ini. Kalau tidak keberatan, aku ingin mentraktir kalian berdua untuk minum sebagai balasan atas bantuan kalian".


"Tidak masalah".


"Ayo kita pergi".

__ADS_1


__ADS_2